Wacana Pembagian Rice Cooker Gratis, Pengamat Energi UGM: Tepat, tapi...

Wacana Pembagian Rice Cooker Gratis, Pengamat Energi UGM: Tepat, tapi...

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 28 Nov 2022 17:30 WIB
Multi Cooker On Kitchen Counter With Onions, Garlic, Cooking Oil And Cutting Board
Muncul wacana penyaluran rice cooker gratis, begini kata pengamat energi UGM. Foto: Getty Images/iStockphoto/onurdongel
Jakarta -

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melontarkan wacana pembagian 680.000 penanak nasi atau rice cooker gratis untuk masyarakat pada 2023.

Wacana ini disampaikan Subkoordinator Fasilitasi Hubungan Komersial Usaha Ketenagalistrikan, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Edy Pratiknyo di Forum Diskusi Publik pada Jumat (25/11/2022) lalu.

Dalam paparannya, disebutkan bahwa bantuan penanak nasi listrik dengan APBN Kementerian ESDM 2023 akan didistribusikan ke wilayah-wilayah di Indonesia.

Penerima paket program rice cooker senilai Rp 500 ribu per keluarga ini rencananya disalurkan berdasarkan data Kementerian Sosial (Kemensos), seperti dikutip dari detikFinance.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Dr Fahmy Radhi, MBA mengatakan, pembagian rice cooker ini bertujuan mendukung pemanfaatan energi bersih, meningkatkan konsumsi listrik per kapita, serta menghemat biaya memasak nasi bagi masyarakat.

"Sebagai bagian dari diversifikasi penggunaan energi bersih yang menggunakan listrik, pembagian rice cooker gratis cukup tepat," kata Fahmy, dikutip dari laman kampus, Senin (28/11/2022).

Menurut Fahmy, dengan daya listrik rendah, penggunaan rice cooker dapat dimanfaatkan oleh keluarga penerima manfaat yang menggunakan daya listrik 450 Volt Ampere (VA). Dengan demikian, daya listrik rumah cukup untuk rice cooker berdaya 200-300 VA.

Ia menggarisbawahi, rice cooker berdaya 200 VA dapat digunakan selama 24 jam. Namun, rice cooker berdaya 300 VA tidak dapat digunakan selama 24 jam terus menerus, terutama pada malam hari saat semua lampu dan alat elektronik menggunakan listrik.

"Agar lebih leluasa menggunakan rice cooker 300 VA, pelanggan listrik 450 VA harus mengubah menjadi 900 VA," jelasnya.

Migrasi LPG 3 Kg ke Energi Bersih Lebih Prioritas

Di sisi lain, ia berpendapat bahwa pembagian rice cooker tidak begitu tepat untuk dianggap sebagai upaya menggantikan gas LPG 3 kg. Menurutnya, penggunaan rice cooker tidak dapat menggantikan LPG 3 kg sama sekali.

Ia menjelaskan, fungsi rice cooker untuk menanak nasi, sedangkan memasak lauk dan lainnya masih menggunakan kompor gas dengan LPG 3 kg.

Untuk itu, jika dikaitkan dengan upaya untuk mengurangi dan menggantikan LPG 3 kg, maka wacana pembagian rice cooker tidak efektif.

Menurut Fahmy, karena gas merupakan konten impor, menyita subsidi cukup besar, dan memberatkan APBN, Kementerian ESDM seharusnya memprioritaskan diversifikasi program penggunaan energi bersih melalui migrasi dari LPG 3 kg ke energi bersih.

Ia mencontohkan, penambahan jaringan Jargas dan percepatan gasifikasi batubara yang lebih masif dapat dilakukan.

"Bukan program coba-coba yang tidak efektif dalam menggantikan LPG 3 kg yang menjadi permasalahan negeri ini selama bertahun-tahun tanpa ada solusinya," pungkasnya.



Simak Video "Wacana Rice Cooker Gratis Buat Gantikan LPG, Pengamat: Mission Impossible"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia