Setiap awal tahun, orang-orang di dunia membuat resolusi seperti lebih sehat, lebih hemat, lebih bahagia. Akan tetapi, hanya sedikit resolusi yang benar-benar bertahan melewati bulan Januari.
Menurut dosen psikologi di ACU's School of Behavioural and Health Sciences, Dr John Mahoney, kegagalan menjaga resolusi bukan karena kurang niat, tetapi karena cara otak kita membentuk kebiasaan tidak sesederhana itu.
Faktanya, membangun kebiasaan baru atau memutus yang lama bukan hanya butuh waktu, melainkan butuh proses dan strategi. Itulah sebabnya, banyak resolusi berakhir di tengah jalan karena cara kita memulainya yang keliru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Resolusi Awal Tahun Mudah Berhenti di Tengah Jalan
Sebagian besar orang mengira butuh waktu tertentu untuk membentuk kebiasaan baru, seperti 21 hari, 8 minggu, atau bahkan 6 bulan. Akan tetapi, menurut Dr Mahoney, angka itu tidak punya dasar ilmiah yang kuat.
"Saya sering dengar klaim bahwa butuh 21 hari atau delapan minggu untuk membentuk kebiasaan, tapi saya tidak tahu dari mana asal angka itu. Saya ingin lihat buktinya," ujarnya.
Penelitian menunjukkan pembentukan kebiasaan baru bisa memakan waktu antara 18 hari hingga 36 minggu, tergantung perilaku dan lingkungan seseorang. Artinya, tidak ada angka ajaib yang bisa menunjukkan perubahan yang tepat.
Lalu, kenapa orang justru sibuk membuat resolusi pada awal tahun? Menurut Mahoney, jawabannya sederhana: efek "fresh start".
"Kita tertarik pada gagasan awal yang baru. Menjelang akhir tahun, kita melihat kembali kesalahan dan ingin memperbaikinya," katanya.
Selain itu, masa liburan akhir tahun justru mendorong orang merasa butuh perubahan. Setelah banyak makan, minum, dan belanja, muncul keinginan untuk hidup lebih sehat dan hemat.
"Tidak heran kalau keanggotaan gym melonjak di bulan Januari," ujar Mahoney.
"Setelah semua pesta dan makan berlebihan, kamu sadar tubuhmu butuh perubahan," tambahnya.
Namun, semangat itu sering cepat padam karena kebanyakan orang hanya berhenti di niat, tanpa strategi yang konkret. Ketika motivasi awal memudar dan rutinitas mulai padat, resolusi pun hilang perlahan.
Cara Bikin Resolusi yang Benar-Benar Bertahan
Mahoney menjelaskan bahwa resolusi hanya sebagai awalan saja, tetapi tidak cukup untuk mengubah perilaku sepenuhnya. Dibutuhkan sesuatu yang disebut "implementation intention" atau rencana nyata tentang kapan, di mana, dan bagaimana kita akan menjalankan niatnya.
"Kalau resolusimu adalah 'Saya mau lebih fit tahun ini,' dan kamu berhenti di situ, kemungkinan besar kamu akan gagal. Tetapi kalau kamu buat rencana, misalnya tiga kali olahraga seminggu, dua di gym dan satu jalan jauh kamu akan lebih mungkin berhasil," jelas Mahoney.
Ia juga menekankan pentingnya tiga faktor kunci dari teori COM-B (capability, opportunity, motivation) yang dikembangkan oleh psikolog Inggris Susan Michie.
"Untuk mengubah perilaku, kamu harus punya kemampuan untuk melakukannya, kesempatan untuk melaksanakannya, dan motivasi untuk menjaganya," ujar Mahoney.
Menariknya, Mahoney justru menyarankan tujuan yang lebih fleksibel bagi pemula.
"Kadang lebih baik punya tujuan yang samar seperti 'ingin lebih sehat,' karena kamu punya banyak cara untuk mencapainya. Kalau terlalu spesifik dan gagal, kamu akan cepat menyerah," katanya.
Yang paling penting, resolusi tidak harus dibuat pada awal tahun. Perubahan justru lebih mudah dilakukan saat kehidupan kembali stabil dan rutinitas sudah terbentuk lagi.
"Nggak ada waktu yang benar atau salah untuk mulai, tetapi mencoba mengubah kebiasaan di bulan Desember atau Januari bisa lebih sulit karena rutinitas kita masih berantakan," ucapnya.
"Begitu semuanya kembali normal, barulah kamu bisa mulai dengan rencana yang lebih realistis," lanjutnya.
Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.
(nah/nah)











































