Gempa 'Outer Rise' Pemicu Gempa Jember M 6,2: Ciri hingga Riwayatnya di RI

Gempa 'Outer Rise' Pemicu Gempa Jember M 6,2: Ciri hingga Riwayatnya di RI

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikEdu
Selasa, 06 Des 2022 16:30 WIB
Gempa outer rise (Tangkapan layar YouTube Teknik Geofisika ITS)
Foto: Gempa outer rise (Tangkapan layar YouTube Teknik Geofisika ITS)
Jakarta -

Gempa M 6,2 baru saja mengguncang lepas pantai Jember, Jawa Timur. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono menyebut gempa ini adalah gempa 'outer rise'. Apa itu gempa 'outer rise'?

Getaran gempa Jember M 6,2 dirasakan sampai Bantul Yogya, Bali hingga Nusa Tenggara Barat.

"Gempa selatan Jember Jawa Timur M6,0 kedalaman 10 km ini merupakan jenis gempa di luar zona subduksi (populer disebut 'outer rise earthquake') akibat patahnya lempeng Australia yang mulai menunjam ke bawah Jawa Timur. Tekukan lempeng ini memicu patahan turun (normal fault)," demikian kata Daryono seperti dikutip dari akun Twitternya @daryonoBMKG, Selasa (6/12/2022).

Gempa Bumi outer rise Jember (akun Twitter @daryonoBMKG)Gempa Bumi outer rise Jember (akun Twitter @daryonoBMKG)

Gempa di luar zona subduksi/outer rise di selatan Jatim ini, imbuh Daryono, patut diwaspadai. Meskipun di luar zona megathrust tetapi dengan mekanisme patahan turun akan dapat memicu tsunami seperti gempa dahsyat Sumba 1977 yang tsunaminya menelan korban ratusan orang di Sumbawa selatan.

Daryono melanjutkan sumber gempa di luar zona subduksi atau zona outer rise seperti pemicu gempa selatan Jember ini, selama ini menjadi zona sumber gempa yang terlupakan padahal banyak tsunami mematikan akibat ini.

"Kalah "pamor" dengan zona megathrust yang sering disebut pakar, media, dan masyarakat kita," cuitnya.

Zona subduksi sendiri menurut situs BMKG, yaitu zona kejadian gempa Bumi yang terjadi di sekitar pertemuan antar lempeng. Dapat diartikan gempa outer rise terjadi di luar zona pertemuan antar lempeng itu.

Sumber penunjaman lempeng kerak Bumi dapat dibagi menjadi dua model yaitu pada lajur megathrust atau gempa bumi interplate maupun dalam lajur Benioff/gempa intraplate/intraslab. Lajur megathrust adalah bagian dangkal suatu lajur subduksi yang mempunyai sudut tukik yang landai sedangkan zona Benioff adalah bagian dalam suatu lajur subduksi yang mempunyai sudut tukik yang curam.

Masih menurut Daryono dalam kesempatan berbeda, dalam YouTube Teknik Geofisika ITS, "Webinar #37 "Memahami Gempa "Outer Rise" Busur Sunda, dari Sumatra sampai Sumba"", aktivitas gempa outer rise lebih banyak di sekitar zona subduksi Jawa-Sumba, di sepanjang lepas pantai selatannya.

Dalam YouTube yang sama, menurut Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, PB Madya di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Supartoyo, menjelaskan gempa Bumi outer rise ini adalah gempa Bumi di luar/belakang megathrust pada zona bending/pelengkungan.

Ciri-ciri gempa outer rise:

1. Terdapat di luar megathrust pada zona pelengkungan
2. Pada kerak samudera
3. Magnitudo besar bisa mencapai >M8
4. Mekanisme dominan sesar normal
5. Kedalaman dangkal, biasanya antara 10-20 km, maksimal 30 kilometer.
6. Berpotensi memicu tsunami.

Gempa outer rise (Tangkapan layar YouTube Teknik Geofisika ITS)Foto: Gempa outer rise (Tangkapan layar YouTube Teknik Geofisika ITS)

Supartoyo menjelaskan dari peta Pusat Gempa Nasional (Pusgen 2017), belum ada peta gempa Bumi outer rise di Indonesia. Sementara ini potensi gempa Bumi yang sudah terpetakan di Indonesia adalah jenis:

1. Megathrust
2. Intraplate/intraslab/Benioff
3. Sesar aktif/shallow crustal earthquake

Gempa outer rise (Tangkapan layar YouTube Teknik Geofisika ITS)Foto: Gempa outer rise (Tangkapan layar YouTube Teknik Geofisika ITS)

Dari laman Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) penyebab gempa outer rise adalah adanya tegangan tektonik yang bekerja pada sumber gempa outer rise tegangan ekstensional atau tarikan. Gempa di zona outer rise ini memiliki mekanisme sumber sesar turun (normal fault), bisa juga karena sesar geser (transform).

Besarnya magnitudo dan mekanisme sumber gempa outer rise bisa memicu tsunami, hal ini tercatat pernah terjadi di Indonesia di berbagai daerah antara lain:

1. 11 September 1921 terjadi gempa selatan Jawa berkekuatan M7,5 yang memicu tsunami,
2. 19 Agustus 1977 terjadi gempa selatan Sumbawa berkekuatan M8,3 yang memicu tsunami destruktif di selatan Sumbawa.
3. 11 April 2012 gempa kembar dengan kekuatan 8,5 SR dan 8,1 SR diikuti tsunami kecil setinggi 1 meter di Nias, 80 cm di Meulaboh, dan 6 cm di Sabang.

Kemudian tercatat pula beberapa gempa outer rise yang tidak menimbulkan tsunami:

1. 9 Juni 2016 gempa selatan Bali berkekuatan M6,0
2. 15 Juli 2016 gempa selatan Jawa Barat M5,1 yang mengguncang pesisir selatan Jawa Barat
3. 23 Juli 2016 gempa Bengkulu dan Lampung berkekuatan M 5,4 yang mengguncang pesisir Bengkulu hingga Lampung
4. 17 Maret 2017 gempa Bali berkekuatan M 5,3
5. 9 Juni 2019 gempa Bali berkekuatan M 5,1
4. 19 Maret 2020 gempa selatan Bali berkekuatan M6,5 pada yang dirasakan hampir di seluruh Bali dan Lombok
5. 14 Mei 2021 gempa Nias berkekuatan M 6,7 yang dirasakan di Pulau Nias, Sumut, Aceh dan Sumbar.



Simak Video "5 Kali Gempa Susulan Guncang Jember Usai Gempa M 6,2"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia