Kisah Hidup Jenderal Bintang Lima di Indonesia, Begini Jasanya

Kisah Hidup Jenderal Bintang Lima di Indonesia, Begini Jasanya

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 08 Okt 2022 16:15 WIB
AH Nasution dari buku Jenderal Tanpa Pasukan Politisi Tanpa Partai
Foto: Dok. Buku Jenderal Tanpa Pasukan Politisi Tanpa Partai (grafitipers)
Jakarta -

Jenderal Besar Bintang Lima adalah pangkat tertinggi dalam kemiliteran Indonesia. Hanya tiga perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mendapat pangkat ini.

Kisah hidup para pemilik pangkat Jenderal Besar Bintang Lima tidak main-main. Salah satu perwira tinggi pun memimpin gerilya dalam keadaan sakit keras dan ditandu.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 1997, pemilik pangkat Jenderal Bintang Lima merupakan Perwira Tinggi yang sangat berjasa terhadap bangsa dan negara.

"Pangkat Jenderal Besar Tentara Nasional Indonesia, Laksamana Besar Tentara Nasional, dan Marsekal Besar Tentara Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya diberikan kepada Perwira Tinggi yang sangat berjasa terhadap perkembangan bangsa dan negara pada umumnya dan Tentara Nasional pada khususnya," bunyi pasal 7 Ayat (2a) PP No. 32 Tahun 1997.

Salah satu jasa besar yang dipertimbangkan dalam pemberian pangkat Jenderal Besar Bintang Lima oleh Presiden atas usul Panglima ABRI (kini TNI) tersebut yakni tidak pernah berhenti dalam perjuangannya dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan RI.

Di samping itu, jasa yang dipertimbangkan dalam pemberian pangkat ini yaitu memimpin perang besar dan berhasil dalam pelaksanaan tugasnya. Pertimbangan jasa besar selanjutnya yakni meletakkan dasar-dasar perjuangan ABRI.

Tiga Jenderal Besar Bintang Lima di Indonesia yaitu Jenderal Besar Sudirman, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, dan Jenderal Besar Soeharto. Seperti apa kisah hidupnya?

Kisah Hidup Jenderal Bintang Lima di Indonesia

Jenderal A.H. Nasution

AH Nasution dianugerahi pangkat kehormatan menjadi Jenderal Besar TNI sebagaimana tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 46/ABRI/1997, pada 30 September 1997.

A.H. Nasution tercatat sebagai peletak dasar perang gerilya melawan Belanda saat memimpin pasukan Siliwangi pada masa Agresi Militer I Belanda, seperti dikutip dari laman Pusat Sejarah TNI.

Nama A.H Nasution juga dikenal sebagai salah satu target peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S PKI) saat menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata pada 1965.

A.H. Nasution selamat saat itu, tetapi harus kehilangan anak bungsunya, Ade Irma Suryani yang menjadi korban tragedi G30S tersebut.

Kelahiran Huta Pungkut, Kecamatan Kotanopan, Tapanuli Selatan, pada 3 Desember 1918 ini semula sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Merasa kucang cocok, ia mulai berkecimpung di bidang militer.

Ia pun mengikuti rangkaian pendidikan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) KNIL atau Korps Pendidikan Perwira Cadangan di Bandung pada 1940-1942. Usai studi, ia diangkat jadi pembantu letnan calon perwira di Batalion 3 Surabaya, Kebalen.

Saat Perang Dunia II, Batalion 3 ditugaskan untuk mempertahankan pelabuhan Tanjung Perak. Setelah kemerdekaan Rakyat Indonesia, ia menjadi Kepala Staf Komandemen Tentara Keamanan Rakyat (TKR) I/Jawa Barat. A.H. Nasution bertugas menyusun organisasi dan administrasi.

Ia lalu menjadi Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) pada 1948, lalu bergerak menjadi Jenderal Mayor. A.H. Menjabat Panglima Divisi III/TKR Priangan yang juga dikenal menjadi Divisi I/Siliwangi.

Kelak, setelah diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1949, A.H. Nasution sempat dinonaktifkan akibat konflik antara Angkatan Darat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena dianggap terlalu jauh mencampuri masalah internal Angkatan Darat.

Jenderal A.H. Nasution wafat pada 6 September 2000 akibat menderita stroke dan berujung koma. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Selanjutnya>>



Simak Video "Panglima TNI Angkat Bicara soal KSAD Absen di Rapat Komisi I DPR"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia