Kucing Dianggap 'Spesies Alien Invasif' di Polandia, Kok Bisa?

Devi Setya - detikEdu
Jumat, 29 Jul 2022 17:00 WIB
Kucing
Ilustrasi kucing Foto: Getty Images/iStockphoto/w-ings
Jakarta -

Otoritas Pemeliharaan Lingkungan Polandia (IOP) mengkategorikan kucing sebagai 'spesies alien invasif.' Kategori ini meliputi semua jenis kucing, termasuk kucing rumahan yang biasa menjadi hewan peliharaan.

IOP menganggap kucing sebagai spesies alien invasif dengan alasan kerusakan yang ditimbulkannya pada angka spesies burung khas Polandia dan satwa liar setempat. Sebagaimana dikabarkan Associated Press News (29/7), kucing mulai masuk kategori invasif di Polandia sejak awal Juli 2022.

Pro kontra pun muncul semenjak adanya keputusan dari IOP ini. Berbagai protes keras dilayangkan komunitas pencinta kucing di Polandia. Kendati demikian, tetapi IOP tetap mempertahankan status ini.

Berikut kontroversi terkait kucing dianggap spesies alien invasif di Polandia.

Kontroversi Kucing Dianggap Spesies Alien Invasif

Kucing dianggap satwa berbahaya

Berdasarkan data dan temuan riil, populasi kucing yang semakin membesar telah mempengaruhi ekosistem, termasuk berkurangnya burung-burung khas Polandia. Tak hanya itu, IOP juga memastikan bahwa kucing bukan binatang endemik di Polandia.

Wojciech Solarz, seorang ahli biologi di Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia mengungkap alasan di balik status kucing yang masuk dalam kategori invasif. Ia menentang tanggapan publik soal penolakan ini.

Tidak cuma kucing

Kucing yang dalam bahasa ilmiah bernama Felis catus ini bukanlah satu-satunya hewan yang dianggap spesies alien invasif. Menurut Solarz, sudah ada 1.786 spesies lain yang terdaftar sebagai spesies invasif tanpa mendapat respons protes.

Lebih lanjut, Solarz menjelaskan kegemparan atas Spesies Alien Invasif No. 1.787 yakni kucing, kemungkinan bersumber dari beberapa laporan media yang menciptakan kesan palsu bahwa lembaganya menyerukan agar kucing liar dan kucing lain ditindak lewat eutanasia atau sengaja diakhiri kehidupannya.

Solarz menggambarkan bahwa kucing domestik yang berkembang secara tidak terkontrol ini dapat berdampak berbahaya pada keanekaragaman hayati. Terlebih, hal ini diperkuat dengan adanya data yang menunjukkan jumlah burung dan mamalia yang dibunuh kucing.

Mendapat penentangan

Dalam program televisi yang ditayangkan oleh TVN, seorang ahli biologi berhadapan dengan seorang dokter hewan yang menentang kesimpulan Solarz tentang bahaya yang ditimbulkan kucing terhadap satwa liar.

Dorota Suminska, penulis buku berjudul The Happy Cat, menunjukkan berbagai penyebab lain dari menyusutnya jumlah keanekaragaman hayati termasuk lingkungan yang tercemar dan bangunan perkotaan. Alasan ini menjadi beberapa faktor yang dapat membunuh burung liar.

"Tanyakan apakah manusia ada dalam daftar spesies alien non-invasif," kata Suminska, dengan alasan bahwa kucing terlalu banyak disalahkan.

Solarz beralasan bahwa kucing membunuh sekitar 140 juta burung di Polandia setiap tahun.

Pemilik diminta tidak melepas kucingnya secara liar

Mengetahui keputusannya mendapat kecaman dari banyak pihak, IOP mengatakan, kategori hewan invasif tersebut tidak otomatis menjadikan kucing sebagai ancaman lingkungan. IOP menjamin, kucing jalanan dan kucing peliharaan tidak akan diperlakukan layaknya hewan invasif lain.

"Artinya, eliminasi, isolasi, dan pengontrolan populasi bukan prioritas lembaga kami terhadap spesies kucing di negara ini," kata pernyataan IOP.

Sementara itu, IOP menekankan agar semua pemilik kucing dapat membatasi waktu yang dihabiskan hewan peliharaan mereka di luar rumah selama musim kawin burung.



Simak Video "Alasan Kucing Kerap Menjilat Bulunya Sendiri"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia