Takziah Gus Yahya: Buya Syafii Mencintai Kita Sepanjang Hidupnya

Ishaq Zubaedi Raqib - detikEdu
Sabtu, 28 Mei 2022 05:31 WIB
Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) - Foto: Tangkapan layar YouTube MUI
Jakarta -

Siang di hari termulia, Jum'at, 27 Mei 2022, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, tampak masygul. Air mukanya menyimpan mendung. Awan tebal menggantung di ufuk dekat. Wafatnya Buya Ahmad Syafii Ma'arif, membuat langkah Gus Yahya tampak berat saat menuju lift PBNU. Malaikat telah melepas lembar terakhir nafas Guru Bangsa itu menuju Tuhan. "Mawtul Aalim Mawtul Aalam"--wafatnya orang alim (merupakan) wafatnya semesta.

Ia jelas orang alim. Tempat bangsa ini menimba ilmu. Darinya anak muda Muhammadiyah dan anak muda Nahdlatul Ulama, belajar mengeja kehidupan di atas ragam perbedaan. Perbedaan yang dianugerahkan Tuhan bagi bangsa Indonesia. "Anak-anak muda NU dan Muhammadiyah harus senantiasa melakukan dialog intensif dalam upaya merumuskan dan mendudukkan secara apik format hubungan Islam dan Keindonesiaan," kata almarhum pada suatu saat.

Gerak ke arah itu sudah dimulai, tetapi masih memerlukan visi yang lebih tajam lagi sehingga citra Islam yang tampil adalah Islam yang mengayomi semua pihak. Genderang perang yang ditabuh oleh segelintir orang harus dihadapi dengan menabuh genderang perdamaian, keadilan, kesopanan, inklusivisme, dan pluralisme dengan cara yang penuh wibawa karena kita yakin pada prinsip kebenaran yang kita pegang.

("Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan", hlm. 317).

***

Saat sedang di lantai 5 gedung PBNU, Syamsul, asisten pribadi Gus Yahya, minta Penulis menemuinya. Di atas kursi, di ruang kerjanya, Gus Yahya berada dalam pekur yang sublim. Kopiahnya yang lancip, membeku di atas meja. Gus Yahya tak serta merta berkata-kata. Charles Holland Taylor, kawan diskusinya asal North Carolina, USA, menerawang. Ia sahabat Buya Syafii juga. Kelopak mata Gus Yahya mengatup. Dua alisnya saling mendekat. Hening !

Ia hanyut dalam ta'ziyah. Kabar wafatnya Buya Syafii, menggedor dada semua anak bangsa. Sedih tiada terkira. Padahal, berita dia keluar masuk rumah sakit saja, telah membuat banyak orang berada dalam cemas. Kemarin, Jumat terakhir bulan Syawal, cemas itu pecah. "Kita tidak hanya berbela sungkawa. Kita tidak hanya ingin menta'ziyahi keluarga besar Muhammadiyah. Kita juga harus menta'ziyahi diri sendiri," keluh Gus Yahya dengan suara lirih.

Pengasuh Ruhani

Seperti slide berjalan. Seperti teaser video yang bergerak. Melalui kata-kata bak magi, Gus Yahya mengenang eks Ketua PP Muhammadiyah itu. "Buya Syafii adalah seorang guru. Seorang pengasuh ruhani. Seorang bapak untuk seluruh bangsa Indonesia ini." Ia melihat, pemikiran Buya Syafii sebagai kumparan visi dan idealisme yang menguatkan ikatan kebangsaan. Falsafah hidupnya, mampu menenun satin kemanusiaan yang universal.

"Dengan segenap ketulusan, beliau berjuang mempertaruhkan segala yang ada pada diri beliau, untuk menegakkan sebuah visi mulia," seru Gus Yahya. Dan, benih ketulusan yang Buya Syafii tanam, telah berbuah cinta. "Kita sungguh merasa bahwa jika kita membangun cinta untuk Buya Syafii, maka itu sebenarnya adalah buah dari kecintaan beliau kepada kita semua. Cinta, yang terus menerus beliau hidupi. Sepanjang hidup beliau."

Sering sebuah ruang menyebabkan seseorang tak kuasa keluar darinya. Terlebih jika ruang itu berupa tatanan nilai primordial yang mengikat. Menjadi standar yang pantang diselisihi apalagi dilangkahi. Tapi tidak dengan Buya Syafii. Ruang tak membuatnya membeku. Melalui ketajaman ruhani, ketulusan khidmah, ruang malah mengikuti gerakannya. Tentu nilai ke-Muhammadiyah-an yang sejati telah membuatnya makin mudah melewati banyak garis dan ikatan.

Posisinya sebagai Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, adalah maqam tertinggi yang tidak mudah dicapai siapa pun di persyarikatan itu. Ilmunya yang luas, membuat dia mudah memberi banyak perspektif untuk satu persoalan. Meski sekian lama duduk di maqam terhormat di Muhammadiyah, hal tersebut tidak membuatnya melihat persoalan dari satu sudut pandang. Justeru dari situ, cakrawalanya melintasi batas demi batas.

"Beliau mampu menempatkan diri dengan bijak. Dapat melihat segenap bangsa ini, bahkan (melihat) seluruh kemanusiaan sebagai bagian dari tanggungjawab moral dan kepedulian ruhani beliau sendiri. Beliau tidak hanya toleran terhadap perbedaan-perbedaan tetapi beliau juga mampu dan bersedia menerima, bahkan mengadopsi kemuliaan-kemuliaan dari siapapun. Walau secara lahiriyah memiliki identitas yang berbeda."

Hal itu bisa dengan mudah dilihat dari kehidupan sehari-hari penganjur bagi tetap terjaga, terpelihara dan lestarinya nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita itu. "Buya Syafii, misalnya kerap menyempatkan diri untuk datang kepada kiai-kiai NU, bahkan untuk minta doa." Gus Yahya berkisah saat-saat di mana tokoh pemuja berpikir bebas itu "sowan" kepada seorang habib di Yogjakarta. "Habib itu, tempo-tempo didatangi oleh Buya Syafii," sebut Gus Yanya.

Menyerap Keberkahan

Seperti yang jamak dilakukan warga nahdliyin, pada ketika tertentu, Buya Syafii juga tampak tidak rikuh dengan wasilah. Sebuah medium ritual yang diyakini bisa menampung daya spiritual, mampu menebalkan derajat keyakinan, dan menautkan batin dengan para kekasih Allah. "Bukan hanya minta didoakan secara verbal, tapi beliau juga minta supaya habib ini mendoai air dalam gelas," ujar Gus Yahya mengisahkan.

"Beliau meminum air yang sudah dibacakan doa-doa tersebut, sebagai obat bagi Buya Syafii sendiri," tambah Gus Yahya. Prilaku Buya Syafii ini, tentu tidak umum terjadi di kalangan tertentu. Tapi, dalam keyakinan Buya Syafii, ada banyak jalan menuju keselamatan. Sehingga ketika dia melintasi batas "kebiasaannya", minta air dibacakan doa-doa khusus, itu menunjukkan bahwa Buya Syafii adalah seorang yang membuka diri.

"Membuka ruhaninya untuk menyerap keberkahan dari manapun datangnya. Bagi beliau, setiap mata air selalu bercabang, menyebar ke banyak tempat. Mengalir ke lembah-lembah kehidupan," ujar Gus Yahya. Ke depan, cabang-cabang mata air kehidupan dan kebangsaan yang ditinggalkan Buya Syafii akan menjadi warisan tak ternilai. Warisan itu akan tinggal bersama bangsa Indonesia, menjadi lentera yang menerangi jalan kehidupan.

"Maka, semua inisiatif beliau, yang beliau maksudkan untuk ikut memelihara keutuhan bangsa dan memelihara kemuliaan kemanusiaan, akan menjadi warisan tak ternilai harganya bagi kita semua. Sekarang menjadi tanggungjawab kita untuk merawat idealisme dan visi universal Buya Syafii. Tanggungjawab seluruh bangsa Indonesia. Untuk meneruskan karya karyanya dan menghidupkan idealismenya," ajak Gus Yahya.

"Dengan harapan bahwa semoga barokah dari perjuangan Buya Syafii seumur hidup akan terus tak putus-putus menaungi kita. Menemani kita dalam pergulatan memperjuangkan kemuliaan masa depan peradaban umat manusia. Semoga Allah SWT karuniai pahala kesabaran yang agung bagi kita dalam menanggung musibah ini. Semoga Allah menyempurnakan kesabaran kita dan insyaallah, Allah mengampuni Buya Syafii," kata Gus Yahya mengakhiri munajat ta'ziyahnya. Aamiin...

***

Sekarang, murid kesayangan Fazlur Rahman, cendekiawan muslim kelas dunia asal Pakistan itu, telah tiada. Rahman menyebut Buya Syafii sebagai mujahid sedang sahabatnya, Nurcholish Madjid, disebut Rahman sebagai mujaddid. Dengan usia jauh melampaui angka delapan puluh tahun, Buya Syafii sudah mendapat maqam syahadah sebagaimana persaksian gurunya, Rahman. Selamat jalan Mujahid yang syahid. Selamat jalan Bapak Bangsa Indonesia !

Ishaq Zubaedi Raqib

Penulis adalah Ketua LTN--Kominfo dan Publikasi PBNU

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)



Simak Video "Mengenang Perhatian Buya Syafii Maarif kepada Kalangan Minoritas"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia