ADVERTISEMENT

Mengapa Kita Tidak Bisa Minum Air Laut Meski dalam Keadaan Darurat?

Nikita Rosa Damayanti - detikEdu
Rabu, 29 Jun 2022 08:01 WIB
Wisatawan bermain air di kawasan Pantai Baron, Tanjungsari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Senin (7/6/2021). Destinasi wisata yang menawarkan pemandangan pantai dan kuliner makanan laut tersebut masih menjadi destinasi andalan di Gunungkidul. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/rwa.
Tidak boleh minum air laut. Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Jakarta -

Air sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. Tapi lebih dari 96 persen air di planet ini adalah air laut yang tidak bisa dikonsumsi oleh manusia. Mengapa demikian?

Melansir dari laman Live Science, air laut mengandung terlalu banyak garam yang sulit untuk dikelola ginjal kita. Mengonsumsi air atau makanan yang kaya akan garam bisa memperlambat fungsi ginjal. Akibatnya, ginjal harus bekerja ekstra dan puncaknya bisa menyebabkan kematian.

"Apa yang terjadi ketika kamu minum air asin adalah kamu menelan banyak garam yang perlu dibersihkan [dari tubuh]," ujar Rob DeSalle, kurator di Sackler Institute for Comparative Genomics di American Museum of Natural History New York dikutip dari Live Science, Senin (27/6/2022)

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration, air laut mengandung garam tiga kali lipat dari kadar garam yang ada pada darah manusia. Berarti jika kamu ingin mengonsumsi secangkir air asin, maka kamu harus minum setidaknya volume air yang sama agar ginjal kamu membuang semua garam tersebut.

"Kamu mungkin bertanya 'mengapa tidak minum lebih banyak air asin saja?'" kata DeSalle. "Tapi kemudian kamu hanya akan menyisakan lebih banyak garam yang kemudian harus kamu siram dengan lebih banyak air. Jadi air asin tidak akan pernah bisa memuaskan dahaga. Itu hanya bisa membuat kamu lebih haus," jelasnya.

Beberapa Hewan Bisa Minum Air Laut, Mengapa Manusia Tidak?

Beberapa hewan di ekosistem laut, memiliki kemampuan adaptasi yang memungkinkan mereka untuk minum air laut dengan aman. Burung laut seperti elang laut, camar dan penguin, yang mungkin menghabiskan waktu berminggu-minggu di laut terbuka tanpa air tawar, memiliki kelenjar garam khusus untuk menyaring dan membersihkan kelebihan garam dari air yang tertelan sebelum menyentuh perut mereka.

Mamalia laut seperti paus, lumba-lumba, dan anjing laut juga telah mengembangkan adaptasi terhadap kehidupan di lingkungan di mana air tawar langka atau tidak ada sama sekali.

"Mamalia laut telah mengadaptasi enzim khusus dan struktur seluler yang memungkinkan mereka membersihkan kelebihan garam dari sistem mereka," kata DeSalle. "Sepertinya mereka memiliki ginjal super," tambahnya.

Sejarah Manusia dan Hewan Darat Tidak Bisa Minum Air Laut

Mari kita tarik ke ratusan juta tahun yang lalu. Saat hewan purba mulai keluar dari laut dan beradaptasi dengan kehidupan di darat, mereka menjauh dari habitat pesisir di mana terdapat banyak air laut atau asin. Banyak spesies yang akhirnya menghuni ekosistem pedalaman yang memiliki banyak air tawar di danau dan sungai. Hal ini membentuk adaptasi biologis untuk meminum air yang tidak asin.

"Sebagian besar nenek moyang kita tidak terkena air asin, baik itu hewan pada umumnya, primata, atau insektivora," kata DeSalle. "Jadi seleksi alam mengasah pengolahan air yang tidak asin, dan fisiologi kita menjadi sangat baik, sehingga jika bertemu dengan air asin akan menjadi sangat berbahaya dan merusak."tutupnya.



Simak Video "Sejumlah Wilayah di Pantura Jateng Diterjang Banjir Rob Ekstrem!"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia