3 Inovasi Penting Ini Lahir dari Riset yang 'Gagal', Apa Saja?

ADVERTISEMENT

3 Inovasi Penting Ini Lahir dari Riset yang 'Gagal', Apa Saja?

Devita Savitri - detikEdu
Rabu, 21 Jan 2026 08:00 WIB
3 Inovasi Penting Ini Lahir dari Riset yang Gagal, Apa Saja?
Ada tiga inovasi penting di dunia lahir dari riset yang sebelumnya disebut gagal. Cek daftarnya dari Ditjen Risbang Kemdiktisaintek. Foto: iStock
Jakarta -

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, menjadi kata-kata motivasi yang tak asing lagi. Tak ada satu manusiapun yang tahu bila keberhasilan akan datang di kemudian hari, jika detikers menyerah pada satu kegagalan.

Proses gagal bisa terjadi di setiap bidang, termasuk juga dunia riset. Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Risbang Kemdiktisaintek) membenarkannya.

Dunia riset dan pengembangan (R&D) tak melulu soal keberhasilan instan. Namun, riset juga tentang sebuah ketekunan dan kejelian melihat peluang di balik setiap proses.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini membuktikan bahwa dalam riset, tidak ada data yang sia-sia," tulis Ditjen Risbang dalam postingan Instagram resminya.

Ditjen Risbang menyoroti ada tiga inovasi penting dunia lahir dari riset yang gagal. Apa saja? Berikut daftar selengkapnya.

ADVERTISEMENT

3 Inovasi dari Riset yang 'Gagal'

1. Penemuan Lampu

Penemu lampu, Thomas Alva Edison gagal 10 ribu kali dalam proses penelitiannya. Ia telah mencoba lebih dari 6 ribu jenis material untuk membuat filamen lampu, dari serat bambung hingga rambut kuda.

Meski sudah 10 ribu kali gagal, Edison tidak berhenti, hingga pada 1879 ia berhasil. Edison berhasil menciptakan lampu pijar praktis yang menjadi tonggak penting dalam sejarah teknologi listrik.

Penemuan Edison juga membuka pintu dalam penggunaan listrik di rumah, perkantoran, dan industri. Bayangkan bila ia menyerah, mungkin kita kini masih hidup dalam kegelapan, detikers!

2. Bahan Antibiotik

Pada 1928, Alexander Fleming menemukan suatu hal yang menarik perhatiannya kala kembali dari liburan. Hal tersebut adalah kontaminan yang tumbuh pada cawan petri bakteri staphylococcus.

Fleming mengamati, kontaminan tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri di sekitarnya. Setelah diidentifikasi, Fleming mengidentifikasinya sebagai jamur Penicillium notatum (kini P. chrysogenum).

Jamur ini dapat menghasilkan cairan penisilin yang sangat berguna dalam dunia kedokteran dan kesehatan. Cairan penisilin itu kini digunakan secara luas sebagai bahan obat antibiotik.

3. Post-It Notes

Peneliti Spencer Silver melakukan sebuah studi pada 1968 tentang lem super kuat. Sayangnya, eksperimen yang dilakukan Silver tidaklah berhasil.

Alih-alih hadir lem yang dapat membuat benda apapun menempel, ia justru menghasilkan lem berdaya rekat rendah. Lem itu bisa menempel dan dilepas tanpa merusak permukaan.

Kendati demikian, produk 'gagal' ini kemudian terus dikembangkan dan dimanfaatkan. Saat ini, penemuan Spencer Silver dimanfaatkan sebagai perekat kertas yang detikers kenal sebagai Post-It Notes.

Berkaca dari tiga kegagalan riset di atas, Ditjen Risbang mengimbau agar para peneliti Indonesia tak perlu takut mencoba dan gagal. Berangkat dari kegagalan, produk dengan sifat kebaruan (novelty) kadang bisa tercipta.

"Sejarah membuktikan bahwa terobosan dunia dapat muncul dari 'kegagalan' yang diamati dengan teliti dan rasa ingin tahu yang besar," tegasnya.




(det/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads