Sederet Buku Karya Buya Syafii, Guru Bangsa yang Wafat Hari Ini

Rahma Harbani - detikEdu
Jumat, 27 Mei 2022 16:30 WIB
Profil Buya Syafii Maarif
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii wafat hari ini, Jumat (27/5/2022). Ini daftar buku yang ditulisnya. (Ristu Hanafi/detikcom)
Jakarta -

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dikabarkan wafat pada Jumat (27/5/2022). Sepeninggal tokoh besar muslim yang kerap disapa Buya Syafii ini pun meninggalkan duka bagi Menag Yaqut Cholil Qoumas.

"Satu lagi teladan dan tokoh Indonesia wafat, almarhum Buya Syafii Maarif. Indonesia kehilangan guru bangsa," kata Yaqut dalam keterangannya yang diterima detikEdu, Jumat (27/5/2022).

Yaqut menyebut, sosok Buya Syafii juga dikenal sebagai seorang intelek yang menginspirasi banyak orang. Terutama dalam membela kebenaran, menjaga NKRI, serta merawat kerukunan umat beragama.

Salah satu upaya yang dilakukan Buya Syafii adalah menuangkan pemikiran-pemikiran kritisnya dalam bentuk buku. Tidak hanya berbalut keislaman, Buya juga kerap menyampaikan ide-ide keindonesiaan dalam bukunya.

Salah satu bukunya bahkan merambah hingga pembaca luar negeri yang kemudian ditulisnya dalam bahasa Inggris. Berikut daftar karya yang ditinggalkan Buya semasa hidupnya.

7 Buku Karya Buya Syafii Maarif

1. Islam dalam Bingkai Keindonesian dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah

Tiga pokok pemikiran Buya Syafii yang dibawa dalam buku ini adalah keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Dalam buku ini, Buya Syafii hendak menyelaraskan permasalahan tersebut tanpa harus mengancurkan dasar pikiran satu sama lain.

Dilaporkan Suara Muhammadiyah, Buya Syafii merilis terjemahan buku ini dalam bahasa Inggris dengan tajuk Islam, Humanity and the Indonesian Identity: Reflections on History di Belanda pada Juni 2018. Diterbitkannya buku tersebut dalam bahasa Inggris, beliau berharap dapat menyebarluaskan pengalaman Indonesia sebagai sebuah bangsa untuk dijadikan bahan refleksi di tengah krisis dunia.

2. Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Buku ini pertama kali diterbitkan Buya Syafii pada 1996 melalui terbitan Gema Insani Pers. Melalui buki ini, Buya Syafii hendak mengutarakan realitas poliyik yang tercermin dalam tingkah laku poolitik praktis partai Islam pada periode Demokrasi Terpimpin.

Mengutip e-Perpus Kemenag, periode tersebut terbilang singkat dalam sejarah Indonesia. Namun, Buya Syafii hendak menunjukkan posisi penting periode Demokrasi Terpimpin bila ditempatkan dalam perspektif sejarah perjuangan partai Islam di Indonesia.

3. Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita

Melansir Pusat Studi Agama dan Demokrasi Yayasan Wakaf Paramadina, Buya Syafii membeberkan ancaman kekerasan oleh kelompok Islam tertentu di Indonesia yang disebutnya dengan kelompok Preman Berjubah dalam buku ini. Hal ini berkaitan dengan kemunculan gerakan radikat atau setengah radikal yang berbaju Islam.

Secara bersamaan, Buya Syafii juga menunjukkan bahwa kita tidak perlu khawatir dengan ancaman di atas. Sebab menurutnya, masih ada pluralisme yang menomorsatukan keragaman dan bagian esensial bagi keindonesiaan.

4. Membumikan Islam

Buya Syafii Menyampaikan argumen-argumennya mengenai isu Islam, umat, dan masalah-masalah sosial dalam satu buku Membumikan Islam. Buya juga menekankan pentingnya mengembakan keislaman di tanah air dalam konteks keindonesiaan dan kemanusiaan.

Dalam tulisan yang dicetak tahun 2019 ini, Buya juga hendak mengingatkan posisi Islam yang masih belum beranjak dari posisinya di masa lampau. Khususnya setelah masa Al-Afghani dan Abduh, menurut Buya, masih belum banyak yang berhasil disumbangkan dari segi pemikiran Islam fundamental.

5. Memoar Seorang Anak Kampung

Buku terbitan tahun 2013 ini merupakan jenis buku otobiografi atau tulisan kisah hidup yang ditulis sendiri. Dalam buku ini, Buya Syafii menceritakan tentang perjalanan hidup dari kampung yang tersuruk hingga merantau untuk mengejar cita-cita.

Dikutip dari laman perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah dan repository UMY, buku ini juga menceritakan pertanggungjawaban atas pilihan yang telah diterapkan Buya Syafii, sikap yang telah diambil, dan tindakan yang telah dilakukan sepanjang perjalanan hidupnya.

6. Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam

Selanjutnya, dalam buku dengan tajuk Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam ini, Buya Syafii merangkum pemikiran kritisnya pada The Golden Ages of Islam. Masa-masa dimana peradaban Islam berkembang pada puncaknya.

Buku terbitan Bunyan atau PT Bentang Pustaka ini juga mengulas pemikiran Buya Syafii yang menyinggung soal nafsu kekuasaan tanpa diiringi dengan kekuatan moral. Pembaca diajak berpikir tentang rasa haus akan kejayaan yang kerap mengalahkan agama, sebagaimana dikutip dari Google Books.

7. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim

Buya Syafii menuangkan pemikirannya soal berbagai masalah kemanusiaan yang bersifat ambivalen dalam buku ini. Melansir repository UMY, Buya Syafii juga menyoal manusia yang menyebut dirinya mulia namun kerap memperlihatkan perilaku hina.

Dalam buku terbitan Grafindo Khazanah Ilmu tahun 2005 ini, Buya Syafii mengajak umat muslim untuk membuka mata bahwa nilai-nilai agama dapat mencegah manusia dalam perilaku hina tersebut.



Simak Video "Mengenang Perhatian Buya Syafii Maarif kepada Kalangan Minoritas"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia