Sebuah universitas di Prancis memiliki mahasiswa yang cukup unik. Kampus Sciences Po Saint-Germain ini diketahui menjadi tempat mata-mata belajar.
Profesor universitas tersebut, Xavier Crettiez, mengakui dirinya tidak mengetahui nama asli mahasiswa di kelasnya.
"Saya jarang mengetahui latar belakang agen intelijen ketika mereka dikirim untuk mengikuti kursus, dan saya ragu nama-nama yang diberikan kepada saya itu asli," katanya dalam BBC dikutip Kamis (8/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kampus ini mungkin terlihat seperti kampus pada umumnya. Berada di pinggir kota Paris, kampus tersebut berdiri di dekat jalanan yang padat.
Perbedaan kampus ini dengan kampus lainnya adalah kelas yang menggabungkan mahasiswa umum, dan anggota aktif dinas intelijen Prancis. Program ini dikenal dengan nama DiplΓ΄me sur le Renseignement et les Menaces Globales, yang diterjemahkan sebagai Diploma Intelijen dan Ancaman Global.
Kampus Sciences Po Saint-Germain-en-Laye di Prancis Foto: Instagram/@sciencespo_sgel |
Program Rahasia Ini Dimulai Tahun 2015
Kursus ini dikembangkan oleh universitas bekerja sama dengan Academie du Renseignement, lembaga pelatihan dinas rahasia Prancis. Sejak serangan teroris tahun 2015 di Paris, pemerintah melakukan perekrutan besar-besaran di dalam badan intelijen Prancis.
Kemudian mereka meminta Sciences Po, salah satu universitas terkemuka di Prancis, untuk membuat kursus baru demi melatih calon mata-mata baru, dan memberikan pelatihan berkelanjutan bagi agen yang ada.
Perusahaan-perusahaan besar Prancis juga dengan cepat menunjukkan minat, baik untuk memasukkan staf keamanan mereka ke dalam kursus, maupun merekrut banyak lulusan muda.
Mata Kuliah yang Diajarkan
Diploma ini terdiri dari 120 jam pembelajaran di kelas dengan modul yang tersebar selama empat bulan. Untuk mahasiswa eksternal, para mata-mata dan mereka yang sedang magang dari perusahaan, biayanya sekitar 5.000 Euro atau Rp97 juta rupiah.
Tujuan utama kursus ini adalah untuk mengidentifikasi ancaman di mana pun mereka berada, dan bagaimana melacak serta mengatasinya. Topik-topik utama meliputi ekonomi kejahatan terorganisir, jihadisme Islam, pengumpulan intelijen bisnis, dan kekerasan politik.
Profesor Crettiez, yang mengajar tentang radikalisasi politik, mengatakan bahwa telah terjadi perluasan besar-besaran dinas rahasia Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Dan sekarang ada sekitar 20.000 agen dalam apa yang disebutnya sebagai "lingkaran dalam".
Lingkaran dalam ini terdiri dari DGSE (Direction gΓ©nΓ©rale de la SΓ©curitΓ© extΓ©rieure), yang menangani masalah di luar negeri, dan merupakan badan intelijen Prancis yang setara dengan MI6 Inggris atau CIA AS. Dan DGSI, yang berfokus pada ancaman di dalam Prancis, seperti MI5 Inggris atau FBI AS.
Dosen lain dalam kursus ini termasuk seorang pejabat DGSE yang pernah bertugas di Moskow, mantan duta besar Prancis untuk Libya, dan seorang pejabat senior dari Tracfin. Kepala keamanan di perusahaan energi raksasa Prancis, EDF, juga mengajar satu modul.
Syarat Mengikuti Kuliah di Kampus Sciences Po Saint-German
Syarat mengikuti perkuliahan di kampus ini cukup mudah. Salah satunya adalah pelamar harus merupakan kewarganegaraan Prancis. Namun Profesor Crettiez mengatakan dia selalu waspada dalam menerima lamaran.
"Saya secara teratur menerima lamaran dari wanita Israel dan Rusia yang sangat menarik dengan CV yang luar biasa. Tidak mengherankan jika mereka langsung ditolak," ujarnya.
Dua puluh delapan mahasiswa terdaftar di kelas tahun ini. Enam di antaranya adalah mata-mata. Membedakan mahasiswa biasa dengan mata-mata cukup mudah lantaran mata-mata akan terlihat membelakangi kamera.
(nir/pal)












































