Keamanan Digital Bagi Anak Usia Sekolah Dasar

Kolom Edukasi

Keamanan Digital Bagi Anak Usia Sekolah Dasar

Anisa Setya Arifina - detikEdu
Senin, 21 Nov 2022 07:18 WIB
Anisa Setya Arifina
Foto: Dokumentasi Anisa Setya Arifina
Jakarta -

Tidak bisa dipungkiri bahwa internet dibutuhkan oleh semua kalangan termasuk anak usia sekolah dasar. Saat pandemi COVID-19, anak-anak usia sekolah dasar yang secara psikologis belum memiliki kematangan mental, pola pikir dan kedewasaan dalam berperilaku dipaksa beradaptasi agar bisa menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara mandiri untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini tentunya memunculkan kekhawatiran khususnya para orang tua, karena intensitas anak dalam menggunakan gawai dan mengakses internet akan meningkat.

Meskipun sekarang PJJ sudah tidak lagi diterapkan, namun intensitas anak dalam menggunakan gawai dan mengakses internet tetap perlu diatur. Pasalnya, saat ini anak-anak usia sekolah dasar sudah memiliki kecakapan untuk mengoperasikan gawai dan mengakses internet secara mandiri dan bahkan mungkin tanpa pengawasan dari orang tua. Mereka bisa bermain video games, menonton video, dan terhubung dengan teman dan keluarga melalui komputer, ponsel, tablet, televisi, dan perangkat lain yang terhubung ke internet. Jika tidak diatur dan diawasi, maka ada empat potensi resiko keamanan digital yang siap mengintai anak-anak usia sekolah dasar, yaitu:

1. Content risk yaitu sebuah situasi dimana anak terpapar konten yang tidak pantas dan tidak diinginkan. Di dalamnya termasuk konten seksual dalam game, pornografi, gambar kekejaman terhadap hewan, kekerasan, konten rasis, diskriminatif, ujaran kebencian dan situs yang menganjurkan perilaku tidak sehat dan berbahaya (bunuh diri, anoreksia dan melukai diri sendiri).

2. Contact risk adalah resiko yang muncul saat anak berinteraksi dengan orang yang tidak mereka kenal atau orang dewasa yang menyamar sebagai anak-anak secara daring. Misalnya saja interaksi dengan orang dewasa yang meminta seorang anak untuk tujuan seksual, individu yang mencoba meradikalisasi seorang anak, membujuknya untuk mengambil bagian dalam perilaku yang tidak sehat atau berbahaya, dan membagikan informasi pribadi dengan orang asing.

3. Conduct risk adalah perilaku anak-anak di ruang virtual yang mungkin menyakiti orang lain atau menjadi korban dari perilaku orang lain di ruang virtual. Contohnya saja anak-anak yang menulis atau membuat materi kebencian tentang anak-anak lain, menghasut, rasisme atau memposting atau mendistribusikan gambar seksual, termasuk konten yang mereka buat sendiri.

4. Consumer risk adalah resiko yang muncul ketika anak-anak menyetujui kontrak, syarat atau ketentuan yang tidak adil yang tidak mereka sadari atau tidak pahami di ruang virtual. Misalnya, anak-anak mungkin mengklik tombol yang memungkinkan pihak lain mengirimi mereka pesan pemasaran yang tidak pantas atau mengumpulkan data pribadi atau keluarga mereka. Atau anak-anak mungkin menggunakan mainan, aplikasi, atau perangkat dengan keamanan internet yang lemah, sehingga membuat mereka rentan terhadap pencurian identitas atau penipuan.

Selayaknya uang koin yang memiliki dua sisi yang berlawanan, ruang digital juga memberikan peluang-peluang luar biasa bagi anak-anak usia sekolah dasar untuk membangun soft skills yang tidak diajarkan secara eksplisit di sekolah. Misalnya saja membantu belajar berkolaborasi dengan lebih baik satu sama lain, membangun kreativitas, kepemimpinan, kepercayaan diri, inovasi, inisiatif, kesadaran kritis dalam pengumpulan informasi, mempertanyakan, mengevaluasi, dan memprioritaskan informasi.

Internet akan menjadi bagian dari masa depan anak-anak, sehingga membiasakan mereka menggunakan gawai dan internet dari sekarang dengan bijak adalah hal yang penting dilakukan. Berbagai macam strategi berbeda dapat digunakan untuk membantu anak usia sekolah dasar tetap aman saat online. Mengajarkan perilaku online yang aman dan bertanggung jawab dapat membantu anak-anak usia sekolah dasar mengelola risiko dan membangun ketahanan digital (digital resilience). Digital resilience adalah kemampuan untuk menghadapi dan merespons secara positif setiap risiko yang mereka hadapi secara online. Berikut adalah beberapa tips yang bisa digunakan untuk membangun digital resilience pada anak usia sekolah dasar:

a. Gunakan mesin pencari ramah anak seperti Kiddle, atau penyedia konten seperti YouTube Kids, atau aplikasi pesan seperti Messenger Kids.

b. Periksa apakah permainan, situs web, dan program TV sesuai untuk anak-anak usia sekolah dasar.

c. Batasi fungsi kamera dan video agar anak tidak mengambil foto dirinya sendiri atau orang lain secara tidak sengaja. Anak-anak perlu diberikan pemahaman mengenai jejak digital, pengubahan konten, pembagian konten tanpa izin dan konsekuensi lainnya dari mengunggah foto, video dan konten pribadi di internet.

d. Blokir aplikasi pembelian dan nonaktifkan pilihan pembayaran di gawai anak. Orang tua dan anak bisa membuat aturan yang jelas mengenai pembelian melalui aplikasi. Jika anak ingin membeli sesuatu lewat aplikasi, maka anak perlu memberitahu orang tua terlebih dahulu. Berikan pengertian kepada anak pentingnya manajemen keuangan dan tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak terlalu penting.

e. Berselancar di dunia maya bersama anak akan memberikan kesempatan kepada para orang tua untuk melihat aplikasi atau game yang dimainkan, atau video yang mereka tonton. Orang tua juga dapat menunjukkan dan memberikan tanda (bookmark) pada situs yang aman, menyenangkan dan mendidik untuk mereka. Kelebihan dari strategi ini adalah para orang tua bisa menjelaskan secara langsung jika menemukan iklan pop-up saat online bersama anak. Iklan pop-up mungkin saja dapat mengarahkan mereka ke situs dengan gambar yang tidak menyenangkan atau situs yang menginginkan informasi pribadi.

f. Berikan penjelasan kepada anak bahwa internet memiliki beragam konten dan beberapa diantaranya tidak diperuntukkan untuk anak-anak. Berikan penjelasan yang rinci konten dan situs-situs seperti apa yang harus mereka hindari. Hal ini bisa membantu anak-anak untuk mengidentifikasi dan menghindari konten dan situs-situs yang berbahaya.

g. Berikan penjelasan untuk tidak mudah percaya dengan informasi yang tersebar di internet karena tidak semua informasi adalah benar. Berikan pengertian kepada anak bahwa mereka diperbolehkan bertanya kepada orang tua dan gurunya tentang informasi apa saja yang mereka temukan.

h. Ciptakanlah suasana yang suportif dan terbuka agar anak bisa segera menceritakan pengalaman negatif dan tidak menyenangkan yang mereka alami di ruang virtual.

i. Ajarkan perilaku-perilaku yang pantas dan tidak pantas di runag virtual. Jadilah contoh yang baik (role model) bagi anak-anak dalam menggunakan internet yang aman dan sehat

j. Imbangi aktivitas online anak dengan aktivitas offline. Tetapkan batasan screen time tidak lebih dari 1-1,5 jam setiap hari. Konsisten untuk menerapkan screen time dan jenis acara yang ditonton. Screen time untuk hiburan tidak mengganggu aktivitas utama anak misalnya belajar, sekolah, tidur, dan kegiatan penting lainnya.

Catatan penting lainnya bagi para orang tua adalah hindari menggunakan aplikasi pemantauan aktivitas online anak secara diam-diam. Hal ini menandakan adanya ketidakpercayaan kepada si anak. Akan lebih baik jika orang tua dan anak berbicara secara terbuka tentang penggunaan internet masing-masing. Seiring bertambahnya usia anak maka para orang tua perlu meninjau kembali strategi yang digunakan.



Anisa Setya Arifina
Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Tidar
Anggota JAPELIDI Indonesi

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)



Simak Video "Siswa-siswi di Solo Kembali Lakukan Pembelajaran Jarak Jauh"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia