Mengenal Suku Baduy, Suku yang Mendiami Wilayah Bebas Jajahan

Mengenal Suku Baduy, Suku yang Mendiami Wilayah Bebas Jajahan

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Senin, 03 Okt 2022 17:33 WIB
Suku Baduy
Potret warga dari Suku Baduy. (Agus Paryanto/d'Traveler)
Jakarta -

Suku Baduy adalah suku yang berasal dari salah satu wilayah di Provinsi Banten. Suku ini dikenal dengan keteguhannya dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi.

Tinggal di daerah pedalaman yang sulit terjamah oleh dunia luar, modernisasi, dan teknologi tidak memiliki akses untuk masuk ke dalamnya.

Mengutip laman Kebudayaan Kemdikbud, orang Baduy tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Jarak desa tersebut dari pusat pemerintahan Provinsi Banten di Kota Serang mencapai 78 km.

Sejarah Singkat Suku Baduy

Dalam buku IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah) tulisan Nana Supriatna dkk, disebutkan bahwa suku Baduy berasal dari suku Sunda asli dan telah ada sejak 5 abad lalu.

Mereka menetapkan satu wilayah keramat yang disebut "Tanah Kanekes" dan menamai dirinya sebagai "Orang Kajeroan" yang artinya Baduy Dalam.

Sementara itu, penduduk yang tinggal di luar wilayah Kanekes dinamai dengan "Orang Pendamping" atau Baduy Luar.

Mereka dikenal memegang teguh pada salah satu aturan adat yang sering disebut pikukuh yang berarti tidak menggunakan kendaraan ke manapun mereka pergi.

Berdasarkan arsip detikcom, alat telekomunikasi hingga alat transportasi menjadi hal yang pantang hadir di desa tersebut. Orang-orang Baduy memiliki prinsip hidup sederhana dan secukupnya yang selalu dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

Suku Baduy Bebas dari Jajahan

Suku Baduy menjadi salah satu suku yang tak pernah tersentuh oleh kolonialisme. Bentang alamnya yang menantang jadi salah satu keuntungan bagi masyarakatnya.

Sebagai suku yang bebas dari penjajahan, ada fakta unik mengenai suku Baduy. Mereka mengelabui para penjajah dengan menciptakan kisah tentang Baduy Empat Puluh.

Dengan itu, mereka menyiarkan kabar bahwa penduduk Baduy hanya berjumlah 40 orang, sehingga para penjajah tidak tertarik untuk datang.

Aspek Kolom Agama di KTP

Menurut buku Studi Tentang Religi Masyarakat Baduy di Desa Kanekes Provinsi Banten oleh Toto Sucipto, Julianus Limbeng, dan Siti Maria, dasar religi orang Baduy adalah penghormatan pada roh nenek moyang dan kepercayaan kepada satu kuasa, Batara Tunggal Sang Hiyang Keresa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Mereka menyebut agamanya sebagai Sunda Wiwitan.

Beberapa tahun belakangan, kolom agama pada KTP dan KK warga Baduy diisi sebagai penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun, sebagian warga ada yang tidak sepakat dengan label tersebut dan memilih untuk tetap dicatat sebagai Sunda Wiwitan.

Untuk itulah, dilaporkan CNN Indonesia, pemuka masyarakat Baduy membolehkan warganya bila mereka memilih untuk mengosongkan kolom agama pada KTP. Hal ini berlaku sejak 2013-2017 karena adanya UU No 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan yang hanya mengakui 6 agama.

Pola Pemukiman Suku Baduy

Pola pemukiman suku Baduy dibangun dalam bentuk kampung. Jadi, setiap kampung dibangun di lokasi yang ada sumber air, baik itu mata air, sungai, atau selokan.

Selain itu, di kampung tersebut ada sejumlah bangunan rumah panggung dalam tataran mengelompok dan diatur sedemikian rupa, sehingga kumpulan rumah-rumah tersebut terletak di tengah.

Umumnya, rumah-rumah suku Baduy dibangun berhadap-hadapan dengan jarak antar rumah kira-kira 2-3 meter. Meskipun rumah mereka tanpa jendela, sinar matahari/udara luar tetap dapat masuk melalui celah-celah dinding.

Sementara itu, pada bagian pinggir luar didirikan tempat menumbuk padi (saung lisung), tempat mandi (tampian), dan di bagian yang lebih luar lagi ada lumbung padi (leuit) milik masing-masing keluarga.

Lalu, di tengah pemukiman terdapat lahan kosong, biasanya berupa lapangan atau halaman rumah. Fungsinya sendiri sebagai tempat bermain anak-anak atau menjemur pakaian dan aktivitas lainnya.

Nah, itulah pembahasan mengenai suku Baduy yang tidak pernah mengalami penjajahan. Semoga informasi di atas dapat menambah wawasan detikers, ya!



Simak Video "Si Pitung, Masjid di Tepi Pantai Marunda Tempat Si Pitung Belajar Agama, Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/rah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia