Wasiat Ali bin Abi Thalib: Ilmu Pengetahuan Lebih Baik daripada Harta

Kristina - detikEdu
Jumat, 08 Jul 2022 14:15 WIB
Kisah Teladan Sahabat Nabi
Kaligrafi Ali bin Abi Thalib. Foto: Ilustrasi: Luthfy Syahban
Jakarta -

Ali bin Abi Thalib, Khulafaur Rasyidin terakhir, meninggalkan banyak wasiat yang disampaikan kepada anaknya dan para tabi'in kala itu. Sayyidina Ali pernah berkata bahwa ilmu pengetahuan lebih baik daripada harta.

Wasiat tersebut ia sampaikan kepada Kumail bin Ziyad. Hal ini diceritakan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam 'Uyun Al-Hikayat Min Qashash Ash-Shalihin wa Nawadir Az-Zahidin yang diterjemahkan oleh Abdul Hayyi Al-Kattani.

Ahmad bin Ubaid berkata bahwa Ali bin Muhammad Al-Madain bercerita bahwa Kumail berkata, waktu itu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib memegang tangannya dan membawanya menuju Al-Jabban.

Kemudian, saat malam tiba, Sayyidina Ali berkata kepadanya, "Wahai Kumail bin Ziyad, hati ini laksana bejana, dan hati yang paling baik adalah yang paling bisa menampung isi."

Menantu Rasulullah SAW itu kemudian berpesan, "Manusia ada tiga macam: seorang alim yang Rabbani, seorang yang belajar karena mengharapkan keselamatan, dan orang yang tidak mendapatkan pelajaran yang berperilaku seperti binatang, yang mengikuti setiap ajakan orang dan berubah-ubah sikapnya sesuai arah mata angin, mereka tidak mendapatkan pencerahan dengan cahaya ilmu pengetahuan dan mereka juga tidak berlindung ke tempat berlindung yang kokoh."

Setelah itu, Sayyidina Ali berkata lagi kepada Kumail, "Hai Kumail bin Ziyad, ilmu pengetahuan lebih baik dari harta. Karena pengetahuan akan menjagamu, sementara harta harus engkau jaga. Demikian juga harta akan berkurang dengan diberikan ke orang lain, sementara ilmu pengetahuan makin kuat dengan diberikan kepada orang lain. Pun ilmu pengetahuan adalah yang berkuasa, sementara harta adalah yang dikuasai."

Menurut Sayyidina Ali, para penimbun harta adalah orang yang mati saat mereka masih hidup. Sementara para ulama terus hidup sepanjang masa meskipun tubuh mereka sudah tidak ada lagi, dan sosok mereka dalam hati masih terus terjaga.

Kemudian, Sayyidina Ali mengatakan bahwa banyak orang berpemahaman tidak sempurna. Mereka menggunakan agama untuk kepentingannya, memamerkan nikmat-nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya dan dengan hujah-hujah-Nya atas kitab suci-Nya atau tidak memiliki pandangan mata hari yang benar dalam menghidupkan kebenaran itu.

Banyak orang yang tenggelam dalam kelezatan, sehingga ia mudah tergelincir untuk mengikuti syahwat atau tertipu untuk mengumpulkan harta dan menyimpannya. Orang-orang itu, kata Ali, bukanlah orang yang mengajarkan agama, tetapi dia lebih mirip hewan yang gemuk. "Seperti itulah ilmu mati bersama kematian orang yang memilikinya," katanya.

Pemimpin yang berhati mulia ini kemudian mengatakan, meski demikian, tetap ada orang-orang yang menjalankan hujah Allah. Terkadang dia berasal dari kalangan orang terkenal dan terkadang dia merupakan orang yang biasa saja.

Mereka jumlahnya sedikit namun memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Sebab, mereka menjaga hujah-Nya dan menyampaikan hujah itu kepada orang yang memperkarakannya. Sehingga, ilmu menguasai akan keadaan.

Orang-orang yang dimaksud Ali bin Abi Thalib itu adalah khalifah-khalifah Allah di bumi-Nya dan orang-orang yang menjadi da'i untuk menyebarkan agama-Nya.



Simak Video "Pro Kontra soal Keinginan Dorce Dimakamkan Sebagai Perempuan"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia