Mengapa Hantu di Film Horor Selalu Perempuan? Ini Kata Dosen Unpad

Anatasia Anjani - detikEdu
Jumat, 27 Mei 2022 16:00 WIB
Deretan film-film Suzanna
Poster film horor Indonesia. Foto: Dok. Ist
Jakarta -

Hantu dalam film horor Indonesia identik berjenis kelamin perempuan. Mengapa selalu begitu? Dosen Budaya Populer Fakultas Komunikasi Universitas Padjajaran, Justito Adiprasetio mengatakan jika fenomena itu sudah muncul sejak tahun 1970-an.

Ia menyebut ada 559 film horor Indonesia selama tahun 1970-2019. 60,47 Persen atau 338 film memiliki sosok perempuan sebagai hantu utama. Sedangkan 24,15 persen atau 135 film menghadirkan sosok laki-laki.

Sisanya, 15,38 persen atau 86 film horor menghadirikan sosok laki-laki dan perempuan sebagai hantu utama.

"Makin ke sini, persentase hantu perempuan sebagai tokoh utama makin banyak," ungkap Tito yang dikutip dari laman Unpad.

Menurut Tito, alasan perempuan sering dijadikan hantu karena merupakan representasi dari folklor yang ada di tiap daerah. Hal ini dibuktikan dengan adanya kepercayaan terhadap berbagai jenis hantu perempuan.

Faktor kedua yaitu industri film masih didominasi oleh kaum pria. Sehingga cara pandang dalam film cenderung maskulin.

Walaupun terdapat perempuan yang menyutradari film horor, potensi misoginis umum terjadi. Hal ini terlihat dari perempuan yang dianggap sebagai obyek ketakutan.

"Data besar menunjukkan bahwa perempuan sangat dimanfaatkan untuk menakut-nakuti. Ini yang menjadi problematik, bahwa film horor menyimpan ketimpangan gender," ujar Tito.

Apa Motif Hantu Perempuan di Film?

Tito menyebutkan umumnya hantu perempuan memiliki pola yang sama yaitu motif balas dendam. Misalnya yaitu hantu yang muncul karena semasa hidup diperkosa atau mengalami tindak kekerasan lainnya.

Saat menjadi hantu mereka balas dendam dengan cara menaku-nakuti hingga membunuh korban.

"Tidak hanya di Indonesia, beberapa film di negara lain juga motif seperti ini ada," kata Tito.

Dengan begitu, perempuan direpresentasikan memiliki kekuatan untuk balas dendam walaupun telah meninggal. Ini juga dapat disimpulkan perempuan tidak dapat dominasi laki-laki sehingga baru bisa melawan dalam keadaan mati.

"Memang hal ini ada kesan semacam empowerment terhadap perempuan. Akan tetapi ketika direproduksi terus-menerus, kita akan mengerdilkan posisi perempuan ketika dia hidup," kata Tito.

Laki-laki Selalu Digambarkan sebagai Penolong

Berbeda dengan perempuan yang digambarkan sebagai hantu, laki-laki digambarkan sebagai penolong keadaan. Misalnya saja hadir sosok ustaz hingga pastor yang mampu mengalahkan hantu perempuan.

"Kita bisa lihat wacana bahwa perempuan itu adalah penggoda dan sebagai lawan agama. Dan ini malah disiarkan dengan sangat kencang oleh film-film horor itu. Ini yang jadi salah satu wujud dari tatapan misoginisme,"" ujar Tito.

Meskipun demikian, Tito mengaku film horor saat ini lebih variasi ketimbang pada zaman Orde Baru.

Tito berharap ke depannya film horor Indonesia menghadirkan cerita yang lebih otentik.

"Kita bisa lihat wacana bahwa perempuan itu adalah penggoda dan sebagai lawan agama. Dan ini malah disiarkan dengan sangat kencang oleh film-film horor itu. Ini yang jadi salah satu wujud dari tatapan misoginisme," kata Tito.



Simak Video "Sandiaga Uno Nilai Film Horor Punya Pasar Kuat di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia