Sejarah Obat Sirup, Pereda Batuk hingga Penenang Bayi Tumbuh Gigi

Sejarah Obat Sirup, Pereda Batuk hingga Penenang Bayi Tumbuh Gigi

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 21 Okt 2022 09:00 WIB
Mrs. Winslows Soothing Syrup, obat sirup di akhir 1800-an yang menimbulkan korban jiwa.
Mrs. Winslow's Soothing Syrup, obat sirup di akhir 1800-an yang menimbulkan korban jiwa. Foto: DEA Museum AS
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menginstruksikan agar tenaga medis pada fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk dokter, tidak meresepkan obat cair atau obat sirup kepada pasien setelah muncul kasus Acute Kidney Injury (AKI) atau gagal ginjal akut pada anak.

Instruksi Kemenkes ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor SR.01.05/III/3461/2022 tentang Kewajiban Penyelidikan Epidemiologi dan Pelaporan Kasus Gangguan Ginjal Akut Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury/AKI) pada Anak.

Kemenkes juga menginstruksikan agar seluruh apotek tidak menjual obat bebas maupun obat bebas terbatas dalam bentuk cair untuk sementara waktu kepada masyarakat. Merespons kasus ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau untuk menghindari dulu pemberian obat batuk atau parasetamol sirup kepada anak.

Kasus gagal ginjal akut serupa dilaporkan terjadi di Gambia. Sebanyak 99 anak meninggal dunia usai mengonsumsi sirup obat parasetamol buatan Maiden Pharmaceutical Ltd, India.

"Keempat produk obat tersebut yaitu Promethazine Oral Solution, Kofexmalin Baby Cough Syrup, Makoff Baby Cough Syrup, dan Magrip N Cold Syrup," bunyi pernyataan World Health Organization (WHO). "Mohon jangan dikonsumsi."

Jika kini penggunaan obat sirup dilarang, mengapa obat ini dapat digunakan sejak beberapa abad lalu?

Sejarah Obat Sirup

Di awal tahun 1800-an, orang di Amerika Serikat (AS) berobat dengan mengunjungi apotek setempat. Petugas apotek lalu akan meramu bahan obat dari tumbuhan dan mineral. Orang yang berobat melihat prosesnya seperti menonton barista mencampur bahan minuman kopi, seperti dikutip dari laman The United States Pharmacopeial Convention.

Salah satu risiko dari obat cair ini yaitu, air yang tercemar dan dosis yang tidak tepat, baik terlalu banyak atau telalu sedikit. Masyarakat lalu mulai mencoba pengobatan alternatif dan ke shaman atau dukun.

Namun, khasiat obat-obatan tradisional mulai tidak dipercaya. Dosen dan dokter Lyman Spalding dari New York, AS lalu membentuk US Pharmacopeia pada Januari 1820 untuk menetapkan standar kualitas obat sehingga dapat melindungi kesehatan masyarakat.

Obat Batuk dengan Kandungan Candu

Di akhir tahun 1800-an, orang Amerika umum menggunakan obat sirup untuk meredakan batuk. Namun, obat sirup ini mengandung opium atau candu.

Opium adalah obat yang dihasilkan dari tanaman opium poppy. Kendati dulu dinilai bermanfaat, opium membuat ketergantungan atau kecanduan.

Di akhir 1800-an, beredar One Night Cough Syrup. Obat batuk ini mengandung alkohol, ganja, kloroform, dan morfin. Obat ini merupakan obat over-the-counter (OTC) atau obat yang dijual bebas di pasaran, seperti dikutip dari Healthline.

Obat ini menjanjikan batuk berkurang dalam satu malam sehingga pasien bisa tidur nyenyak. Namun, dengan bahan dan kandungannya, tidak heran obat ini membuat pengonsumsinya cepat hilang kesadaran.

Di samping opium, obat-obat batuk di tahun 1800-an juga mengandung morfin. Morfin adalah opiat turunan dari tumbuhan poppy. Opiat adalah senyawa narkotika yang ada di tiap kandungan obat sebagai penghilang rasa nyeri.

Semula, morfin digunakan untuk meredakan nyeri, terutama bagi veteran American Civil War (Perang Saudara). Morfin juga lalu dijadikan bahan tambahan di obat batuk sirup sebagai pereda batuk (cough suppressant).

Perusahaan Jerman Bayer lalu membuat heroin, obat-obatan yang terbuat dari morfin dan memasukkannya pada sirup batuk sebagai pereda batuk pada 1895 dengan branding lebih aman daripada kandungan morfin, meskipun ternyata sama-sama berbahaya.

Menimbulkan Korban Jiwa

Opium kerap digunakan untuk dasar struktural kimia bagi obat-obatan pereda nyeri. Untuk itu, orang tua di masa itu bahkan memberikan obat batuk sirup mengandung opium pada bayinya agar nyeri tumbuh gigi berkurang.

Obat sirup Mrs. Winslow's Soothing Syrup merupakan obat yang dikenal pada tahun 1800-an. Obat sirup Mrs. Winslow disebut sebagai obat paten, seperti dikutip dari laman Drug Enforcement Administration (DEA) Museum AS.

Istilah obat paten saat itu dipakai untuk menyebut obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter.

Obat ini dibuat perawat anak (pediatri) Charlotte Winslow untuk menenangkan anak rewel, baik yang menangis, sedang tumbuh gigi, bahkan terkena disentri. Kandungan opium diketahui memiliki efek samping konstipasi. Alhasil, obat juga digunakan untuk menghentikan diare.

Di samping informasi khasiatnya, iklan obat sirup Mrs. Winslow's Soothing Syrup juga dibuat warna-warni menarik di kartu ucapan dan kalender bergambar ibu memeluk bayi yang sedang tenang.

Namun, mulai bermunculan korban jiwa bayi yang tertidur setelah minum obat sirup Mrs. Winslow dan tidak bangun lagi. Orang tua para bayi rupanya tidak tahu bahwa obat-obat ini mengandung kadar morfin dan alkohol yang berbahaya bagi bayi.

Morfin bisa menyebabkan kecanduan pada semua usia, tetapi dapat menyebabkan kematian pada bayi kendati dalam dosis kecil.

Mrs. Winslow's Soothing Syrup diproduksi menantu Winslow, peramu obat-obatan Jeremiah Curtis dan rekannya Benjamin Perkins di Maine, AS. Obat ini beredar di Amerika Utara sampai Inggris. Penjualannya mencapai lebih dari 1,5 juta botol per tahun, seperti dikutip dari Wood Library Museum of Anesthesiology.

Penggunaan obat sirup mengandung opium juga marak di akhir tahun 1800-an ke awal 1900-an karena belum ada aturan ketat dalam pelabelan obat. Di samping itu, bahaya dan efek candu morfin juga belum diketahui saat itu.

Baru pada 1906, Undang-Undang Makanan dan Obat-obatan Murni disahkan setelah protes masyarakat atas obat-obatan dan makanan tercemar. Undang-undang ini mewajibkan produsen mencantumkan bahan-bahan di produk makanan dan obat.

Obat sirup Mrs. Winslow kelak dilarang menggunakan bahan morfin dan kata 'soothing' di mereknya. Obat ini juga dilarang oleh American Medical Association pada 1911. Namun, obat Mrs. Winslow masih dijual sampai 1930-an.

Kandungan Obat Sirup Batuk saat Ini

Obat batuk sirup saat ini masih beredar, namun dengan bahan-bahan yang diriset lebih jauh dan kemasan berlabel. Kandungan obat batuk sirup saat ini antara lain pereda batuk dextromethorphan (DXM), codeine, benzonatate, menthol, camphor, minyak eucalyptus, madu, dan ekspektoran dahak guaifenesin.

Dikutip dari Healthline, obat sirup batuk yang dijual bebas tetap punya risiko berbahaya jika dikonsumsi tidak sesuai anjuran. Untuk itu, pengguna perlu mengetahui cara kerja, dosis, dan resepnya, serta disarankan tetap berkonsultasi dengan dokter.



Simak Video "Nasib 5 Obat Cair yang Dinyatakan Berbahaya: Ditarik dan Dimusnahkan"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/rah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia