Sejarah Gas Air Mata yang Awalnya Dipakai saat Perang Dunia I

Sejarah Gas Air Mata yang Awalnya Dipakai saat Perang Dunia I

Kristina - detikEdu
Minggu, 02 Okt 2022 15:00 WIB
Polisi terus membubarkan massa aksi unjuk rasa berujung rucuh di kawasan Gambir. Massa pun kocar-kacir saat polisi tembakkan gas air mata
Ilustrasi polisi menembakkan gas air mata. Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Gas air mata adalah senjata kimia berupa gas yang dapat menyebabkan iritasi pada mata dan sistem pernapasan. Senjata ini sering kali digunakan untuk menghalau kericuhan massa.

Menurut Ensiklopedia Britannica, gas air mata disebut juga dengan lakrimator. Zat yang paling sering digunakan sebagai gas air mata adalah senyawa halogen organik sintetis.

Adapun, dua gas air mata yang paling umum digunakan adalah ω-chloroacetophenone atau CN dan o-chlorobenzylidenemalononitrile atau CS.

CN adalah komponen utama dari agen aerosol Mace dan banyak digunakan dalam pengendalian kerusuhan. Komponen ini menyebabkan iritasi terutama pada mata.

Sedangkan, CS adalah iritasi yang lebih kuat yang menyebabkan sensasi terbakar di saluran pernapasan dan menutup mata secara tidak sengaja, tetapi efeknya lebih cepat hilang, setelah 5 hingga 10 menit menghirup udara segar.

Senyawa lain yang digunakan atau disarankan sebagai gas air mata di antaranya bromoacetone, benzyl bromide, ethyl bromoacetate, xylyl bromide, dan α-bromobenzyl cyanide.

Zat tersebut dapat menyebabkan sensasi menyengat dan mengeluarkan air mata, mengiritasi saluran pernapasan bagian atas, menyebabkan batuk, tersedak, dan kelemahan umum lainnya.

Pertama Kali Digunakan dalam Perang Dunia I

Penggunaan gas air mata sebagai senjata kimia untuk melumpuhkan lawan sementara sudah berlangsung sejak Perang Dunia I (1914-1918). Saat itu, amunisi serupa gas air mata telah digunakan oleh Jerman dan Prancis.

Diberitakan detikNews, menurut artikel berjudul Tear Gas: From the Battlefields of World War I to the Streets of Today karya Anna Feigenbaum, Prancis menembakkan granat gas yang mengandung methylbenzyl bromide ke parit pertahanan Jerman pada Agustus 1914.

Jerman lantas membalasnya dengan jenis gas yang lebih mematikan, yakni gas klorin, di Ypres, Belgia, pada April 1915. Gas Jerman itu buatan mahasiswa kimia dan farmakologi bernama Willi Siebert.

Ketika Pasukan Ekspedisi Amerika memasuki perang pada 1917, mereka juga mengadopsi penggunaan eksperimental gas air mata dan bahan kimia yang mematikan.

Media massa The Times dari London menyebutnya sebagai 'Penemuan Paling Terkutuk'. Sebab, sudah ada Konvensi Den Haag pada 1899 yang melarang senjata kimia.

Mulai Digunakan untuk Usir Demo di AS

Gas air mata pertama kalinya digunakan untuk menjaga ketertiban pada tahun 1921 tepatnya di Amerika Serikat (AS). Jenderal Amos Fries merupakan motor di balik penggunaan gas air mata untuk keperluan nonperang kala itu.

Pada waktu itu di Philadelphia, Jenderal Fries dan rekan-rekannya melakukan praktik efek gas air mata di depan 200 polisi dan wartawan.

Semua mata polisi menjadi berair. Sejak saat itu, kepolisian di AS mulai tertarik dan akhirnya menggunakan gas air mata untuk menjaga ketertiban.

Pada 29 Juli 1932, gas air mata digunakan untuk membubarkan pejuang veteran yang berunjuk rasa menuntut gaji massa perang yang belum dibayarkan di Gedung Capitol, Washington DC. Peristiwa itu menewaskan dua orang dewasa dan dua anak-anak sesak napas.

Diadopsi Polisi sebagai Bagian Persenjataan

Anna menyebut, penggunaan gas air mata mencapai era keemasan pada tahun 1920-an. Melansir Science History, efektivitas bahan kimia untuk pengendalian kerusuhan ini cukup jelas.

Pasukan polisi di seluruh negeri segera mengadopsi gas air mata sebagai bagian standar dari persenjataan mereka.

Hanya dalam beberapa tahun, gas air mata telah beralih dari teknologi militer ke teknologi sipil. Pada akhir tahun 1923, lebih dari 600 kota dilengkapi dengan gas air mata, dan banyak yang telah menggunakannya secara efektif terhadap warga sipil.

Efeknya yang berlangsung singkat membuat gas air mata mulai digunakan oleh lembaga penegak hukum sebagai sarana untuk membubarkan massa, melumpuhkan perusuh, dan mengusir tersangka bersenjata tanpa penggunaan kekuatan mematikan.



Simak Video "Muncul Petisi Setop Penggunaan Gas Air Mata Usai Tragedi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia