Anak Kelahiran 2020 Hadapi Krisis Iklim Terbesar? Begini Datanya

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 23 Apr 2022 13:45 WIB
kebakaran hutan
Dampak perubahan iklim bagi masa kini dan masa depan. Foto: AP/Noah Berger
Jakarta -

Perubahan iklim menyebabkan suhu bumi menjadi yang tertinggi sejak 1980-an. Kendati krisis iklim dan pemanasan global sudah diperbincangkan dari tahun ke tahun, anak kelahiran 2020 rupanya yang mengalami krisis iklim terbesar.

Save the Children dalam "Born into the Climate Crisis" melaporkan, krisis iklim di Indonesia membawa dampak yang dirasakan anak-anak saat ini. Data laporan tersebut menyatakan, anak-anak di Indonesia yang lahir tahun 2020 berisiko menghadapi 3 kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai, 2 kali lebih banyak mengalami kekeringan, serta 3 kali lebih banyak gagal panen dibandingkan orang kelahiran 1960.

Krisis iklim salah satunya dipengaruhi aktivitas manusia yang memicu perubahan iklim. Save the Children mencatat, perubahan iklim tersebut berisiko membuat jutaan anak dan keluarga jatuh dalam kemiskinan jangka panjang di Indonesia.

Lebih lanjut, peningkatan suhu bumi atau pemanasan global juga disebut memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan anak dalam berbagai bentuk. Berdasarkan tinjauan literatur oleh Save the Children Indonesia pada 2022, akan terjadi pengurangan jumlah curah hujan selama El Nino. Sementara itu, beberapa wilayah diperkirakan akan mengalami cuaca kering ekstrim.

Sebelumnya pada 2019, jumlah pengungsi kekeringan Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) naik 6 kali dalam kurun satu tahun menjadi 139.746 jiwa.

Di Jawa Barat, catatan statistik tahun 2022 menyebutkan jumlah kejadian banjir mencapai 247 kali pada tahun 2021. Dari kejadian tersebut, korban meninggal dunia 20 orang, 282 mengalami luka. Sementara itu, 1.440.252 orang terdampak dan mengungsi, termasuk anak-anak.

Aksi gerakan iklim >>>

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia