6 Sosok Pahlawan Nasional yang Menginspirasi Generasi Muda

6 Sosok Pahlawan Nasional yang Menginspirasi Generasi Muda

Anisa Rizki - detikEdu
Kamis, 10 Nov 2022 11:30 WIB
Profil Bung Tomo, sosok penting dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Foto: Situs Kebudayaan Kemdikbud/6 Sosok Pahlawan Nasional yang Menginspirasi Generasi Muda
Jakarta -

Hari Pahlawan Nasional diperingati setiap tanggal 10 November. Tahun ini, hari penting itu jatuh pada Kamis (10/11/2022). Momentum tersebut digunakan untuk mengenang sosok-sosok pahlawan yang telah gugur dalam pergerakan perjuangan bangsa Indonesia.

Dalam kaitannya, terdapat banyak pahlawan yang menginspirasi. Sebab, perjuangannya membawa perubahan terhadap bangsa Indonesia. Lantas, siapa saja pahlawan-pahlawan tersebut?

Dikutip dari berbagai sumber, berikut 6 sosok pahlawan nasional yang menginspirasi.

6 Sosok Pahlawan Nasional yang Menginspirasi

1. Bung Tomo

Bung Tomo menjadi sosok penting yang mampu menggerakkan massa melalui orasinya. Bahkan, ia menjadi ikon perlawanan bangsa menentang pasukan asing pada tahun 1945 di Surabaya pada 10 November.

Dalam buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia terbitan Penerbit Narasi, disebutkan bahwa nama Bung Tomo identik dengan aksi heroisme rakyat Surabaya. Bung Tomo merupakan sosok pahlawan kelahiran Surabaya, 3 Oktober 1920.

Semangat patriotismenya terbukti sejak ia masih muda. Di usia 17, Bung Tomo menjadi anggota gerakan Kepanduan bangsa Indonesia (KBI) dan dipercaya sebagai Sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) Cabang Tembok Duku, Surabaya.

Kemampuannya dalam berorasi hadir di waktu yang tepat. Bung Tomo berhasil membakar semangat rakyat Surabaya lewat orasinya pada 10 November 1945.

2. Sukarno

Sukarno atau biasa disebut dengan Bapak Bangsa Indonesia. Perjuangannya berhasil membawa Indonesia mencapai puncak kemerdekaan.

Pria yang lahir pada 6 Juni 1901 di Blitar, Jawa Timur ini berhasil memperoleh gelar insinyur setelah lulus dari Technische Hoogeschool (THS) yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung atau ITB.

Sukarno muda banyak bertukar pikiran dengan tokoh pergerakan nasional, seperti H.O.S Tjokroaminoto, Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Ahmad Hasan, seperti dikutip dari buku Cinta Pahlawan Nasional Indonesia tulisan Pranadipa Mahawira.

Pada 4 Juli 1927, Sukarno mendirikan sebuah partai dengan nama Partai Nasional Indonesia (PNI). Dengan begitu, kemampuannya dalam orasi semakin terasah. Pahlawan nasional yang dijuluki Putra Sang Fajar ini semakin ulung sebagai orator.

Ia dikenal dengan pidatonya yang membakar semangat juang. Kala itu, banyak rakyat yang rela tinggal berlama-lama hanya untuk mendengarkan Sukarno berpidato.

Pada 1 Maret 1945, dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) oleh Jepang dengan menunjuk Ir Sukarno sebagai ketua. Pada sidang pertama BPUPKI, Sukarno mengemukakan rumusan Dasar Negara Indonesia yang sekarang dikenal sebagai Pancasila.

Mulanya, Sukarno membuat perjanjian dengan Jepang dan menetapkan kemerdekaan Indonesia pada 7 September 1945. Sehingga, BPUPKI dibubarkan dan dibentuk panitia baru yakni PPKI.

Gagasan-gagasan Pancasila disempurnakan melalui Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia dan lagi-lagi, Ir Sukarno kembali ditunjuk sebagai ketua. Karena satu dan lain hal, tanggal kemerdekaan Indonesia sempat berubah-ubah menjadi 24 Agustus sebelum akhirnya diumumkan pada 17 Agustus 1945.

Setelahnya, ia bersama Drs Mohammad Hatta ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Selama masa kepemimpinannya, Sukarno meletakkan Pancasila sebagai dasar ideologi Republik Indonesia. Ia wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970.

3. Ki Hajar Dewantara

Pemilik nama asli RM Suwardi Suryaningrat ini lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Ia menyelesaikan sekolah dasarnya di sekolah dasar Belanda, yakni ELS pada tahun 1904. Lalu, ia melanjutkan ke sekolah guru zaman Belanda, Kweekschool selama satu tahun.

Ki Hajar Dewantara meneruskan pendidikannya ke sekolah dokter Stovia di Batavia yang kini Jakarta. Ia memperoleh beasiswa dari pemerintah Belanda pada tahun 1905, namun bantuan dana pendidikan itu dihentikan pada 1910.

Sebagai salah satu pahlawan nasional yang menginspirasi, perjuangan Ki Hajar Dewantara cukup beragam. Salah satunya mendirikan organisasi politik pertama di Indonesia pada 25 Desember 1912 yang dikenal sebagai Indische Partij bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo.

Kemudian, pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa yang berlokasi di Yogyakarta. Perguruan Nasional Taman Siswa ini berusaha menanamkan rasa kebangsaan pada peserta didik.

Mengutip dari buku Horizon IPS yang disusun oleh Drs Sudjatmoko Adisukarjo dkk, banyak lika-liku yang ia alami ketika membangun Taman Siswa, mulai dari penutupan paksa oleh Pemerintah Belanda, hingga pembubaran oleh Jepang.

Kiprahnya pasca kemerdekaan yakni diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama di Indonesia. Kemudian, pada tahun 1946, ia menjadi Ketua Panitia Penyelidik Pengajaran.

Sayangnya, kesehatan Ki Hajar Dewantara kian memburuk hingga akhirnya ia mengundurkan diri dari jabatan pemerintahan pada tahun 1959. Di tahun yang sama, ia mengembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta.

Atas perjuangannya di bidang pendidikan, pemerintah menetapkan hari lahir Ki Hajar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional.

4. Raden Ajeng Kartini

RA KartiniRA Kartini Foto: Arsip Nasional RI

Mengutip dari sumber yang sama, RA Kartini merupakan salah satu pahlawan nasional pejuang emansipasi wanita. Putri dari Bupati Jepara ini lahir di Jawa Tengah pada 21 April 1879.

Setelah mengenyam pendidikan di jenjang sekolah rakyat (SD), Kartini ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Sayangnya, kedua orang tuanya melarang.

Walau begitu, ilmu pengetahuan terus didapatkan oleh Kartini karena gemar membaca buku dan majalah. Ia juga memiliki teman bangsa Belanda yang bernama Abendanon. Keduanya saling surat-menyurat.

Dari hasil surat menyurat itu, Kartini membandingkan kemajuan wanita Eropa dengan Indonesia. Menurutnya, wanita Indonesia sangat terbelakang, sehingga muncullah niat untuk memajukan kaum wanita agar mendapat kesetaraan seperti kaum pria melalui pendidikan.

Kartini lantas mendirikan sekolah kaum wanita yang muridnya berasal dari kerabat dekat. Ia juga memiliki keinginan untuk bersekolah di luar negeri, namun ketika ingin melanjutkan itu, ia justru dinikahkan dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, oleh orang tuanya.

Alhasil, impiannya untuk bersekolah di luar negeri pun gagal. Namun, sang suami mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah kaum wanita. Ia meninggal dunia pada 17 September 1904.

5. Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Jawa Barat, 4 Desember 1884. Ia merupakan tokoh yang berperan dalam bidang pendidikan untuk anak perempuan di Jawa Barat. Sama dengan RA Kartini, ia merupakan pelopor emansipasi wanita melalui pendidikan.

Pada tanggal 16 Januari 1904, Dewi Sartika mendirikan sekolah yang bernama Sekolah Istri berkat dukungan kakeknya, yaitu Martanegara dan Den Hamer. Di sekolah itu, ia mengajarkan para murid berhitung, membaca, menulis, menjahit, hingga menyulam.

Lalu, pada tahun 1910, nama sekolahnya berganti menjadi sekolah Kautaman Istri. Dewi Sartika tutup usia di tahun 1947.

6. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Nanggroe Aceh Darussalam pada 1850. Ia berasal dari keluarga bangsawan dan merupakan seorang putri dari tokoh masyarakat bernama Nanta.

Pendidikan Cut Nyak Dien tidak melalui jalur formal, melainkan lingkungan sekitar rumahnya. Ia belajar membaca dan menulis huruf Arab, serta mengaji dari masjid. Wawasan pengetahuan ia dapatkan dari teladan orang tuanya.

Perjuangan Cut Nyak Dien dibagi menjadi dua bagian, mulai dari mendampingi sang suami melawan penjajah, hingga berjuang sendiri memimpin rakyat memerangi Belanda. Perlawanan ia lakukan dengan cara berpindah-pindah dan penuh kewaspadaan.

Sayangnya, Cut Nyak Dien ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Selama di sana, ia dihormati sebagai seorang bangsawan.

Cut Nyak Dien meninggal dunia pada 6 November 1908. Untuk menghargai jasa-jasanya, ia ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia.



Simak Video "Momen Polisi di Magelang Upacara Hari Pahlawan Pakai Kostum Pejuang"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia