Viral Burung Hantu Ditembak Mati di NTT, Padahal Bisa Bantu Petani

ADVERTISEMENT

Viral Burung Hantu Ditembak Mati di NTT, Padahal Bisa Bantu Petani

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Minggu, 25 Jan 2026 18:00 WIB
Burung hantu Tyto alba.
Burung hantu Tyto alba. Foto: Picture by M0tty (lisensi Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International)
Jakarta -

Viral burung hantu ditembak mati di NTT. Padahal, burung hantu dapat membantu petani dalam mengendalikan hama.

Burung hantu yang ditembak itu diketahui bernama ilmiah Tyto alba. Selama ini, burung hantu ini banyak dijumpai di area persawahan.

Namun, peran ekologis itu seolah luput dari perhatian dalam sebuah peristiwa yang terjadi di Dusun Nela, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir detikBali, burung tersebut ditembak menggunakan senapan angin hingga mati pada Rabu (14/1/2025) malam. Aksi itu direkam oleh saksi dan kemudian diunggah ke media sosial hingga menuai perhatian serta keprihatinan masyarakat.

"Terduga pelaku diketahui merupakan warga setempat yang merasa terganggu oleh keberadaan burung hantu jenis Tyto alba di sekitar rumahnya," ungkap Henry Novika Chandra, Kabid Humas Polda NTT, Rabu (21/1/2026).

ADVERTISEMENT

Henry mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi persoalan satwa liar dan lingkungan serta tidak mengambil tindakan sendiri yang berpotensi menimbulkan persoalan hukum.

"Kami mengimbau masyarakat agar menyampaikan setiap permasalahan yang berkaitan dengan satwa atau lingkungan kepada pihak berwenang. Polri siap hadir memberikan solusi terbaik demi keamanan, ketertiban, dan kelestarian lingkungan bersama," ucapnya.

Apa Itu Burung Hantu Tyto alba?

Burung hantu Tyto alba.Burung hantu Tyto alba. Foto: Steve Garvie via Wikimedia Commons

Burung hantu Tyto alba dikenal juga sebagai serak Jawa. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dalam laman resminya mendeskripsikan panjang tubuh burung ini berkisar 32-40 cm.

Warna bulu burung hantu Tyto alba didominasi putih, dengan cokelat muda pada bagian sayap dan puncak kepala. Ciri khas lainnya adalah wajah berbentuk hati, kaki jenjang bercakar kuat, serta paruh putih kekuningan yang melengkung ke bawah.

Selain ciri morfologinya, serak Jawa juga memiliki perilaku yang khas. Burung ini termasuk spesies nokturnal yang aktif pada malam hari dan dikenal memiliki suara unik saat terbang, sehingga dijuluki burung hantu.

Burung ini dikenal sebagai spesialis pemburu berbagai jenis mangsa, mulai dari burung lain hingga mamalia darat. Sebagian besar mangsanya berupa hewan pengerat kecil.

Burung Hantu Kendalikan Tikus

Predator alami ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Di kawasan pertanian, burung ini membantu petani dengan memangsa hama seperti tikus yang kerap merusak tanaman.

Dikutip dari unggahan Instagram Badan Perakitan dan Modernaisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian, satu ekor burung hantu dewasa bisa membunuh lebih dari 10 ekor tikus per hari dan makan 2-4 ekor tikus per hari.

Burung hantu bisa mendeteksi suara tikus dari jarak 500 meter. Burung ini juga bisa terbang di wilayah sekitarnya sejauh 12 km.

Peneliti Ahli Madya sekaligus Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha, mengatakan Tyto alba turut mengonformasi kemampuan memangsa tikus dalam jumlah signifikan di alam terbuka. Seekor burung hantu dewasa bahkan mampu memakan beberapa ekor tikus dalam satu malam.

Ia menggarisbawahi, keberadaan burung hantu perlu didukung manusia jika terjadi ledakan populasi tikus atau outbreak. Dalam hal ini, manusia bisa mengombinasikan berbagai metode, seperti tindakan mekanik melalui grobyokan, pengemposan sarang, hingga penerapan sistem trap barrier sebagai langkah preventif.


"Pendekatan terpadu ini menjadi kunci agar populasi tikus bisa ditekan dengan cepat sebelum kembali stabil dengan bantuan predator alami," ujarnya dalam laman BRIN, dikutip Jumat (23/1/2026).

Perlu Pengelolaan dan Pemantauan Populasi

Yudhistira juga mengingatkan, penggunaan burung hantu sebagai pengendali hama tetap memerlukan pengelolaan yang cermat.

Jika populasi Tyto alba tidak diatur dan ketersediaan mangsa utamanya menipis, burung ini berpotensi memangsa spesies lain, seperti burung kecil, kelelawar, hingga ternak berukuran kecil.

"Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lokal. Karena itu, diperlukan pemantauan serta pengaturan populasi secara berkelanjutan," jelasnya.

Cara Bantu Konservasi Burung Hantu

Ia menjelaskan, agar burung hantu lestari dan perannya makin efektif, petani bisa membuatkan atau menyediakan rumah burung hantu (rubuha). Bentuknya seperti sarang kotak di atas tiang setinggi 4-5 meter yang dipasang di lahan pertanian.

Yudhistira mengatakan, burung hantu Tyto alba tidak membangun sarang sendiri. Karena itu, rubuha jadi penting bagi burung ini untuk menetap dan bantu mereka berkembang biak.

Setiap rubuhan bisa dipasang dengan jarak 100-200 meter. disesuaikan dengan luas lahan. Dengan begitu, wilayah jelajah antarburung yang sekitar 12-25 hektar per pasang tidak jadi tumpang tindih.



(crt/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads