Anak Sulit Mandiri? Studi Ungkap Potensi Sebab dan Solusinya

Anak Sulit Mandiri? Studi Ungkap Potensi Sebab dan Solusinya

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Minggu, 18 Jan 2026 06:00 WIB
Anak Sulit Mandiri? Studi Ungkap Potensi Sebab dan Solusinya
Studi peneliti NC State menunjukkan, ada sikap dan perilaku orang tua yang bisa menghambat perkembangan karier anak di tahap dewasa muda. Begini solusinya. Foto: iStock
Jakarta -

Sebuah studi terbaru dari North Carolina State University (NC State) menemukan, orang tua yang terlalu terlibat dalam kehidupan anaknya saat menginjak tahap dewasa muda justru dapat menghambat perkembangan profesional mereka.

Penelitian ini menganalisis lebih dari 2.600 individu berusia 18-28 tahun. Hasilnya, peneliti menemukan, mereka yang masih mendapat keterlibatan intens dari orang tua cenderung memiliki pekerjaan kurang prestisius dibanding rekan sebayanya yang lebih mandiri.

"Sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa investasi orang tua pada masa kanak-kanak dan remaja memberikan hasil positif," kata Anna Manzoni, profesor sosiologi di NC State sekaligus salah satu penulis studi, dikutip dari laman kampus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun, penelitian kami menunjukkan adanya pergeseran peran orang tua ketika anak beranjak dewasa muda. Pada tahap ini, keterlibatan yang terlalu besar justru bisa menghambat kemampuan anak untuk mandiri," lengkapnya.

ADVERTISEMENT

Terlalu Dekat, Terlalu Mengikat

Penelitian ini menggunakan data dari Transition to Adulthood Supplement survey, bagian dari Panel Study of Income Dynamics yang memantau responden selama hampir satu dekade. Para ilmuwan meneliti dua konsep utama, yaitu modal sosial keluarga (family social capital) dan prestise pekerjaan (occupational prestige).

Modal sosial keluarga merujuk pada norma, informasi, serta dukungan yang diberikan orang tua melalui interaksi sehari-hari. Sementara itu, prestise pekerjaan diukur berdasarkan tingkat pendidikan dan pendapatan rata-rata dari suatu profesi.

Hasil analisis menunjukkan, tingkat 'ikut campur' keluarga yang terlalu tinggi berkorelasi negatif dengan prestise pekerjaan anak muda. Sebaliknya, tingkat keterlibatan keluarga yang rendah justru memberi pengaruh positif pada prestise pekerjaan anak-anaknya.

Peneliti mengaku terkejut atas temuan tersebut.

"Kami berulang kali memeriksa data kami karena hasilnya terasa berlawanan dengan sebagian besar penelitian sebelumnya. Namun ternyata, dalam masa transisi menuju kedewasaan, terlalu banyak keterlibatan justru dapat membatasi pertumbuhan profesional," ungkap Tom Leppard, peneliti pascadoktoral di Data Science and AI Academy NC State.

Waktu untuk Melepas, Bukan Mengendalikan

Para peneliti menekankan, ketika anak-anak memasuki masa dewasa muda, peran orang tua perlu bergeser dari pengendali menuju pendukung. Sebagai seorang pendukung, "orang tua memberi ruang untuk kemandirian.

"(Hal tersebut) memungkinkan anak-anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri, membuat kesalahan, dan menghadapi pasar tenaga kerja sendiri," ujar Manzoni.

Ia mengatakan, ikatan keluarga yang kuat bisa jadi berbuah di masa depan. Namun, hal ini juga bisa berdampak pada lambatnya pencapaian karier anak di usia muda.

Penelitian ini juga bisa membuka pertanyaan baru mengenai mengapa sebagian orang tua tetap terlibat intens ketika anak mereka sudah dewasa, sementara yang lain tidak? Faktor sosial, ekonomi, hingga budaya mungkin ikut berperan.

Hasil studi yang berjudul "Bonding Ties That Get Ahead?: Family Social Capital and Early Occupational Attainment" ini dipublikasikan dalam Journal of Youth Studies, 31 Desember 2025.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads