Kisah 'Mahasiswa Senior' di Inggris, Pilih Keluar Kerja dan Kembali ke Kampus

ADVERTISEMENT

Kisah 'Mahasiswa Senior' di Inggris, Pilih Keluar Kerja dan Kembali ke Kampus

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 08 Jan 2026 19:00 WIB
Kisah Mahasiswa Senior di Inggris, Pilih Keluar Kerja dan Kembali ke Kampus
Ilustrasi sarjana. Kisah pekerja top di Inggris yang memilih keluar dan berkuliah lagi. Foto: Getty Images/iStockphoto/nirat
Jakarta -

Ada tren pendidikan baru yang terjadi di negeri mendingan Ratu Elizabeth, Inggris. Di mana, banyak pekerja profesional yang memilih untuk berhenti kerja dan memilih kembali kuliah meski usia mereka sudah 40 tahun.

Meski biaya pendidikannya sangat mahal yakni lebih dari Β£10.000 atau lebih dari Rp 225 juta per tahun untuk mengejar gelar MA (Magister/S2), para pekerja ini tidak masalah. Mereka memilih berkuliah untuk mencari sesuatu yang lebih stabil, bermakna, dan layak dibanding pekerjaan sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena Mahasiswa Senior di Inggris

Mengutip laman Independent, tercatat lebih dari 244 ribu mahasiswa senior terdaftar di kampus-kampus Inggris pada 2022. Menurut Badan Statistik Pendidikan Tinggi Inggris, jumlah mahasiswa yang berusia 30 tahun ke atas meningkat tiap tahunnya.

Bidang studi yang diambil kebanyakan adalah kesehatan, pendidikan, dan bisnis. Salah satu sosok yang juga menempuh jalan ini adalah Lotte Jeffs, editor majalah (Elle) dan penulis empat buku.

ADVERTISEMENT

Jeffs mengambil bidang studi psikoterapi setelah kariernya yang sukses membawa banyak kecemasan. Ketika mulai berkuliah, ia merasa 'lega' karena memiliki rencana dan berupaya menuju karier yang baru.

Langkah Jeffs untuk kuliah lagi menurutnya sebagai pilihan demi keamanan jangka panjang. Meski belum pasti, ia menganggapnya sebagai pembelajaran psikoterapi yang di mana ini merupakan bidang kuliahnya.

"Keputusan saya untuk berkuliah ulang muncul setelah setahun yang penuh tekanan profesional. Proposal buku non-fiksi saya tidak laku (jika Anda bukan selebriti atau influencer, menerbitkan apa pun saat ini terasa sangat tulis," katanya.

AI 'Makan' Banyak Bidang Pekerjaan

Sebagai sosok yang bekerja di bidang penulisan, artificial intelligence (AI) sangat menjadi musuh utama. Penyebaran AI yang cepat menyebabkan sebagian besar penulis, editor, dan konsultan penulisan yang sebelumnya dibayar tinggi, tiba-tiba menghilang dalam semalam.

Sebelum AI datang, Jeffs hidup dengan nyaman meski bekerja sebagai freelancer. Namun, tiba-tiba AI datang menyapunya dan membuat Jeffs harus meminjam uang bahkan dari ibunya untuk hidup.

"Saya masih menerima pesanan untuk menulis, tetapi seperti yang akan dikatakan oleh jurnalis mana pun di Inggris, itu saja (bayarannya) tidak akan cukup untuk membayar cicilan rumah," ungkap Jeffs.

Sempat jadi posisi senior di industri kreatif, sulit bagi Jeffs untuk melamar pekerjaan. Pekerjaan sebagai pemimpin di bidang media sangatlah langka, untuk itu ia sulit kembali setelah melepas semuanya.

Ia sempat menyingkirkan ego dan melamar pekerjaan di bidang lain yang jauh dari pengalaman dan tingkat gaji sebelumnya. Sayangnya, ia bahkan ditolak untuk posisi paruh waktu di sebuah kafe di Inggris.

Melihat keadaan ini, Jeffs sadar ia tidak bisa terus berdiri diam pada kondisinya. Untuk itu, ia memilih kuliah lagi untuk mengembalikan rasa makna kehidupan di saat segalanya terasa suram bagi Jeffs.

Kehadiran AI di segala bidang memang tidak bisa dihindari. Di bidang yang tengah dipelajarinya, ChatGPT juga hadir untuk tempat curhat banyak orang.

Kendati demikian, ia yakin manusia tidak bisa digantikan oleh robot. Meskipun sistem tersebut sangat canggih, Jeffs percaya masih ada orang yang rela membayar untuk bertemu dengan terapis manusia yang terlatih.

"Setidaknya, itulah yang saya dan mahasiswa senior MA lain katakan pada diri kami sendiri," ungkapnya.

Upaya Membangun Masa Depan yang Lebih Tangguh

Sempat khawatir jadi mahasiswa tertua, nyatanya hal itu tidak terjadi. Di kelasnya ada mahasiswa yang berusia dari awal 30-an hingga pertengahan 60-an. Mereka berasal dari berbagai bidang, seperti hukum, guru, teknologi, dan jurnalisme.

Alasan para mahasiswa senior ini untuk kembali berkuliah juga beragam, dari pengasuhan anak, kelelahan kerja, pemutusan hubungan kerja, dan karena tengah berduka cita. Dengan kuliah lagi, mereka berharap akan mempelajari suatu hal baru.

Hal baru ini diharapkan bisa membantu mereka membangun masa depan yang lebih tangguh dibanding masing depan yang mereka rasakan saat ini. Setelah berkuliah setahun, para mahasiswa senior ini menjadi sangat dekat.

Kini mereka tengah merasakan nikmat dan gembiranya belajar dengan tengah, mengirimkan esai tanpa khawatir tanpa memikirkan dampaknya, belajar membaca secara perlahan lagi, dan kembali mengasah kemampuan analitis diri sendiri.

Meski terkadang Jeff merasa berbeda dengan mahasiswa S1 di Universitas London yang berpakaian sangat mewah dan berbicara tentang jet pribadi dan busana haute couture saat antre di kantin. Ia juga sering dikira dosen dan dimintai petunjuk arah.

Kembali kuliah di usia 42 tahun menurut Jeff bukanlah kegagalan, melainkan sebuah tren baru. Seiring dengan peningkatan pengangguran dan sulitnya media berperang di TikTok dan AI, tak mengherankan bila mereka bertanya-tanya soal keterampilan mereka.

"Tidak mengherankan jika beberapa orang paling berbakat di industri bertanya-tanya bagaimana keterampilan mereka dapat dialihkan dan (memilih) kembali kuliah untuk memulai babak kedua," ungkapnya.



(det/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads