Saat Diponegoro Diasuh Ulama Perempuan hingga Jadi Seorang Santri

Saat Diponegoro Diasuh Ulama Perempuan hingga Jadi Seorang Santri

Fahri Zulfikar - detikEdu
Jumat, 07 Okt 2022 20:30 WIB
Ilustrasi Pangeran Diponegoro
Foto: Rengga/Pangeran Diponegoro
Jakarta -

Arista Nur Rizki, Mahasiswa Magister Susastra Universitas Diponegoro (Undip) mengungkap sisi lain Pangeran Diponegoro semasa hidup melalui riset tesis hermeneutika.

Riset tersebut dilakukan dengan menggunakan objek teks Babad Diponegoro, yang telah diakui UNESCO sebagai Memory of The World (MoW) atau Warisan Ingatan Dunia.

Arista menyelesaikan penelitian tesis dengan judul "Lingkaran Hermeneutika Teks Babad Diponegoro dalam Lukisan The Garden of Earthly Prosperity in Ground Zero karya Isur Suroso (Sebuah Pendekatan Hermeneutika Paul Ricoeur)."

Menurutnya, objek kajian menggunakan Babad Diponegoro memiliki urgensi tersendiri bagi mahasiswa Undip, khususnya jurusan sastra dan sejarah.

"Objek Babad Diponegoro harus menjadi perhatian khusus, karena Pangeran Diponegoro yang menjadi nama kampus Undip meninggalkan sebuah harta karun berupa Babad Diponegoro," jelasnya dikutip dari laman Undip.

Kisah Pemimpin Perang Jawa yang Jarang Terungkap

Dalam catatan sejarah yang banyak diketahui, Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pahlawan pada masa Perang Jawa.

Padahal menurut Arista, ada kisah lain dari Pangeran Diponegoro yang jarang disinggung dalam sejarah, yakni pada masa mudanya.

"Kalau untuk hal menarik yang jarang disinggung orang tentang Pangeran Diponegoro menurut saya tentang kisah masa mudanya. Rata-rata, masyarakat kita tahu sosok Pangeran Diponegoro sebagai seorang pahlawan di masa Perang Jawa," ungkapnya kepada detikEdu, Jumat (7/10/2022).

"Padahal kisah sebelum Pangeran Diponegoro menjadi pemimpin perang Jawa juga menarik dan sering luput dari perhatian," imbuh Arista.

Diasuh Ulama Perempuan, Istri HB I

Arista menerangkan bahwa salah satu kisah yang menarik yakni saat Pangeran Diponegoro berada di bawah asuhan nenek buyutnya, yakni GKR Ageng Tegalreja.

GKR Ageng Tegalreja adalah istri dari Hamengkubuwana I (HB I) yang merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang memerintah tahun 1755-1792.

"Sejak kelahirannya, memang Pangeran Diponegoro telah diprediksi oleh HB I bakal membuat huru-hara terhadap Belanda yang lebih parah daripada yang telah dilakukannya," ucap Arista saat menerangkan risetnya.

"HB I kemudian berpesan kepada sang istri, GKR Ageng Tegalreja, untuk selalu membawa dan mengasuh Pangeran Diponegoro," tambahnya.

Diketahui pada masa itu, GKR Ageng Tegalreja adalah putri dari salah satu ulama terkenal yakni Ki Ageng Derpoyudo. Hal ini embuat GKR Ageng Tegalreja pada masanya dijuluki sebagai ulama perempuan.

Latar belakang inilah yang juga membuat pola asuh dan pendidikan yang dibawakan GKR Ageng Tegalreja kepada Diponegoro kecil amat melekat pada dirinya.

"Hal ini menjadikan Diponegoro sebagai Pangeran yang 'ngawula alit', membaur dengan masyarakat Tegalrejo yang mayoritas adalah kaum santri dan kesehariannya bertani," ujar Arista.

Jadi Santri hingga Dekat dengan Para Ulama

Arista juga memaparkan bahwa dalam proses laku santrinya, Pangeran Diponegoro sering mendalami 'tapa lelana' atau bertapa sembari berkelana.

Pangeran Diponegoro juga dikenal sebagai pribadi yang sangat menjunjung tinggi ulama. Bahkan pemimpin perang Jawa ini sering datang dan singgah dari satu tempat ke tempat lain untuk menimba ilmu agama.

"Pangeran Diponegoro juga terkesan dekat dengan ulama-ulama yang berada di wilayah Masjid Pathok Nagari Yogyakarta, seperti Kiai Gedhe Dadapan, Kiai Taptojani, Kiai Mojo, dan Kiai Guru Kasongan," tuturnya.

Diketahui, saat menjadi seorang santri, Pangeran Diponegoro juga mendalami Tarekat Syattariyah pengaruh dari Syekh Haji Abdul Muhyi Pamijahan.

"Hal ini lantaran sanad keguruan dari GKR Ratu Ageng Tegalreja menyambung ke sana," tutur mahasiswa dengan IPK 4 ini.

Arista mengaku, penelitiannya terkait kisah lain Pangeran Diponegoro tak akan hanya berhenti pada riset tesis ini saja.

Ia akan melanjutkan penelitian untuk menampilkan Pangeran Diponegoro secara utuh. Tujuannya agar generasi ke depan bisa meneladani sosoknya sebagai penunjang integritas sebagai bangsa Indonesia dari berbagai generasi.

"Tentu masih ingin meneliti lagi, karena masih banyak fakta-fakta menarik tentang Pangeran Diponegoro di dalam Babadnya (Babad Diponegoro) yang juga penting untuk diulas," ujarnya.

"Kemungkinan ke depannya, saya ingin mencoba menulis sebuah buku, berpedoman dari hasil penelitian tesis yang sudah saya buat. Tapi tentu akan coba saya kembangkan lagi," tutup mahasiswa magister Undip yang telah melakukan sidang pada Agustus 2022 lalu.



Simak Video "Kelompok Ortu Murid SDN Pocin 1 Bawa Pengacara ke Kantor Walkot Depok"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia