Asia Diprediksi Mengalami Cuaca Ekstrem yang Bergantian Tiap 30-90 Hari, RI Kena?

ADVERTISEMENT

Asia Diprediksi Mengalami Cuaca Ekstrem yang Bergantian Tiap 30-90 Hari, RI Kena?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Rabu, 31 Des 2025 14:30 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem (Herianto Batubara/detikcom)
Foto: Ilustrasi cuaca ekstrem (Herianto Batubara/detikcom)
Jakarta -

Sebuah studi iklim yang dipimpin oleh The Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), menemukan bahwa mulai tahun 2064, wilayah Asia akan mengalami pergantian cuaca ekstrem yang cepat. Dalam 30-90 hari, curah hujan dan kekeringan bisa berganti dengan cepat.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai subseasonal whiplash atau "cambuk submusiman". Gangguan iklim ini disebut akan berdampak pada bencana terkait produksi pangan, pengelolaan air, dan sistem energi bersih.

Studi baru ini memanfaatkan model iklim global mutakhir untuk memproyeksikan perilaku masa depan Osilasi Intramusiman Musim Panas Boreal (BSISO). Mode ini berkaitan dengan kondisi tropis musim panas yang terjadi dalam 30 hingga 90 hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Curah Hujan Ekstrem dan Kekeringan Lebih Parah di Asia Selatan dan Asia Timur

Dalam studinya, para peneliti berhasil menguraikan tiga pola perambatan BSISO: mode canonical northeastward propagating atau perambatan ke timur laut kanonik, mode northward dipole (ND), dan mode eastward expansion (EE).

ADVERTISEMENT

Menurut studi, pola angin timur laut kanonik dan angin utara-barat akan menguat. Akibatnya, akan terjadi curah hujan ekstrem dan kekeringan yang lebih para di wilayah Asia Selatan dan Asia Timur.

Dengan skenario emisi tinggi (SSP5-8.5) pola 'angin' yang membawa hujan akan bergerak ke timur dan diprediksi berlipat ganda kecepatannya pada akhir abad ini.

"Menariknya, sistem ini diperkirakan akan meluas ke arah timur sekitar 30 derajat bujur. Di tempat yang biasanya menghilang di atas Benua Maritim, seperti Indonesia, kini akan mendorong jauh ke Pasifik Barat," kata Dr Cheng Tat-Fan, penulis pertama penelitian, dilansir phys.org.

Di luar Asia, pola iklim yang berubah ini juga mengakibatkan curah hujan yang kuat di Greenland dan Rusia utara. Sementara di gurun, hembusan angin kencang di Afrika tengah dan utara dapat mengubah emisi debu Sahara, yang berpotensi mengganggu pembentukan siklon tropis di Samudra Atlantik.

Ancaman terhadap Produksi Pangan dan Sumber Air

Menurut salah satu penulis studi, Profoseor Lu, pergantian cuaca ekstrem yang cepat bisa mengancam produksi pangan, pengelolaan sumber daya air, dan bidang lainnya. Bahkan bisa mengakibatkan banjir yang merusak.

"Jenis perubahan mendadak dari kekeringan ke banjir sangat merusak-ada bukti yang menunjukkan risiko kehilangan hasil panen padi global 43 persen lebih tinggi dari peristiwa seperti itu dibandingkan dengan perubahan dari musim basah ke musim kering," katanya.

Maka itu, ia menyerukan perlunya investasi dalam pemodelan peramalan submusiman hingga musiman agar bisa terus menghadapi tantangan ke depan. Misalnya fokus terhadap kondisi kritis di perkotaan, memastikan keberlanjutan di berbagai sektor (air, energi, pangan, ekonomi), dan meningkatkan kemampuan untuk memprediksi wabah akibat perubahan iklim.

"Hal ini akan memberdayakan pemerintah dan sektor swasta untuk membuat pilihan yang tepat dalam perencanaan jangka panjang dan pengembangan kebijakan," ujar Profesor Lu.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(faz/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads