Pengamat UGM Bicara soal Tiket Naik Candi Borobudur Jadi Rp 750 Ribu

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 07 Jun 2022 17:30 WIB
Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah
Tanggapan pengamat pariwisata UGM soal kenaikan tarif naik Candi Borobudur. Foto: Kemenparekraf
Jakarta -

Terkait tarif naik ke Candi Borobudur yang direncanakan menjadi Rp 750 ribu untuk turis lokal, pengamat pariwisata dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Muhammad Yusuf ikut angkat bicara. Menurutnya, perkembangan aksesibilitas dan amenitas menuju dan di dalam kawasan Borobudur sangatlah cepat, bahkan terlalu cepat.

Dia menilai perkembangan yang terlalu cepat itu berimbas pada banyaknya unsur masyarakat yang tidak siap.

Berdasarkan studi yang dilakukan Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, hampir semua inisiatif pembangunan di area Borobudur adalah gagasan pemerintah pusat. Oleh sebab itu, sangat sedikit atau tanpa keterlibatan masyarakat sekitar, tak terkecuali penggerak wisata.

"Menjadi cukup wajar bila kemudian masyarakat tidak terlalu paham arah pengembangan di kawasan Borobudur dan bahkan bingung harus melakukan apa," ungkap Yusuf yang merupakan Kepala Pusat Studi Pariwisata UGM tersebut, dikutip dari laman UGM.

Yusuf menyampaikan, angka kunjungan wisatawan domestik ke destinasi tersebut sangat banyak dan cenderung mengalami kenaikan. Namun, sebagai pengamat dirinya juga menyayangkan kebijakan konservasi dan pariwisata Candi Borobudur yang kerap kali tidak integratif.

Menurutnya ini mungkin dikarenakan ketidakjelasan siapa yang bertanggung jawab terhadap apa. Oleh sebab itu, dia menilai kejelasan kelembagaan perlu diperkuat agar setiap kebijakan yang diambil adalah sesuatu yang disepakati bersama dan penerapan di lapangan dapat lebih optimal.

Yusuf menuturkan kebijakan tarif masuk ke Candi Borobudur semestinya ditentukan melalui kajian mendalam yang melibatkan semua stakeholders yang terkait. Sebagaimana halnya juga kebijakan pembangunan di area sekitar candi.

"Saya melihat penentuan tarif ini juga tanpa melakukan studi yang komprehensif sehingga banyak pihak yang tidak berkenan," ujarnya.

Di samping itu, Kepala Puspar UGM itu juga berpendapat bahwa pemerintah dan pihak yang terkait lainnya seharusnya berusaha memperluas serta menambah atraksi di lingkungan Kecamatan Borobudur. Hal ini agar para wisatawan tidak cuma fokus kepada candinya saja.

Dia yakin kebijakan ini dapat berdampak cukup banyak bagi masyarakat di sekitar Candi Borobudur. Maka dari itu, dia menyarankan masyarakat lokal dan penggiat pariwisata untuk bersikap antisipatif dengan segala kebijakan pemerintah pusat ataupun daerah.

Pengamat pariwisata tersebut juga khawatir jumlah kunjungan ke Candi Borobudur kemungkinan menurun drastis. Hal ini dapat memberi dampak terhadap penghasilan para penggiat pariwisata lainnya seperti penjaja suvenir, makanan, pemilik penginapan, pemandu wisata, dan lain sebagainya.

"Situasi ini membuktikan bahwa perencanaan pengembangan wisata Candi Borobudur tidak melalui kajian yang baik. Kalau pun ada kajian nampaknya hasil kajian tersebut tidak dijadikan sebagai pedoman dalam pengambilan kebijakan," terangnya.



Simak Video "Respons Turis Lokal dan Asing soal Harga Tiket Candi Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia