Kapal Karam Nazi dari 80 Tahun Lalu Masih Berbahaya, Kenapa?

Kapal Karam Nazi dari 80 Tahun Lalu Masih Berbahaya, Kenapa?

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 15 Nov 2022 08:00 WIB
Sebuah Kapal Motor (KM) Ladang Pertiwi tenggelam di Selat Makassar. KM tujuan Kepulauan Liukang Kalmas, Kabupaten Pangkep itu membawa 43 penumpang
Ilustrasi kapal tenggelam. Foto: Dok. detikcom
Jakarta -

Bangkai kapal kerap menjadi salah satu atraksi wisata di berbagai negara. Namun, kapal Nazi yang karam pada 1942 di dasar Laut Utara, lepas pantai Belgia lebih baik tidak dikunjungi.

Kapal patroli Nazi tersebut semula ditenggelamkan oleh pesawat tempur Inggris. Kini, bangkai kapal bersejarah tersebut terletak di kedalaman sekitar 35 meter dan masih mengandung bahan kimia berbahaya, seperti dikutip dari Live Science.

Semula, bangkai kapal Nazi tersebut adalah kapal penangkap ikan John Mahn asal Jerman yang dirilis tahun 1927. Namun, kapal ini diambil alih Angkatan Laut Jerman saat Perang Dunia II pecah pada tahun 1939. Namanya diganti menjadi kapal patroli Kriegsmarine V-1302 di bawah Nazi.

Kriegsmarine bertugas di Operasi Cerberus sebagai pengawal kapal penjelajah berat Prinz Eugen dan kapal perang Scharnhorst & Gneisenau menuju Jerman lewat Selat Inggris. Namun, kapal ini ditenggelamkan oleh pengebom Inggris pada 12 Februari 1942. 12 Awak tewas dan 26 lainnya diselamatkan.

Polutan di Kapal Karam

Penelitian Josefien Van Landuyt dkk dalam jurnal Frontiers in Marine Science mendapati, bangkai kapal tersebut masih mengeluarkan polutan bahan bakar seperti hidrokarbon aromatik polisiklik, logam berat, dan bekas bahan peledak.

"Logam berat itu bisa berasal dari berbagai sumber. Logam di dalam bangkai kapal itu sendiri bisa jadi sumber ion logam, serta bahan bakar (batubara), cat, dan pelumas," kata Maarten De Rijcke, peneliti dari Flanders Marine Institute, Belgia.

"Lalu hidrokarbon aromatik polisiklik (bahan kimia alami dari batu bara, minyak mentah, dan bensin) dan bahan peledak itu dari muatan bahan bakar fosil dan amunisi," imbuhnya. Isi amunisi ini sebelumnya dilaporkan oleh penyelam rekreasi (nonpeneliti).

De Rijcke menuturkan, tingkat toksisitas polutan beracun tidak cukup berbahaya setelah karam selama 80 tahun. Namun, kandungan logam yang tinggi dan senyawa eksplosif tetap bahaya.

Di samping itu, ada mikroba korosif Rhodobacteraceae dan Chromotiaceae, serta bakteri perefuksi sulfat Desulfobulbia yang diduga menjadi penyebab korosi pada lambung baja kapal.

De Rijcke mengatakan, kapal penjelajah bersenjata berat dengan amunisi juga punya selongsong yang dapat terkorosi sehingga jadi pencemar.

Adaptasi Kehidupan Laut

Meskipun polutan kapal karam merusak lingkungan, ada tanda-tanda kehidupan laut beradaptasi dengan bangkai kapal. Penelitian Van Landuyt mendapati, tingkat biodiversitas di sekitar kapal bersejarah tersebut tinggi. Ada ikan, kepiting, krustasea lain, moluska, anemon laut, dan tumbuhan laut yang hidup di sana, dan menjadikan bangkai kapal sebagai terumbu buatan.

Di sisi lain, mikroorganisme di sekitar lambung kapal juga menjadikan bahan kimia polutan dari bangkai kapal sebagai makanan.



Simak Video "Cuaca Buruk, Kapal Bongkar Muat Batubara Karam di Perairan Banyuasin"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia