Tribute to SMAN 8, Sebuah Memori Para Alumni dari Taman Bukit Duri

Resensi

Tribute to SMAN 8, Sebuah Memori Para Alumni dari Taman Bukit Duri

Anisa Rizky - detikEdu
Minggu, 25 Sep 2022 12:04 WIB
Buku Tribute to SMAN 8 Jakarta
Sejumlah alumni menuliskan kisah mereka tentang SMA 8 Jakarta dalam buku Tribute to SMAN 8 Jakarta (Foto: Anisa Rizki detikcom)
Jakarta -

Siapa yang tidak tahu SMAN 8 Jakarta? Sekolah unggulan yang terletak Jakarta Selatan itu terkenal dengan kualitas pengajarnya dan lulusan siswanya yang luar biasa.

Tak jarang, SMAN 8 Jakarta mencetak banyak lulusan terpandang. Bahkan, sekolah ini menjadi saksi sejarah Indonesia dari masa ke masa. SMAN 8 banyak menyimpan cerita dari tiap-tiap alumninya. Bukan sekadar kisah kasih klasik yang kerap dialami oleh remaja SMA, namun lebih dari itu.

Berdiri pada 1 Agustus 1958, SMAN 8 banyak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi di Indonesia pada era Bung Karno. Mulai dari pergolakkan politik hingga inflasi di tahun 60-an yang disebut sebagai krisis ekonomi terparah di Indonesia.

Selain itu, SMAN 8 Jakarta juga turut menjadi saksi dan pelaku perkembangan peraturan di bidang pendidikan, seperti penggunaan seragam yang sebelumnya tidak diwajibkan.

Kumpulan kisah tersebut dikemas secara menarik dan ringan melalui buku Tribute to SMAN 8 Jakarta: Kenang-kenangan dari Taman Bukit Duri yang disusun oleh alumnus SMAN 8 Jakarta itu sendiri, yakni Idrus F. Shahab dan Suradi.

Buku ini memuat banyak cerita dari para alumnusnya. Mereka mengenang masa-masa remajanya saat menjadi siswa SMAN 8 Jakarta sembari menyaksikan ragam peristiwa di eranya masing-masing.

Tiap-tiap alumni bercerita melalui kaca matanya masing-masing sambil mengingat kembali kepingan momen kala itu. Dibagi ke dalam 4 bab sesuai periode waktu, mulai dari era Bung Karno hingga Masa Transisi Orde Baru, Pak Harto dan Era 1970-an, Era 1980-an, dan terakhir Orde Baru hingga Reformasi, buku Tribute to SMAN 8 Jakarta membuat pembacanya seakan-akan terlempar ke dalam mesin waktu.

Pada bab awal buku, dijelaskan mengenai awal mula berdirinya SMAN 8 Jakarta. Tepatnya di tahun 1958, angkatan pertama SMAN 8 Jakarta melaksanakan kegiatan belajar mengajar pertama kalinya di sebuah bangunan yang disebut Gedung SGB (Sekolah Guru Bantu) yang terletak di Jalan Taman Slamet Riyadi, tepat sebrang SMA PKSD 3. Para siswa angkatan pertama itu mulai belajar pada pukul 13.00 siang hari, sebab saat pagi gedung itu difungsikan sebagai tempat siswa SGB belajar.

Ada cerita menarik mengenai tanggal berdirinya SMAN 8 Jakarta. Menurut Toety Emmidiarti, -alumnus SMAN 8 Jakarta angkatan pertama-, meski hari jadi sekolah itu ditetapkan pada 1 Agustus 1958. Namun sebetulnya kegiatan belajar belajar mengajar di gedung SGB baru mulai diadakan bulan September atau tepat satu bulan setelah sekolah-sekolah lain melangsungkan pembelajaran.

Menempati gedung SGB selama 3 bulan, para siswa SMAN 8 Jakarta angkatan pertama akhirnya pindah ke tempat lain untuk menumpang, tepatnya di SMPN 3 Jakarta yang terletak di Jalan Manggarai Utara IV. Setelahnya, barulah pada 30 Maret 1971 SMAN 8 Jakarta memiliki gedungnya sendiri yang berlokasi di Jalan Taman Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Peresmiannya dilakukan oleh Ali Sadikin, Gubernur Jakarta periode 1966-1977.

Kemudian, diceritakan juga mengenai aturan seragam sekolah yang belum diberlakukan. Saat itu, siswa SMAN 8 Jakarta tidak berkewajiban mengenakan seragam, namun cara berpakaian tetap harus diperhatikan sesuai dengan norma kesopanan. Aturan seragam ditentukan pada tahun 1967 dengan warna putih biru, kemeja putih, rok atau celana panjang biru.

Peraturan itu belum berlaku secara nasional dan menjadi seragam khusus SMAN 8 Jakarta atau Smandel nama bekennya. Hal tersebut diceritakan oleh Widyanti, salah satu alumnus yang membagi kisahnya dalam buku Tribute to SMAN 8 Jakarta. Tak sampai di situ, Smandel juga memiliki perbedaan yang terbilang unik terkait peraturan panjang rambut.

Menurut Wahyu Wibowo, sastrawan Indonesia yang juga mengisahkan ceritanya, aturan yang berlaku terkait pelarangan rambut gondrong di SMAN 8 Jakarta berbeda dengan SMAN lainnya. Sebab, di Smandel rambut siswa yang gondrong berarti telah menutupi telinga dan menyentuh kerah belakang atau leher. Biasanya, para guru piket akan melakukan pengecekan setiap upacara hari Senin.

Dikisahkan juga mengenai salah satu Kepala Sekolah SMAN 8 Jakarta, yaitu Ibu Dra. Hilma Dahnir, seorang Kepala Sekolah Smandel yang sukses menyihir banyak murid dengan kharismanya. Hal ini diakui oleh Krisna Purwana, lulusan Smandel yang merupakan seorang komedian sekaligus penyiar di salah satu radio Islam. Menurutnya, Ibu Hilma memiliki sinar wibawa yang luar biasa.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. Dr. Siti Nurbaya Bakar juga turut membagikan sekelumit kisahnya kala menjadi murid SMAN 8 Jakarta. Lulusan Smandel tahun 70-an itu menceritakan pengalaman berkesannya mengenai salah satu guru Bahasa Indonesia. Menurutnya, guru itu menjadi salah satu bagian dari tekadnya untuk mengenyam pendidikan tinggi hingga ke jenjang S3.

Memuat cerita para alumnus dari masa ke masa, buku Tribute to SMAN 8 Jakarta juga menyisipkan cerita dari para lulusan era 2000-an. Bahkan, dalam rentang waktu 2015-2021 sekali pun. Mereka membagikan kisahnya selama mengenyam pendidikan di Smandel terkait rutinitas dan pola belajar, momen Telaah Ilmiah Smandel (Tesis) yang merupakan praktik kerja lapangan untuk melakukan penelitian, hingga pengalaman pribadi yang berkesan semasa sekolah.

Judul Buku: Tribute to SMAN 8 Jakarta: Kenang-kenangan dari Taman Bukit Duri
Penulis (Editor): Idrus F. Shahab dan Suradi
Penerbit: Kakilangit Kencana, September 2022
Tebal: 268 halaman



Simak Video "KuTips: Cek Keselamatan Korban Gempa di Fitur Safety Check Facebook"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia