Paragraf Deduktif: Pengertian, Ciri dan Contohnya

Paragraf Deduktif: Pengertian, Ciri dan Contohnya

Putri Tiah Hadi Kusuma - detikEdu
Kamis, 01 Des 2022 13:47 WIB
Buku Bumi Nusantara
Foto: Tia Agnes/ detikcom
Jakarta -

Paragraf deduktif secara sederhana didefinisikan sebagai paragraf yang gagasan utamanya terletak di awal paragraf, demikian dikutip dari buku Modul Resmi Tes TPA oleh Tim Smart Genesis. Nah, untuk penjelasan lebih lengkapnya berikut ada di bawah ini.

Pengertian Paragraf Deduktif

Mengutip dari buku Keterampilan Menulis oleh Dr H Dalman, MPd, paragraf deduktif adalah suatu jenis paragraf yang menempatkan kalimat utama atau kalimat topik terletak pada awal paragraf, kemudian diikuti oleh kalimat-kalimat lain sebagai pengembang.

Pengertian awal paragraf ini tidak harus pada kalimat pertama. Sebab, banyak paragraf yang kalimat pertamanya berupa kalimat transisi. Paragraf yang mengandung kalimat transisi, kalimat utamanya berada dalam posisi kalimat kedua. Demikian dikutip dari buku Terampil Menulis Paragraf (Rev) oleh Usul Wiyanto.

Ciri-ciri Paragraf Deduktif

Berikut ciri-ciri paragraf utama mengutip di buku Bahasa Indonesia oleh Prof Dr Moh Siddik, MPd:

1. Penulisan gagasan pokok/utama di awal paragraf

Alasan mengapa gagasan utama atau ide pokok berada di awal paragraf hal ini bertujuan agar gagasan pokok/utama menjadi dasar untuk dapat mengembangkan penjelasan isi secara luas.

2. Pola pengembangan dari umum ke khusus

Gagasan pokok/utama mempunyai sifat umum yang kemudian akan diikuti oleh kalimat-kalimat pendukung yang umumnya memiliki sifat khusus. Kalimat pendukung ini berisi tentang penjelasan bukti yang bertujuan mendukung gagasan pokok/utama pada kalimat awal.

Contoh Paragraf Deduktif

Berikut contoh paragraf deduktif dikutip dari buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/MA Kls XI oleh Usul Wijayanto:

Kegiatan seorang penulis dapat disamakan dengan seorang petani yang mencangkul sawah ladangnya. Pak tani akan bertenaga kalau cukup makan dan minum. Jika kurang makan dan minum, ia akan cepat lelah, letih dan loyo. Demikian juga dengan seorang penulis. Jika penulis sedikit membaca, kurang melakukan riset untuk bahan tulisannya dan tidak sensitif terhadap lingkungannya, tentu saja ia akan kehabisan ide.

Perbandingan yang lebih nyata sebagai berikut. Seorang penulis dapat disamakan dengan sebuah kendi, yaitu tempat air minum dari tanah yang dibakar. Kendi mempunyai dua lubang, satu diatas, satu di samping. Lubang bagian atas untuk memasukkan air dan lubang di samping untuk mengeluarkan air. Jika kendi tidak diisi, tentu tak akan ada air yang keluar meskipun kendi itu dijungkirbalikkan. Sebaliknya, jika kendi itu penuh, digoyangkan sedikit saja air akan keluar dengan lancar. Demikian pula seorang penulis. Membaca bagi penulis merupakan upaya mengisi pengetahuan ke dalam otaknya. Makin banyak membaca, makin banyak pula bahan yang dapat ditulisnya.

Contoh lain dari paragraf deduktif dikutip dari buku Bahasa Indonesia 2 SMA Kelas XI oleh Sri Sutami dan Sukardi:

Brokoli termasuk sayuran dengan kandungan antioksidan yang tinggi sehingga cara memasaknya harus benar. Usahakan agar teksturnya matang, tetapi jangan sampai mengurangi atau menghabiskan kandungan gizinya. Sayuran ini lebih tepat dimasak setengah matang sebelum dikonsumsi. Segera tiriskan dan siram dengan air dingin agar warnanya tetap cantik dan bentuknya tidak hancur. Cara memotong brokoli juga harus benar yaitu mengikuti tangkainya. Selain mempengaruhi kesegaran, tangkai brokoli berfungsi sebagai hiasan untuk menambah selera makan

Nah kini sudah mengerti ya soal paragraf deduktif, detikers...



Simak Video "Momen Jackson Wang Minta Belajar Bahasa Indonesia di Panggung HITC 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia