Cerita-cerita dalam Pembacaan Naskah Teks Proklamasi 17 Agustus 1945

Cerita-cerita dalam Pembacaan Naskah Teks Proklamasi 17 Agustus 1945

Rahma Harbani - detikEdu
Kamis, 25 Agu 2022 11:30 WIB
Proklamasi kemerdekaan
Naskah teks proklamasi dibacakan oleh Soekarno pada 17 Agusus 1945. (IPPHOS via Perpustakaan Nasional)
Jakarta -

Naskah teks proklamasi dibacakan oleh Soekarno di sebuah rumah beralamat di Jalan Pegangsaan Timur No.56 sekitar pukul 05.00 WIB. Usai proklamasi dibacakan, bendera pusaka merah putih dikibarkan untuk pertama kalinya.

Mengutip buku Sejarah SMA Kelas XII Program IPS oleh Prof. Dr. M. Habib Mustopo, dkk, Moh Hatta pun berpesan pada pemuda yang bekerja di kantor berita dan pers untuk memperbanyak teks proklamasi dan menyiarkannya ke seluruh dunia. Khususnya permintaan ini ditujukan kepada B.M Diah.

Sejumlah pemuda pun berbaris dengan tertib untuk mengikuti upacara proklamasi menjelang pukul 10.00 WIB. Beberapa tokoh yang dimaksud di antaranya Mr. A.A. Maramis, Ki Hajar Dewantara, Sam Ratulangi, K.H. Mas Mansur, Mr. Sartono, M. Tabrani, A.G. Pringgodigdo, dan lain-lain.

S. Suhud menyiapkan bambu dari belakang rumah sebagai tiang bendera merah putih yang dijahit Fatmawati. Acara yang disiapkan yaitu pembacaan proklamasi, pengibaran bendera merah putih, dan sambutan Walikota Soewirjo dan dr. Moewardi.

Usai momen pembacaan naskah teks proklamasi oleh Bung Karno, bendera Merah Putih pun dikibarkan oleh S. Suhud dan Latif Hendraningrat. Saat bendera dinaikkan perlahan-lahan, hadirin spontan menyanyikan Indonesia Raya tanpa dikomando.

Teks proklamasi juga disiarkan melalui radio oleh F. Wuz yang ditugasi oleh Kepala Bagian Radio Kantor Berita Domei, Waidan B. Palenewen. Perintah penyiaran tersebut menyebutkan, pembacaan teks proklamasi perlu disiarkan sebanyak 3 kali.

Namun, pihak Jepang meminta untuk menghentikan penyiaran saat memasuki ulangan ke-3. Permintaan tersebut tidak diindahkan dan teks proklamasi terus disiarkan setiap 30 menit hingga pukul 16.00 WIB, sehingga pemancar radio itu pun disegel dari pegawai pada 20 Agustus 1945.

Rekaman Pembacaan Teks Proklamasi

Suara rekaman Soekarno saat membacakan teks proklamasi yang diperdengarkan sekarang bukanlah suara rekaman asli yang dilakukan pada 17 Agustus 1945. Sebaliknya, rekaman tersebut dibuat pada akhir tahun 1951 atau enam tahun setelah Indonesia merdeka.

Menurut Boli Sabon Max dalam buku Mengenal Indonesia, suara tersebut direkam di salah satu studio Radio Republik Indonesia (RRI), Jalan Medan Merdeka Barat 4-5, Jakarta Pusat. Hal ini diinisiasi oleh salah satu pendiri RRI yakni Jusuf Ronodipuro.

"Rekaman tersebut merupakan satu-satunya dokumen audio otentik seputar pembacaan teks proklamasi," tulis buku tersebut.

Diceritakan, Jusuf mendatangi Soekarno dan mendesaknya untuk membacakan ulang naskah proklamasi. Mulanya, Bung Karno menolak usulan tersebut. Ia beranggapan, teks proklamasi hanya dapat dibaca sekali pada hari proklamasi dan tidak diulangi lagi.

Namun, menurut buku Konflik di Balik Proklamasi oleh St Sularto dan Dorothea Rini Yunarti Jusuf terus mendesak Soekarno untuk melakukan rekaman ulang. Jusuf mengatakan, hal itu bertujuan demi kepentingan sejarah terutama bagi generasi muda.

"Jusuf Ronodipuro membujuk Karno untuk melakukan rekaman yang pada mulanya ditolak. (Teks) proklamasi itu hanya sekali dan tidak diulang lagi, tukas Bung Karno," sebagaimana dikutip dari Asvi Warman Adam dan Jesaias Frederik Hendrik Albert Court dalam buku Identitas untuk Kebangkitan.

Sejarah Perumusan Teks Proklamasi

Teks proklamasi dirumuskan dalam rapat darurat di rumah Laksamana Maeda sejak tanggal 16 Agustus 1945. Perumusan teks proklamasi merupakan bagian kesepakatan rapat bahwa kemerdekaan Indonesia akan diproklamasikan esok harinya, 17 Agustus 1945.

Perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia dirumuskan oleh tiga tokoh. Berikut tiga tokoh perumus teks proklamasi kemerdekaan Indonesia:

  • Ir. Soekarno: merumuskan dan menulis teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.
  • Mohammad Hatta: merumuskan paragraf kedua pada teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.
  • Ahmad Soebardjo: merumuskan paragraf pertama dalam teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Naskah teks proklamasi tersebut pun akhirnya disetujui dalam sidang perumusan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang seluruhnya berjumlah lebih kurang 40 orang. Kemudian teks tersebut diketik oleh Sayuti Melik dengan menggunakan mesin tik.

Sebelumnya, salah seorang pemuda, Sutan Sjahrir mengusulkan kepada Moh Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Sebab, ia dan sejumlah tokoh PPKI mendengar berita kekalahan Jepang dan memaknainya sebagai kemerdekaan Indonesia, seperti dikutip dari buku Sejarah SMA/MA kelas XII Bahasa oleh H. Purwanta, dkk.

Mendukung ide tersebut, para muda juga mendesak agar kemerdekaan Indonesia diproklamasikan secepatnya. Pada 16 Agustus 1945, pemuda membawa Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok dengan alasan untuk mengamankan kedua tokoh tersebut dari tekanan tentara Jepang.

Sekembalinya dari Rengasdengklok, Soekarno melalui Ahmad Soebarjo menghubungi para anggota PPKI untuk mengadakan rapat darurat di rumah seorang pimpinan militer Jepang, Laksamana Maeda. Saat itu Jakarta memberlakukan jam malam, sehingga rumah Maeda dipilih sebagai lokasi penyusunan naskah teks proklamasi dibandingkan tempat umum.



Simak Video "Bendera Merah Putih Raksasa Berkibar di Bukit Klangon Merapi"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia