ADVERTISEMENT

Mengenal Dr Sardjito, Rektor Pertama UGM yang Jadi Pahlawan Nasional

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 14 Jun 2022 08:30 WIB
Seminar regional di Balairung UGM untuk mengusulkan Prof Dr Sardjito mendapat gelar pahlawan nasional
Foto: Usman Hadi/detikcom/Mengenal Dr Sardjito, Rektor Pertama UGM yang Jadi Pahlawan Nasional
Jakarta -

Nama Prof Dr Sardjito kini dikenal sebagai nama salah satu rumah sakit di Yogyakarta yakni Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito. Dr Sardjito diabadikan namanya lantaran jasanya di bidang kesehatan sekaligus pendidikan.

Sardjito lahir 13 Agustus 1889 di Desa Purwodadi, Magetan, Jawa Timur. Ayah Sardjito bernama Sadjit yang berprofesi sebagai seorang guru.


Riwayat Pendidikan Dr Sardjito

Tahun 1907-1915, Sardjito berhasil tamat dengan rangking satu saat menempuh pendidikan dokter pribumi di School tot Opleiding voor Indische Artsen (STOVIA).

Sardjito diangkat menjadi dokter selepas lulus dari STOVIA. Dia menjadi dokter di dinas kesehatan kota (Burgerlijke Geneeskundige Dienst) di Batavia.

Baru pada tahun 1921-1923, ia resmi memperoleh gelar doktor bidang penyakit iklim panas atau tropis di Fakultas Kedokteran Universitas Amsterdam.

Rektor Pertama di UGM dan Ketiga di UII

Salah satu alasan namanya diabadikan rumah sakit di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) karena Dr Sardjito adalah rektor pertama di UGM. Dr Sardjito ikut mendirikan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang menjadi cikal bakal UGM.

Tidak hanya itu, Dr Sardjito juga dikenal sebagai tokoh berdirinya kampus Universitas Islam Indonesia (UII) dan menjadi rektor ke-3.

Perjalanan hidupnya yang kental dengan sejarah pendidikan perguruan tinggi di Indonesia, membuat UII betul-betul berkembang dan meluaskan sayapnya pada masa kepemimpinan Dr Sardjito.

Jasa Dr Sardjito untuk Indonesia

Kiprah Dr Sardjito diketahui sudah terlihat sejak lulus STOVIA dengan aktif di organisasi Budi Utomo. Pada masa pergerakan, ia sempat menguasai lembaga Pasteur di Bandung untuk memproduksi vaksin dan obat-obatan bagi pribumi.

Pada masa awal kemerdekaan setelah ibukota RI pindah ke Yogyakarta, dokter kelahiran Magetan ini juga ikut membantu dengan membuat pos kesehatan.

Bahkan Dr Sardjito juga ikut mendukung berdirinya laboratorium persenjataan yang dipimpin Herman Johannes di Yogyakarta.

Perannya di bidang kesehatan sejak masih muda juga membuat ia turut andil dalam memindahkan virus cacar yang akan digunakan menjadi vaksin dengan bantuan seekor kerbau dari Bandung ke Yogya.

Selain itu, dia juga merupakan seorang perintis palang merah yang terus mengupayakan ketersediaan obat-obatan dan vitamin bagi para prajurit atau tentara Indonesia di masa kemerdekaan.

Karena jasa yang begitu banyak di bidang dunia pendidikan dan kesehatan Indonesia, Dr Sardjito kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2019.



Simak Video "RSUP dr Sardjito Ubah Lahan Parkir Jadi ICU, Tambah Iso Tank 20 Ton"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pal)

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia