Wacana: Jenis, Ciri, Syarat, dan Contohnya

Wacana: Jenis, Ciri, Syarat, dan Contohnya

Putri Tiah Hadi Kusuma - detikEdu
Kamis, 01 Des 2022 07:40 WIB
Ilustrasi contoh gaya gesek menulis atau anak belajar
Jenis-jenis wacana, ciri-ciri, syarat, dan contohnya. Foto: Getty Images/iStockphoto/Hakase_
Jakarta -

Wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, berisi lebih dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi, memiliki awal dan akhir yang jelas, serta berkesinambungan, baik dalam tulisan maupun tulisan, seperti dikutip dari Keutuhan Wacana oleh Junaiyah HME.

Menurut ahli bahasa Henry Guntur Tarigan, wacana merupakan satuan bahasa terlengkap dan tertinggi di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi, seperti dikutip dari buku Analisis Wacana Konsep, Teori, dan Aplikasi oleh Eti Setiawati.

Karena wacana menduduki posisi tertinggi dalam satuan kebahasaan, Wacana sering digunakan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti politik, filsafat, komunikasi, sastra, dan sebagainya, seperti dikutip dari Buku Ajar Menulis Kreatif oleh Elan Halid.

Wacana merupakan salah satu kajian dalam ilmu linguistik yang ditetapkan dalam satu kajian tersendiri, yaitu analisis wacana. Wacana dapat direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dsb), paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat lengkap.

Ciri-ciri Wacana

Berikut ciri-ciri wacana seperti dikutip dari Filosofi, Teori, dan Konsep Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar oleh Dr. Ali Mustadi, M.Pd dan Puguh Ardianto Iskandar, M.Pd:

  1. Satuan gramatikal
  2. Satuan bahasa terbesar, tertinggi, atau terlengkap
  3. Membahas topik tertentu
  4. Memiliki hubungan proposisi
  5. Memiliki hubungan kontinuitas
  6. Memiliki hubungan koherensi dan kohesi
  7. Bisa transaksional dan juga interaksional

Jenis Wacana

Dikutip dari buku Membaca dan Menulis Wacana: Petunjuk Praktis bagi Mahasiswa oleh Drs. Josep Hayon, jenis wacana berdasarkan sudut pandang bahasanya yaitu:

1. Wacana Tulis

Wacana tulis ditampilkan dalam bentuk teks, biasanya lebih panjang, unit-unit kebahasaannya lengkap, dan mengikuti aturan bahasa. Terkadang, wacana tulis berisi keterangan-keterangan yang memperjelas pesan dan menghindari kesalahan tafsiran makna oleh pembaca.

Umumnya, wacana tulis menggunakan bentuk-bentuk bahasa baku, kecuali disengaja oleh penulisnya untuk mendapatkan efek-efek tertentu, seperti drama, novel, dll.

2. Wacana Lisan

Wacana lisan berbentuk komunikasi verbal antarpersona. Dalam mengutarakan maksud, diperlukan daya simak yang tinggi dari partisipan lainnya agar penyampaiannya tidak terputus. Selain menggunakan lisan itu sendiri atau unsur bahasa, wacana ini juga menggunakan bahasa tubuh yang turut memberi makna itu.

Kelemahan dari wacana lisan yaitu kesulitan dalam mengulang wacana yang sama seperti pertama kali disampaikan. Kelemahan ini mengakibatkan wacana lisan memiliki kedudukan yang lebih lemah dibandingkan dengan wacana tulis.

Selain jenis wacana berdasarkan sudut pandang (wacana tulis dan wacana lisan), terdapat jenis wacana berdasarkan penuturnya, yaitu:

1. Wacana Monolog

Wacana monolog adalah wacana yang dituturkan oleh satu orang dan tidak menghendaki adanya respon orang lain. Contohnya seperti khotbah, pidato, orasi, dan ceramah.

2. Wacana Dialog

Wacana dialog melibatkan dua orang, yakni pembaca dan pendengar maupun penulis dengan pembaca. Karena itu, pembicara di dalam wacana dialog harus menyimak tanggapan verbal orang yang diajaknya berbicara agar keterkaitan dalam pasangan berdampingan betul-betul diperhatikan.

3. Wacana Polilog

Wacana polilog adalah wacana yang terbentuk oleh lebih dari dua orang penutur. Contohnya seperti diskusi mahasiswa, drama, atau berbicara santai (mengobrol).

Berdasarkan pemaparannya, wacana terdiri dari lima jenis, seperti dikutip di buku Cara Praktis Penulisan Karya Ilmiah dalam Bahasa Indonesia oleh Novi Indrastuti. Berikut jenisnya:

1. Wacana Narasi

Wacana narasi bertujuan untuk memaparkan terjadinya suatu peristiwa, baik peristiwa rekaan maupun kenyataan. Berkenaan dengan peristiwa itu, penjelasannya menggunakan 5W + 1H. Wacana narasi dapat bersifat faktual maupun imajinatif, seperti dongeng, novel, biografi, anekdot, dll.

2. Wacana Eksposisi

Wacana ini berorientasi pada pokok pembicaraan, dan bagian-bagiannya diikat secara logis. Wacana eksposisi fokus menjelaskan tentang sesuatu dan tidak mementingkan waktu dan pelaku.

3. Wacana Argumentasi

Wacana argumentasi adalah wacana yang berisi ide atau gagasan, lengkap dengan data-data sebagai bukti yang bertujuan untuk meyakinkan pembaca akan kebenaran ide atau gagasan penulis.

4. Wacana Persuasif

Wacana persuasif adalah wacana yang bersifat ajakan atau nasihat, ringkas dan menarik, serta bertujuan mempengaruhi secara kuat agar pembaca melakukan nasihat atau ajakan tersebut.

5. Wacana Deskriptif

Wacana deskriptif adalah wacana yang memuat menyampaikan kesan utama kepada pembaca terhadap suatu objek, gagasan, tempat, peristiwa, dsb oleh disampaikan penulis.

Syarat-syarat Wacana

Untuk membentuk sebuah wacana yang utuh, ada sejumlah syarat yang perlu dipenuhi. Dikutip dari buku Konsep Dasar Bahasa Indonesia oleh Nanda Saputra, M.Pd., berikut syaratnya:

1. Topik

Topik merupakan hal yang dibicarakan dalam sebuah wacana dan dapat dinyatakan sebagai redaksi. Topiklah yang menyebabkan lahirnya wacana dan berfungsinya wacana dalam proses komunikasi.

2. Tuturan Pengungkap Topik

Topik perlu dijabarkan sehingga makna yang disusun dari beberapa kalimat menjadi utuh karena wujud konkret tuturan itu adalah hubungan paragraf dengan paragraf lain yang membentuk teks. Tuturan teks bisa tulisan maupun lisan.

3. Kohesi dan Koherensi

Dalam kata kohesi terkandung pengertian kepaduan, keutuhan. Sementara itu, pada koherensi, terkandung pengertian hubungan. Kohesi mengacu pada aspek bentuk, sedangkan koherensi mengacu pada makna. Dengan kata lain, kohesi dan koherensi menentukan tingkat keterbacaan dan keterpahaman sebuah wacana.

Contoh Teks Wacana

Berikut beberapa contoh teks wacana, seperti dikutip dari buku Cara Praktis Penulisan Karya Ilmiah dalam Bahasa Indonesia oleh Novi Indrastuti:

1. Contoh Wacana Narasi

Akhir-akhir ini, banyak orang ingin berlibur ke Pulau Tidung. Pulau Tidung terletak di Wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta.

Pulau Tidung adalah pulau yang baru dikembangkan oleh Provinsi DKI Jakarta sebagai tempat wisata. Dina dan kakaknya menginap di salah satu penginapan di Pulau Tidung. Penginapan sederhana, tetapi bersih.

Mereka menyelam dan bermain air. Mereka dapat bersepeda menyusuri tepi pantai dan keliling desa pada pagi sampai malam hari. Pada sore hari, mereka menikmati pemandangan matahari tenggelam di tepi. Pada malam hari, mereka makan jagung bakar.

2. Contoh Wacana Persuasif

Kebersihan merupakan hal terpenting dalam kehidupan. Tanpa kebersihan, lingkungan akan dipenuhi sampah. Dimana-mana akan terjangkit berbagai macam penyakit. Beragam bencana pun timbul.

Oleh karena itu, sebaiknya manusia dapat menciptakan kebersihan di mana pun berada. Aksi sederhana yang dapat dilakukan antara lain membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan diri, dan mengurangi konsumsi barang dan jasa sehari-hari yang akan menimbulkan sampah.



Simak Video "Momen Jackson Wang Minta Belajar Bahasa Indonesia di Panggung HITC 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia