Bolehkah Kita Meminum Air Hujan? Ini Kata Peneliti

Bolehkah Kita Meminum Air Hujan? Ini Kata Peneliti

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 26 Sep 2022 19:45 WIB
Boy stands outside as the rain pours down. He sticks out his tongue to taste the water falling from the sky.
Foto: iStock/Ilustrasi Air Hujan
Jakarta -

Pernahkan kamu menjulurkan lidah saat hujan dan meminum tetesan air hujan? Meski memiliki air yang bersih, namun apakah air hujan bisa diminum?

Mengutip laman Live Science, ada sejumlah kontaminan yang dapat berakhir di air hujan. Seperti bakteri, virus, parasit, debu, partikel asap, dan bahan kimia lainnya, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Apabila air hujan dikumpulkan dari atap, air juga bisa mengandung jejak yang ditinggalkan oleh hewan, seperti kotoran burung, bahan seperti asbes, timah, dan tembaga.

Jika air hujan disimpan dalam wadah terbuka, berpotensi juga penuh dengan serangga dan bahan organik yang membusuk, seperti daun mati.

Apakah Boleh Meminum Air Hujan?

Dengan berbagai alasan di atas, CDC menyarankan agar tidak mengumpulkan dan meminum air hujan. Namun, mereka merekomendasikan agar air hujan bisa digunakan untuk tujuan lain, seperti menyiram tanaman.

Adapun terkait tingkat kontaminasi air hujan sangat bervariasi tergantung di mana tempat tinggal.

Jika memiliki sistem pengumpulan air hujan yang bersih dan bisa mensterilkan dengan benar dengan bahan kimia atau dengan perebusan dan penyulingan, maka sebagian besar kotoran dapat dihilangkan.

Air Hujan Memiliki Konsentrasi PFAS

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada Agustus 2022 di jurnal Environmental Science & Technology, para peneliti menemukan bahwa air hujan di seluruh dunia memiliki konsentrasi PFAS beracun (zat alkil per dan polifluorinasi) yang melebihi standar pedoman kesehatan.

PFAS adalah istilah kolektif untuk lebih dari 1.400 bahan kimia dan zat buatan manusia yang secara historis telah digunakan untuk berbagai produk.

"Termasuk tekstil, busa pemadam kebakaran, peralatan masak anti lengket, kemasan makanan, rumput sintetis dan senar gitar," ucap Ian Cousins, seorang ahli kimia lingkungan di Universitas Stockholm di Swedia.

Dalam studi tersebut, peneliti mengumpulkan data dari sampel air hujan yang dikumpulkan di seluruh dunia.

Temuan PFAS yang masih berlimpah dalam air hujan telah melebihi konsentrasi standar pedoman keselamatan yang ditetapkan oleh EPA dan badan pengatur serupa lainnya di negara lain.

Apakah Air Hujan Tetap Bisa Diolah?

Cousins mengatakan bahwa dampak PFAS kemungkinan akan lebih besar di negara berkembang di mana jutaan orang bergantung pada air hujan sebagai satu-satunya sumber air minum.

Selain itu, di wilayah tertentu di negara maju, seperti Australia Barat, minum air hujan juga masih sangat umum dilakukan.


"Jika air hujan diolah dengan benar, masih belum ada jaminan bahwa PFAS akan hilang. PFAS juga dapat ditemukan dalam kadar rendah dalam air minum dari keran dan botol, meskipun seringkali pada tingkat yang aman," ucap Cousins.

"Tingkat PFAS pada akhirnya akan menurun saat air menuju ke laut dalam, tetapi ini adalah proses bertahap yang bisa memakan waktu beberapa dekade," tuturnya.



Simak Video "Langkah Produsen Air Mineral Hadapi Maraknya Galon Isi Ulang Oplosan"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia