Pakar Gempa ITB Beberkan Pelajaran dari Gempa Cianjur, Pahami Golden Time!

Pakar Gempa ITB Beberkan Pelajaran dari Gempa Cianjur, Pahami Golden Time!

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 22 Nov 2022 11:00 WIB
A man saves a cat from his damaged house following a 5.6-magnitude earthquake that killed at least 162 people, with hundreds injured and others missing in Cianjur on November 22, 2022. (Photo by ADEK BERRY / AFP) (Photo by ADEK BERRY/AFP via Getty Images)
Foto: Adek Berry/AFP/Getty Images/Ilustrasi Pakar Gempa ITB Beberkan Pelajaran dari Gempa Cianjur
Jakarta -

Gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11/2022) kemarin dipicu oleh sesar cimandiri. Menurut dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Irwan Meilano, ST, MSc, sesar cimandiri tergolong sesar aktif. https://www.detik.com/tag/gempa-bumi

Sesar adalah bidang rekahan yang disertai dengan pergeseran, adanya retakan, atau memiliki celah.

"Pada sesar ini terdapat akumulasi tegangan tektonik yang menjadi gaya penerus gempa. Jika ditilik melalui pendekatan geologi, juga menunjukkan hal yang serupa," jelas Irwan, dikutip dari laman resmi ITB.

Dia menjelaskan sesar tersebut termasuk dalam sumber gempa yang independen dan tidak dipengaruhi oleh gempa-gempa yang sebelumnya. Oleh sebab itu, terdapat potensi gempa yang signifikan terjadi di masa depan.

Belajar dari Gempa Cianjur

Dr Irwan mengatakan, ini bukan pertama kalinya pergerakan sesar cimandiri menyebabkan gempa. Menurutnya, pernah terjadi gempa dengan kekuatan serupa pada 1970-an.

"Ada pembelajaran yang bisa dipetik dari bencana tadi siang. Concern utama berada di pemerintah dan pemda, perlu ada upaya untuk memahami bahwa daerah tersebut memiliki potensi gempa," kata Dr Irwan.

Pakar kegempaan ini menerangkan, penataan ruang dan kaidah pembangunan di setiap daerah harus menyesuaikan dengan struktur geologi dan jarak dari sumber gempa. Tak hanya itu, masyarakat juga harus melek literasi dan pengetahuan bahwa mereka menempati daerah yang rawan gempa, sehingga mitigasi bisa dilakukan.

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB ini mengatakan, gempa di Cianjur kemarin bukan tergolong gempa besar apabila dilihat dari kekuatannya yang bermagnitudo (M) 5,6. Namun, kerusakan infrastruktur yang masif sampai timbulnya pulihan korban jiwa.

Dia mengatakan, berbagai dampak tersebut adalah akibat hiposentrum yang dangkal, adanya lapisan cukup halus, dan bangunan di atasnya tidak tahan gempa.

Golden Time setelah Gempa Bumi

Dr Iwan menyampaikan, setelah terjadi bencana terdapat golden time atau waktu untuk evakuasi. Kisaran waktunya rata-rata hanya 30 menit setelah gempa.

Lulusan Nagoya University tersebut memaparkan, hal yang bisa dilakukan setelah terjadi bencana adalah memberikan respons yang terbaik.

"Kita harus belajar dari Jepang dalam memanfaatkan golden time ini. Rumah sakit darurat, pengungsian sementara, air, dan sanitasi yang baik, mulai dipersiapkan sekarang," bebernya.

Dr Iwan menekankan, apabila hanya fokus pada yang terluka dan lantas mengesampingkan hal vital yang harus dipersiapkan, maka orang yang selamat pun bisa jadi korban berikutnya.



Simak Video "Kapolri Pastikan Beri Trauma Healing untuk Para Korban Gempa Cianjur"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia