6 Bahaya Dampak Perubahan Iklim yang Siswa Perlu Tahu

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 23 Apr 2022 11:00 WIB
Kenya mengalami kekeringan parah yang kian mematikan. Akibatnya, mulai banyak hewan mati kekurangan makanan dan air. Selasa, (14/12/2021). (Photo by Ed Ram/Getty Images)
Foto: Getty Images/Bahaya Dampak Perubahan Iklim
Jakarta -

Perubahan iklim menimbulkan risiko kebakaran hutan, gagal panen, kekeringan, banjir, hingga gelombang panas di berbagai dunia. Tetapi apakah detikers tahu, bahaya dampak perubahan iklim paling besar dirasakan orang dari negara dengan pendapatan menengah atau rendah?

Laporan Born Into the Climate Crisis dari Save the Children International mencatat, 50 persen negara dengan pendapatan tertinggi merupakan penyumbang 86 persen emisi karbon dioksida di bumi. Sebagai catatan, makin tinggi konsentrasi karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya di atmosfer, makin tinggi suhu bumi. Peningkatan suhu bumi inilah yang disebut pemanasan global.

Sementara itu, 50 persen negara lainnya hanya menyumbang 14 persen emisi karbon dioksida di bumi. Di sisi lain, anak-anak kawasan inilah yang merasakan dampak perubahan iklim terbesar.

Head of Resilience Save the Children Indonesia Fredy Chandra mencontohkan, 85 persen mata pencaharian di kawasan pesisir bergantung pada komoditas laut. Seperti pertanian, komoditas laut juga dipengaruhi perubahan curah hujan dan variabel iklim lain.

Perubahan curah hujan yang signifikan merupakan salah satu tanda pemanasan global. Karena suhu bumi meningkat, penguapan air juga meningkat, sehingga lebih banyak turun hujan.

Sebagai informasi, curah hujan tinggi mengganggu proses pengolahan lahan dan penanaman atau budidaya tanaman. Tidak hanya tanaman di darat, musim tanam rumput laut juga bisa terganggu karena normalnya ditanam saat curah hujan rendah atau musim kemarau. Alhasil, petani bisa gagal panen dan merugi.

"Kalau tidak beradaptasi, dampak perubahan iklim akan terasa secara langsung dan tidak langsung. Jadi dampak perubahan iklim ini berhubungan dengan sosioekonomi dan pembangunan," kata Fredy dalam peluncuran kampanye Aksi Generasi Iklim Save the Children Indonesia di Jakarta, Jumat (22/4/2022).

Dampak perubahan iklim lebih lanjut mencakup risiko demam berdarah, kekurangan makanan, hingga kemiskinan. Berikut lengkapnya:

Dampak Perubahan Iklim

1. Suhu Lebih Panas, Risiko Penyakit

Makin tinggi konsentrasi gas rumah kaca, makin tinggi suhu permukaan di Bumi. Sejak 1980-an, setiap dekade lebih panas dari 10 tahun sebelumnya. Alhasil, semua area daratan mengalami lebih banyak hari-hari panas dan gelombang panas, kebakaran hutan dua kali lebih cepta menyebar. Pencairan es di Arktik tempat beruang kutub tinggal juga jadi lebih cepat.

Suhu bumi yang lebih tinggi juga meningkatkan jumlah kasus penyakit terkait panas. Contoh, nyamuk demam berdarah lebih aktif menggigit pada suhu panas sekitar 26-35 derajat Celcius. Di samping itu, peningkatan suhu juga mempercepat masa transmisi virus dari nyamuk Aedes aegypti, seperti dikutip dari laman Universitas Airlangga.


2. Badai Lebih Parah

Peningkatan suhu bumi atau pemanasan global memicu lebih banyak air menguap. Alhasil, curah hujam ekstrem yang menimbulkan badai destruktif dan banjir lebih sering terjadi, seperti dikutip dari laman PBB Indonesia.

Badai siklon, hurikan, dan taifun juga lebih kuat jika suhu air permukaan laut meningkat. Jenis badai ini sering menghancurkan rumah, menimbulkan kerugian ekonomi, dan kematian.

3. Kekeringan Lebih Buruk

Perubahan iklim membuat curah air hujan lebih tinggi. Alhasil, ketersediaan air berkurang karena air belum sempat terserap dan lebih banyak langsung kembali ke laut.

Rendahnya ketersediaan air pun berdampak pada kekeringan pertanian dan kekeringan ekologis. Kekeringan ekologis memicu ekosistem jadi lebih rentan karena tidak semua spesies bisa berpindah tempat dan bertahan hidup.

Kekeringan juga berisiko memicu badai pasir dan debu destruktif yang terbang lintas benua. Akibatnya, gurun menjadi semakin luas sehingga lahan untuk bercocok tanam berkurang.

4. Peningkatan volume dan suhu lautan

Volume laut bertambah karena air memuai saat menjadi lebih hangat. Mencairnya lapisan es juga menyebabkan kenaikan permukaan laut. Peningkatan volume laut ini berisiko mengancam masyarakat pesisir dan pulau.

Laut juga menyerap karbon dioksida sehingga mengurangi jumlahnya di atmosfer. Tetapi, makin banyak karbon dioksida di laut, makin tinggi keasaman laut. Akibatnya, biota laut dan terumbu karang bisa rusak.

5. Kekurangan Makanan

Laut yang semakin asam berisiko merusak sumber daya laut yang dikonsumsi manusia sehari-hari. Sementara itu, kekurangan air maupun tingginya curah hujan dapat mengganggu pertanian.

Tekanan panas juga dapat membuat sumber air dan padang rumput untuk menggembala berkurang. Alhasil, hewan ternak juga berisiko terdampak perubahan iklim.

6. Kemiskinan dan Berpindah

Dampak perubahan iklim juga termasuk kemiskinan. Banjir akibat curah hujan tinggi berisiko menimbulkan kerusakan di kawasan kumuh, menghancurkan rumah, dan merusak kawasan mata pencaharian.

Sementara itu, kekurangan air maupun tingginya curah hujan dapat membuat petani gagal panen. Jika tidak siap dengan bencana ini, orang berisiko mengalami kemiskinan dan harus mengungsi untuk mencari penghidupan.



Simak Video "Gelombang Panas di Spanyol Picu Kebakaran Hutan"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia