Perubahan perangkat nama negara dalam bahasa Indonesia seperti Thailand menjadi Tailan kini tertuang dalam dokumen eksonim resmi yang disusun Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama para ahli linguistik Indonesia dari Badan Bahasa dan Universitas Indonesia, dan dokumen itu telah didaftarkan ke United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN).
Dalam dokumen ini terdapat daftar nama semua negara di dunia versi bahasa Indonesia untuk digunakan secara konsisten di peta, kamus, buku pelajaran, dokumen resmi, serta berbagai komunikasi publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guru Besar Geolinguistik Universitas Indonesia, Prof. Dr. Multamia R.M.T. Lauder, S.S., Mse., D.E.A menegaskan bahwa penyesuaian nama asing bukanlah sekadar pilihan bebas, tetapi merupakan bagian dari kaidah bahasa yang dipegang secara ilmiah.
"Kalau ada kata asing masuk ke dalam khazanah bahasa Indonesia, ya harus tunduk dengan konstruksi bunyi bahasa Indonesia," ungkap Multamia dalam wawancara bersama tim detikEdu, Rabu (21/01/2025).
Dari Belanda sampai Tailan: Menamai Dunia dengan Bahasa Sendiri
Dalam studi toponimi, istilah eksonim digunakan untuk menyebut nama tempat di luar wilayah negaranya yang dapat berbeda dari nama asli atau endonimnya. Contohnya, Belanda untuk The Netherlands, Selandia Baru untuk New Zealand, atau Mesir untuk Egypt.
Menurut penjelasan resmi UNGEGN, setiap negara memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan eksonim sebuah nama tempat berdasarkan bahasanya, selama digunakan secara konsisten. Berdasarkan prinsip eksonim, nama negara kita juga dituliskan dalam berbagai versi sesuai eksonim dari bahasa tertentu.
Sebagai contoh, Indonesia disebut IndonΓ©sie dalam bahasa Prancis, atau Indoneshia dalam bahasa Jepang. Hal inilah yang menjadi dasar bagi BIG dalam menyusun Daftar Eksonim Bahasa Indonesia, yang di dalamnya termasuk bentuk Tailan.
Dalam situs resminya, BIG menjelaskan bahwa daftar tersebut disusun melalui koordinasi ketat antara Badan Informasi Geospasial, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dan pakar Toponimi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia sebelum dikirimkan ke UNGEGN di New York.
Menurut Multamia, nama-nama tersebut bukanlah "penggantian," melainkan adaptasi atau penyesuaian bentuk linguistik agar sesuai dengan konstruksi sistem bahasa Indonesia.
Bagaimana Indonesia Membentuk Eksonimnya?
Penetapan bentuk eksonim di Indonesia dilakukan melalui proses linguistik yang mempertimbangkan pelafalan bunyi, ejaan, hingga kemungkinan penerjemahan makna. Multamia menjelaskan bahwa sistem ini telah menjadi praktik kebahasaan yang diakui dan dilaksanakan secara global.
"Penentuan eksonim itu bisa dilakukan melalui beberapa cara. Dapat berupa penyesuaian konstruksi bunyinya, konstruksi ejaannya yang sesuai dengan bahasa kita, atau dengan nama yang lain sama sekali, atau bahkan dengan menerjemahkan," ujarnya.
Proses tersebut menjelaskan mengapa dalam bahasa Indonesia, Thailand menjadi Tailan (ada proses penyesuaian konstruksi bunyi dan ejaan), The Netherlands menjadi Belanda (ada proses pemberian nama yang lain sama sekali), atau New Zealand menjadi Selandia Baru (ada proses penerjemahan). Kesemua bentuk itu sah karena mengikuti sistem fonotaktik dan morfologi bahasa Indonesia.
Dengan demikian, pembentukan eksonim bukan hanya mencerminkan kemandirian linguistik dan identitas kebangsaan sekaligus menunjukkan bahwa bahasa Indonesia juga dapat menegaskan cara pandangnya sendiri terhadap dunia, lewat penetapan nama yang terasa akrab di telinga penuturnya.
(rhr/twu)











































