Ilmuwan Temukan Lebih dari 1.000 Bakteri dan Mikroba Baru di Tanah Amerika

ADVERTISEMENT

Ilmuwan Temukan Lebih dari 1.000 Bakteri dan Mikroba Baru di Tanah Amerika

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 21 Jan 2026 08:30 WIB
Ilmuwan Temukan Lebih dari 1.000 Bakteri dan Mikroba Baru di Tanah Amerika
ilustrasi mikroba. Foto: thinkstock
Jakarta -

Tanah menyimpan lebih banyak kehidupan daripada yang bisa dilihat mata manusia. Sebuah proyek raksasa yang melibatkan sekitar 150 ilmuwan dan mahasiswa di Amerika Serikat kini sedang berupaya memetakan kehidupan mikroskopis yang tersembunyi di bawah permukaan bumi.

Dikutip dari Phys.org, tim ilmuwan dari Johns Hopkins University dan puluhan institusi lain membentuk konsorsium BioDiversity and Informatics for Genomics Scholars (BioDIGS), proyek besar yang disebut-sebut sebagai salah satu studi mikrobioma terbesar yang pernah dilakukan.

Hasil awalnya sudah mengungkap lebih dari 1.000 strain bakteri baru dan mikroba yang belum pernah dilihat sebelumnya, meski jumlah itu masih tergolong "setetes air di lautan mikroba."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tanah adalah lingkungan paling aktif secara biologis di Bumi, tetapi kita baru menyentuh sebagian kecil dari kehidupan yang ada di dalamnya," ujar Michael Schatz, profesor genomika dari Johns Hopkins University yang juga salah satu penulis utama studi ini.

Memetakan "Dark Matter" Kehidupan di Dalam Tanah

Melansir laporan yang sama, tanah merupakan habitat paling beragam di planet ini, menjadi rumah bagi lebih dari setengah spesies yang diketahui di dunia, mulai dari tumbuhan dan cacing hingga jutaan jenis bakteri, archaea, dan jamur mikroskopis.

ADVERTISEMENT

Namun, para ilmuwan memperkirakan 99 persen mikroorganisme tanah belum pernah dipelajari. Mereka menyebutnya sebagai microbial dark matter, atau materi gelap mikroba.

"Kekosongan pengetahuan soal keragaman mikroba ini hanya bisa diisi dengan kerja sama jaringan ilmuwan dan mahasiswa di seluruh negeri," kata Schatz.

BioDIGS mencoba menembus misteri itu dengan pendekatan yang tak pernah dilakukan sebelumnya dengan cara mengumpulkan sampel tanah dari lebih dari 40 lokasi berbeda di Amerika Serikat, mulai dari taman kota hingga padang rumput liar. Setelah itu, mereka menganalisis DNA-nya dengan teknologi sekuensing terbaru yang sama canggihnya dengan yang digunakan untuk memetakan genom manusia.

Dari Baltimore ke Dakota: Tanah Jadi Laboratorium Hidup

Riset ini juga melibatkan pendidikan dan publik. Mahasiswa dari berbagai universitas ikut terjun langsung mengambil sampel tanah, mulai dari taman bermain, area kampus, hingga wilayah industri tercemar.

Di United Tribes Technical College (UTTC), North Dakota, misalnya, mahasiswa mengumpulkan sampel tanah di area terbuka kampus yang rencananya akan dikembangkan.

"Mahasiswa kami punya hubungan yang sangat dekat dengan tanah. Proyek ini memberi mereka kesempatan untuk memahami kehidupan mikroskopis yang menghuni tanah dan belajar secara holistik tentang bumi yang menopang kita," kata Emily Biggane, dosen riset UTTC, dikutip dari Phys.org.

Dengan begitu, proyek ini disebut telah memperluas jangkauan sains karena melibatkan lebih dari 100 mahasiswa dalam penelitian nyata tentang genetik mikroba.

Membangun Generasi Baru Ilmuwan Genomika

Selain menghasilkan data ilmiah, proyek BioDIGS juga berperan besar dalam pendidikan dan regenerasi ilmuwan muda. Lebih dari seratus mahasiswa kini terlibat aktif, baik dalam pengambilan sampel, analisis DNA, maupun pemetaan genom mikroba.

"Mahasiswa bisa menjadi ilmuwan data yang sangat andal," ujar Schatz. "Mereka membantu membangun referensi genom, memindai dan mengidentifikasi gen. Kami tahu kami tidak bisa melakukannya sendirian."

Dengan dukungan teknologi DNA modern dan kolaborasi nasional, BioDIGS diharapkan bisa membuka jalan bagi pemahaman lebih dalam tentang bagaimana tanah memengaruhi ekosistem, kesehatan manusia, dan perubahan iklim.

Hasil studi tulisan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Genetics dengan judul "Unearthing soil biodiversity through collaborative genomic research and education", 29 Desember 2025.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads