Kenapa Orang Suka Konten Horor? Begini Penjelasannya

Kenapa Orang Suka Konten Horor? Begini Penjelasannya

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 05 Nov 2022 21:00 WIB
Ilustrasi Game Horor
Kenapa orang suka konten horor? Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Tidak semua orang suka konten horor. Namun, orang yang suka konten horor bisa menikmatinya lewat beragam medium, mulai dari film horor, cerita seram, buku horor dari kisah nyata, hingga podcast horor. Saking sukanya, mengonsumsi konten horor bisa jadi bagian keseharian.

Kesukaan orang pada konten horor mendukung industrinya tumbuh. Film KKN di Desa Penari (2022), contohnya. Film itu menggaet 9,2 juta penonton kendati menunda penayangan sejak 2020. Sementara itu, Pengabdi Setan (2017) meraih 4,2 juta penonton.

Kisah-kisah yang diangkat ke layar lebar juga di antaranya muncul dari forum Kaskus hingga cuitan di Twitter yang meraih puluhan ribu likes serta retweet. Di ranah media sosial tersebut, kisah horor juga meraup puluhan ribu hingga jutaan penonton di YouTube serta pendengar di Spotify.

Di balik pencapaian di atas, apa penyebab kegemaran manusia menikmati konten horor tersebut?

Kenapa Orang Suka Konten Horor?

1. Merasakan Stimulasi

Salah satu alasan orang menggemari konten horor karena menjadi cara untuk merasakan stimulasi suara, kata-kata, dan visual menyeramkan.

Pakar pemasaran Haiyang Yang dan Kuangjie Zhang mendapati, adegan menyeramkan, bahkan adegan sebelum peristiwa seram terjadi, menstimulasi mental, dan fisik manusia menjadi cemas, takut, bersemangat, sekaligus senang. Pada tubuh, respons pada stimulasi tersebut muncul dalam rupa merinding atau menggigil.

Kata horor berakar dari kata bahasa Yunani phryke yang artinya bergidik. Kata ini mewakili pengalaman fisik berupa menggigil, bergidik, dan merinding.

Dalam tulisannya, The Psychology Behind Why We Love (or Hate) Horror, disebutkan bahwa rasa takut memicu hormon adrenalin yang meningkatkan sensasi dan energi tubuh, seperti dikutip dari laman Harvard Business Review.

G Neil Martin dari School of Psychotherapy and Psychology, Regent's University London menuturkan, elemen suara dalam konten horor dirancang untuk membuat penonton takut dan tegang, seperti dikutip dari (Why) Do You Like Scary Movies? A Review of the Empirical Research on Psychological Responses to Horror Films.

Salah satu bentuk elemen suara di film horor penggunaan suara keras setelah beberapa lama hening, yang juga disebut sebagai suara jumpscare. Suara tersebut umum diikuti penampakan, bayangan yang seharusnya tidak ada, atau lainnya. Pada film Psycho, contohnya, digunakan suara biola yang menusuk dan melengking pada adegan terbunuhnya salah satu karakter di kamar mandi.

2. Merasakan Pengalaman yang Tidak Muncul di Keseharian

Konten horor juga memungkinkan penikmatnya menyelami dunia alternatif. Pengalaman supernatural atau gaib, dunia zombie dan monster, serta kehidupan penjahat yang diceritakan dalam konten tersebut membuat manusia merasa sudah mencoba hal-hal baru yang beda dari rutinitas sehari-hari.

Perasaan lega juga dapat muncul setelah terstimulasi, terutama jika film berakhir dengan karakter atau hal antagonis dapat dikalahkan. Sebab, kondisi tersebut akan merilis hormon endorfin di otak sehingga peptida-peptidanya memicu penikmat konten horor jadi merasa lebih rileks dan segar di akhir konten.

Konten horor, seperti film, cerita, novel, teater, hingga podcast horor sendiri umumnya ditandai dengan keberadaan makhluk, baik dari dunia supernatural atau dunia fiksi sains, yang seharusnya tidak ada di dunia nyata.

Sementara itu, konten sub genre horor bisa tidak menyertakan makhluk-makhluk seperti itu, seperti dalam film slasher atau thriller. Namun, perilaku buruknya dan suasana tidak nyaman diwakilkan lewat tokoh-tokoh antagonis hingga kejadian ganjil yang harus dikalahkan.

3. Menelusuri Hal-hal Buruk dalam Manusia secara Aman

Perlu digarisbawahi, orang secara psikologis dapat menikmati rasa takut jika merasa aman.

Konten horor dapat menawarkan rasa aman tersebut saat penikmatnya menelusuri sisi-sisi buruk manusia di cerita tersebut. Contoh, penonton film horor Hannibal dapat mempelajari bagaimana seorang tokoh pembunuh berantai menghadapi hal-hal gelap dari dirinya sendiri maupun tokoh lain, tanpa harus bertemu penjahat sungguhan di kehidupan nyata.

Rasa Senang Bisa Hilang

Jika menonton di situasi yang rasanya tidak aman, pengalaman menikmati konten horor jadi tidak lagi menyenangkan. Contohnya, terdengar suara orang bercakap-cakap di dapur atau suara orang bernyanyi sambil mandi di kamar mandi, padahal penonton sedang sendirian di rumah menonton film.

Rasa aman juga wajib dirasakan secara psikologis untuk bisa menikmati konten horor secara utuh. Contoh, saat tokoh jahat mengejar calon korban, penonton secara psikologis dapat memberi jarak dengan yang terjadi di layar, merasionalisasi bahwa adegan tersebut hanya hasil dari akting aktor dan latar pendukung yang sangat bagus.

Ketika rasa aman di atas hilang, maka konten horor jadi tidak semenyenangkan semula. Ini juga berisiko menyebabkan sejumlah orang tidak suka menonton film horor, cerita seram, dan podcast horor.



Simak Video "Dibintangi Aura Kasih, 'Rumah Iblis' Siap Syuting di Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia