Jelang Satu Abad NU

Penetrasi NU di Dunia Islam (2-Habis)

Ishaq Zubaedi Raqib - detikEdu
Minggu, 15 Mei 2022 12:31 WIB
Foto dokumentasi PBNU
Foto: Foto dokumentasi PBNU
Jakarta -

Road map

Ketika Gus Yahya menyampaikan pidato soal humanitarian Islam di Riyadh itu, sesungguhnya NU tengah melakukan penetrasi di jantung Dunia Islam ; Arab Saudi. Dengan taktik gerilya mengepung kota, sebelum menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Yahya sudah membangun jaringan. Menyebar dari negara berpengaruh di dunia. Ia mendirikan Bayt At Rahmah di North Carolina, negara bagian USA. Ia memulai langkah menentukan.

Dari sini ia membuat "road map" ke arah humanitarian Islam itu. Nama Bayt ar Rahmah, diubah menjadi Center for Shared Civilizational Values (CSCV) agar kalangan non-muslim bisa lebih nyaman bergabung. CSCV menjelma kendaraan bagi ikhtiar menghadirkan wawasan-wawasan NU di panggung dunia. Ia tak menggunakan perangkat formal NU, agar CSCV lebih efektif bergerak di Amerika Serikat dan Eropa.

Dengan perubahan nama tersebut, CSCV leluasa bekerjasama dengan organisasi pemerintah setempat dan NGO internasional yang visi dan misinya berkesesuaian. Sebagai organisasi nirlaba, CSCV tidak direpotkan oleh hal-hal teknis seperti administrasi pemerintahan, atau terkait perpajakan dan lain-lain. Di yayasan ini, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) duduk sebagai Chairman sedang Gus Yahya menjadi Direktur.

CSCV yang berada bawah hukum North Carolina, punya misi untuk mencegah pemanfaatan politik identitas ; menghentikan penyebaran kebencian komunal. Mempromosikan solidaritas dan penghormatan di antara rakyat, budaya, dan bangsa-bangsa beragama di dunia dan mendorong kehadiran tatanan dunia yang adil dan rukun, berdasar pada penghormatan atas kesetaraan hak dan martabat seluruh umat manusia.

Center mengagendakan perluasan dan dan memajukan karya dari Humanitarian Islam dan Movement for Shared Civilizational Values. Hal itu dilakukan dengan menyediakan platform kelembagaan yang unik-didukung oleh Nahdlatul Ulama (NU) ; organisasi muslim terbesar di dunia-yang berupaya menjembatani perbedaan budaya, agama, ideologi dan mendorong lahirnya peradaban dunia dengan nilai-nilai luhur.

Jaringan CSCV

Dalam pada itu, Indonesia yang menjadi tuan rumah G20 tahun ini, terus mematangkan konsep G20 Interfaith Forum (IF20). CSCV bekerja erat dengan Kementerian Agama Republik Indonesia, membangun agenda dan kegiatan yang tepat untuk IF20 dan G20 secara keseluruhan. Lebih dari itu, CSCV telah menyiapkan visi tingkat tinggi, sebagaimana dijelaskan dalam komunike politik soal pertemuan IF20 di Bologna, Italia.

Untuk tujuan pengenalan visi dan pencapaian misinya, maka sejak Juni 2021 lalu, sejumlah nama besar dengan pengaruh besar di dunia, mulai bergabung dengan CSCV. Sebut saja Kull Durm, seorang elite di Brigham University, USA. Ia memimpin gerakan interfaith dialogue terkait G20. Tokoh lain adalah Antonio López-Istúriz/Executive Secretary of theCentrist Democrat International dan anggota Parlemen Eropa.

Lalu ada nama Robert (Bob) Hefner. Seorang professor di the Department of Anthropology and the Pardee School of Global Affairs at Boston University. Ada juga Ahmet T. Kuru ; dosen di San Diego State University, USA, intelektual Turkey penulis "Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan." Kemudian, bergabung juga ke dalam gerakan ini David Saperstein ; rabbi Yahudi kelas berat dan diketahui berpengaruh besar di Partai Demokrat.

CSCV juga menarik perhatian kubu sebelah. Salah seorang tokohnya, Marion Glander dari Harvard University, ikut bergabung. Jika Marion seorang intelektual yang sangat dihormati di Partai Republik dan mentor senior bagi Mike Pompeo, Menlu AS era Presiden Donald Trump, maka Saperstein agamawan yang dekat dengan Barack Obama, eks presiden AS/Partai Demoktat. CSCV berjejaring di Republik dan Demokrat.

Sementara di kawasan Eropa, Gus Yahya memiliki sejumlah key person sebagai international contact. Untuk urusan non-politik, ada Tom Dynem yang berbasis di London. Sedang untuk urusan politik, ada nama Cesar Rossello ; Koordinator CDI-- Centrist Democrat International, untuk Asia Pasifik dan Amerika Latin. Dua orang tersebut secara berkala mengirimi Gus Yahya up date terkait isu-isu ke-NU-an di daratan Eropa.

Bersemi dari atas

Sementara itu, mencermati agenda restrukturisasi dan reformasi oleh MBS, muncul cahaya di ujung jalan bagi NU. Keberanian MBS ditengara akan berdampak pada perubahan wajah monarki absolut yang digagas klan Ibnu Saud pada tahun 1930-an itu. Jika api "revolusi" yang melanda Afrika Utara dan sebagian Timur Tengah seperti Tunisia, Libya, Syria, Irak dipantik dari jalanan, maka di Arab Saudi justeru sebaliknya.

Musim semi di tanah Hijaz ini, dimulai dari istana. Thomas L. Friedman menyebut gebrakan MBS sebagai Musim Semi a la Arab Saudi. Berbeda dengan negara-negara di atas yang menelan banyak korban jiwa, di Arab Saudi hal itu tidak terjadi. Musim Semi versi MBS meniscayakan jatuhnya "korban" di pusaran elite. Ratusan anggota keluarga kerajaan ditangkap. Tak sedikit koruptor dipenjarakan dan sejumlah ulama garis keras ditahan.

Statusnya sebagai Putra Mahkota, membuat MBS leluasa menerbitkan perangkat peraturan demi sukses reformasi. Tak ada aksi penentangan apalagi penolakan. Ia, misalnya, merilis proyek ambisius kota satelit senilai US$ 500 miliar di zona belikat Mesir, Saudi Arabia, dan Yordania. Ia juga menegaskan perlunya membangun kedekatan dan relasi baik dengan Israel. Relasi yang sudah dibangun Gus Yahya sejak sebelum jadi Ketua Umum PBNU.

Di sektor kehidupan sosial dan keagamaan, MBS sangat serius memberi perhatian soal mazhab salafi-wahabi. Dua diktum ini akan selalu melekat dengan Arab Saudi. Salafisme dan Wahabisme dituding sebagai lahan tempat beternak sel ekstrimisme dan radikalisme. Terlebih sejak terungkap dokumen bahwa Osamah bin Laden dan sebagian teroris WTC berpaspor Arab Saudi. Stigma negatif membuat kerajaan itu tersudut.

Bahkan, meski tidak sepenuhnya benar, Arab Saudi dan Wahabi di- labelling sebagai pengekspor radikalisme. Paham yang dikenal kurang toleran ini, dijadikan pembenar primordial untuk meletupkan gerakan ekonomi dan politik agar aliran sentripental dan sentrifugalnya lebih nyata. Mazhab yang dinisbahkan kepada Sheikh Mohamad bin Abdil Wahab ini, juga diposisikan secara diametral dengan Sunni dan Syiah.

Khulashah

Menjelang berlalunya masa satu abad pertama khidmah NU dan sebelum memasuki abad keduanya, penetrasi ke jantung Arab Saudi adalah isyarat menggembirakan. Penegasan Sekjen Dr Sheikh Mohamad Abdul Karim Al Issa secara terbuka bahwa NU adalah pemegang hak milik atas Rabithah 'Alam Islami, merupakan buah dari mujahadah panjang. Sepanjang usia NU dan sepanjang monarki pimpinan Raja Salman itu menganut paham keagamaan yang rigid.

Terlebih, sejak awal kelahirannya, hubungan Rabithah dengan Islam Indonesia, lebih banyak dipengaruhi elite politik kelompok tertentu di Tanah Air. NU lahir sebagai cara para muassis dan ulama Nusantara mencari jalan keluar dari runtuhnya khilafah Turki Utsmani. NU lahir sebagai antitesa dari menguatnya paham keagamaan yang kaku. NU lahir sebagai pedoman berislam ahlussunnah waljamaah ala manhaji kaum muslimin di Nusantara. Wallaahu A'lamu. (Habis)

Ishaq Zubaedi Raqib

Penulis adalah Ketua LTN--Infokom dan Publikasi PBNU
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)



Simak Video "Gus Yahya: PBNU Selalu di Pihak Rakyat Palestina"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia