Marak Kasus Bullying, Psikolog Unpad Beberkan Kunci Pencegahannya

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Jumat, 22 Jul 2022 13:00 WIB
Schoolgirl crying on background of classmates teasing her
Ilustrasi perungungan atau bullying di kalangan siswa. Foto: Getty Images/iStockphoto/shironosov
Jakarta -

Maraknya kasus perundungan atau bullying di sekolah menjadi perhatian banyak kalangan, khususnya tenaga pendidik. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr. Fitriani Yustikasari Lubis, M.Psi. Psikolog, memberikan tanggapan terkait fenomena tersebut.

Dikutip dari situs resmi Unpad, Jumat (22/7/2022), Fitriani mengungkapkan perundungan di sekolah terjadi karena dua kondisi. Pertama, anak yang menjadi korban bullying biasanya merupakan anak pendiam atau cenderung mudah dibuat cemas oleh teman-temannya.

Kedua, anak yang memiliki perilaku atau karakter yang tidak sama, menonjol, hingga tidak disukai oleh teman-temannya bisa jadi target bullying.

"Karakteristik korban di-bully memang biasanya sangat mudah dibuat cemas. Kalau temannya menuntut sesuatu, anak akan khawatir tidak bisa memenuhi atau da merupakan anak yang punya perilaku tidak sama, sampai akhirnya teman-temannya suka mengejek dia," papar Fitriani.

Guru Bisa Lebih Peka Melihat Siswa

Mengantisipasi korban bullying mengalami dampak yang lebih serius, peran guru sangat penting dalam melakukan observasi dan mengamati karakter setiap anak didiknya. Dosen Departemen Psikologi Pendidikan itu menuturkan, guru sebaiknya mampu menilai anak didik mana yang berpotensi jadi target bullying, memiliki karakter atau perilaku menonjol, serta masalah belajar.

"Akan lebih baik jika guru memunculkan awareness-nya dalam memperhatikan mereka yang berpotensi dirundung," ujar Fitriani.

Menurutnya, guru juga harus lebih peka apabila ditemukan perubahan perilaku pada peserta didiknya sehingga dapat langsung melakukan pendampingan dan penelusuran penyebabnya.

Perubahan perilaku akan terlihat dari korban bullying di sekolah. Contohnya anak akan jadi lebih pendiam dan tidak bersemangat saat berada di lingkungan sekolah. Bahkan bisa mempengaruhi nafsu makan.

"Apalagi jika sudah muncul perilaku signifikan seperti tidak mau makan, guru harus punya radarnya. Begitu ada perubahan perilaku, bisa langsung ditindaklanjuti," kata Fitria.

Butuh Penguatan Karakter dari Orang Tua

Orang tua juga memiliki peran penting selain guru dalam mengantisipasi kasus bullying pada anak. Peran itu dapat dilakukan sebelum atau ketika mengalami perundungan.

Menurut Fitriani, orang tua perlu mendapat edukasi mengenai karakter anak yang potensial mengalami bullying. Jika karakter tersebut kemungkinan dimiliki oleh anaknya, orang tua harus melakukan langkah antisipasi untuk memperkuat karakternya.

"Jadi kalau anak dirundung, anak harus bereaksi seperti apa. Biasanya anak-anak potensial dirundung lebih ke tidak punya keterampilan mempertahankan diri. Jadi kalau orang tuanya sudah bisa aware, bisa melakukan langkah antisipatif," terangnya.

Meskipun sulit, terutama bagi anak dengan karakter rentan dirundung, Fitriani menilai bahwa pengajaran yang baik dan konsisten dari orang tua akan membuat kapasitas anak menjadi bisa ditingkatkan.

Orang tua juga tidak tinggal diam tatkala menemukan anaknya terlanjur menjadi korban bullying. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari apabila ada perubahan perilaku anak.

Beberapa anak cenderung sulit bercerita mengenai kondisinya kepada orang tua. Karena itu, ketika ada perubahan perilaku pada anak, orang tua harus menyadari dan langsung melakukan pendampingan.

Biasanya, sikap orang tua cenderung lebih fokus pada kasus bullying, bukan pada kondisi psikologis anak. Fitria mengatakan, depresi akut pada anak korban bullying dapat berdampak serius hingga menyebabkan reaksi fisik.



Simak Video "Pelaku Perundungan Bocah di Tasikmalaya Diduga 4 Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/kri)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia