Kolom Pendidikan

G-20, Kedaulatan Data dan Masa Depan Pendidikan

Dr. M. Hasan Chabibie - detikEdu
Senin, 06 Jun 2022 07:47 WIB
Dokumen pribadi Dr. M. Hasan Chabibie Kepala Pusdatin Kemendikbud Ristek; Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah Depok-Jawa Barat
Foto: Dokumen pribadi Dr. M. Hasan Chabibie
Jakarta -

Tahun 2022 menjadi momentum sangat penting bagi Indonesia untuk menyiapkan dan mengeksekusi beberapa langkah strategis. Tidak hanya karena tahun ini merupakan saat yang tepat untuk bangkit dari pandemi, tapi juga posisi Indonesia yang ditunjuk sebagai tuan rumah dan presidensi G-20.

Di antara agenda-agenda besar yang dibahas dalam serangkaian program perhelatan G-20, isu-isu strategis terkait data dan dunia pendidikan menjadi hal krusial. Sesuai rencana, tema-tema terkait ekonomi, perkembangan teknologi digital, climate change, dan kolaborasi antar negara dalam bidang investasi, diplomasi dan security juga menjadi perhatian utama.

Selain itu, di bidang pendidikan, pemerintah Indonesia serius untuk mengawal beberapa bidang strategis yang menjadi konsentrasi ssat ini. Tema utama yang diusung yakni "recover together, recover stronger" memberikan suntikan semangat kuat bahwa kita semua harus bangkit dan menjadi lebih baik secara bersama-sama.

Kemendikbud-Ristek melalui Mas Menteri Nadiem Makarim menyebut ada empat hal prioritas yang menjadi pembahasan utama dalam forum G-20 terkait bidang pendidikan. (1) universal quality education, kualitas pendidikan untuk semua, (2) digital technology in education, teknologi digital untuk pendidikan, (3) solidarity and partnership, solidaritas dan kemitraan, (4) the future of work post covid-19, masa depan dunia kerja pasca pandemi Covid-19.

Kualitas pendidikan yang ditujukan untuk semua pihak secara universal menjadi sangat penting. Dengan prinsip kesetaraan ini, semua generasi di pelbagai negara tidak ada yang terdiskriminasi dalam memperoleh akses pendidikan. No one left behind, inilah prinsip utama dalam transformasi pendidikan.

Dengan demikian, prinsip solidaritas dan kemitraan menjadi tulang punggung untuk mengejar mimpi perbaikan pendidikan secara global. Kita bisa saling belajar dari kelebihan negara lain, sekaligus saling menopang untuk memperkuat kualitas dan pemerataan pendidikan antar negara. Indonesia bisa menjadi anchor untuk mendorong pemerataan pendidikan ini, terutama mengharmonisasi konten pendidikan, teknologi dan kebudayaan.

Pada aspek lain, penggunaan teknologi untuk pendidikan menjadi kebutuhan mendasar. Apalagi saat pandemi, kebutuhan untuk meningkatkan akses teknologi pembelajaran sangat tinggi. Pasca pandemi, peningkatan teknologi--baik dalam skala dan kualitas--harus lebih ditingkatkan untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik.

Terkait dunia kerja, saat ini memang ada peralihan kebutuhan atas pekerja dan pergeseran skill set yang dibutuhkan. Kebutuhan dunia kerja berubah seiring dengan kondisi dunia beserta tantangan ekonomi, lingkungan dan teknologi yang berubah.

Maka, keterampilan dan keahlian khusus yang dibutuhkan juga mengalami improvisasi. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menyebutkan bahwa tantangan dunia kerja pasca pandemi Covid-19 yakni bagaimana membantu para pekerja memaksimalkan potensi dan memanfaatkan keterampilan untuk dunia yang terus berubah.

Maka, dunia pendidikan juga harus menyesuaikan atas fenomena global dan pergeseran atas kebutuhan kerja saat ini. Seiring hal ini terjadi, tumbuh berbagai platform pembelajaran online yang memungkinkan lintas generasi untuk belajar secara mandiri. Bahkan, platform-platform belajar ini, dengan pola Massive Open Oline Course (MOOC) telah terkoneksi dengan kampud-kampus besar dunia, dengan biaya terjangkau dan bahkan gratis.

Misalnya, siswa yang berada di Tegal atau Semarang bisa belajar kursus tertentu di kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika ataupun Harvard University secara langsung. Bisa juga, seorang siswa di Maluku mengambil kursus mandiri dengan kampus di Cambridge Inggris secara onlie dengan program yang tersertifikasi. Ini tentu kemajuan yang memudahkan untuk mengoptimalkan sumber belajar.

Kedaulatan Digital

Di antara yang perlu ditambahkan sebagai pembahasan utama dalam G-20 tahun ini yakni terkait kedaulatan data (data sovereignty). Kedaulatan data ini membentang pada aspek ekonomi, keamanan, diplomasi, hingga pendidikan.

Data pendidikan di Indonesia menjadi hal urgen yang perlu dikelola secara khusus. Demikian pula, data-data bidang lain, yang sekarang harus menjadi aset strategis negara dalam konteks pengelolaan dan akses. Indonesia harus melangkah untuk mengelola data secara integral, dalam perspektif digital sovereignty. Memang kita masih harus berkolaborasi untuk transformasi teknologi secara umum, tapi manajemen dan proteksi data harus dikelola secara komprehensif.

Negara-negara Eropa telah mengatur sistem kedaulatan melalui European General Data Protection Regulation (GDPR). Peraturan ini menjadi acuan untuk pengelolaan, akses dan proteksi data. Harus ada inisiatif bersama untuk mengelola data sebagai aset nasional, yang dikelola dengan regulasi global yang menjadi jembatan kebaikan bersama. (*).


Dr. M. Hasan Chabibie

Penulis adalah Kepala Pusdatin Kemendikbud Ristek; Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah Depok-Jawa Barat.

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)



Simak Video "Respons Sri Mulyani Saat AS Dkk Walk Out di Tengah Pertemuan G20"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia