Stephen Hawking Ramal Kepunahan Bumi, Relevankah dengan Kenaikan Suhu di Antartika?

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 29 Mar 2022 14:00 WIB
Stephen Hawking dalam acara New Space Exploration Initiative
Stephen Hawking. Foto: Getty Images
Jakarta -

Stephen Hawking pernah mengatakan, umat manusia akan mengubah planet Bumi menjadi planet merah pada tahun 2600 akibat overpopulasi dan konsumsi energi. Sehingga, Bumi pun menjadi tak dapat lagi ditinggali.

Dia juga menyebutkan bahwa manusia perlu bermigrasi ke planet lain dalam waktu 100 tahun (per 2017) atau jika tidak, akan mengalami kepunahan.

"Dengan perubahan iklim, hantaman asteroid yang terlambat, epidemi dan overpopulasi, planet kita menjadi semakin berbahaya," ungkapnya dalam sebuah dokumenter BBC pada 2017, seperti dikutip dari CNBC Internasional.

Sementara, dalam sebuah laporan New York Post, Hawking mengatakan pemanasan global dapat menyebabkan Bumi menjadi seperti Venus, dengan suhu global 482 derajat Fahrenheit. Selain kenaikan suhu, juga terjadi hujan asam sulfur.

"Pada 2600, populasi dunia akan berdiri bahu-membahu dan konsumsi listrik membuat Bumi mengeluarkan cahaya berwarna merah," kata Hawking dalam sebuah pertemuan antarilmuwan sains di Beijing beberapa tahun lalu.

Kenaikan Suhu Sebesar 70 Derajat Terjadi di Antartika

Beberapa waktu lalu, tepatnya 18 Maret 2022, terjadi kenaikan suhu di kawasan Penelitian Concordia yang ada di Antartika. Di sana, suhu menghangat 70 derajat Fahrenheit.

Menghangatnya temperatur di area Penelitian Concordia menyebabkan suhu di sana tercatat 11.3 derajat Fahrenheit atau minus 11,5 derajat Celsius. Padahal, normalnya di hari itu adalah minus 56 Fahrenheit atau minus 49 Celsius.

Oleh sebab itu, para ilmuwan mengatakan, jika Badan Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) mencatat metrik tersebut, maka akan menjadi sebuah rekor dunia.

Tempat lain yang mengalami hal serupa di hari yang sama adalah Vostok, sebuah pusat penelitian milik Rusia di Antartika. Di sana tercatat 63 derajat Fahrenheit lebih hangat dari biasanya.

Profesor Ilmu Geografi di Arizona State University sekaligus reporter pencatatan ekstrem WMO, Randall Cerveny menerangkan, ada rangkaian kejadian meteorologi tak biasa yang menyebabkan hal ini.

Terdapat aliran uap air atau kelembapan sungai atmosfer, lalu badai menarik sejumlah besar kelembapan di samudra ke daratan. Di samping itu, rembesan udara yang sangat panas ke dataran tinggi Antartika. Meski jarang, bahan-bahan atmosfer itu bisa jadi sudah terkumpul sejak belum ada yang bisa mengamatinya.

Kenaikan suhu yang ekstrem di Antartika sebetulnya menyebabkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang, jika hal ini terus terjadi. Lapisan es yang luasnya serupa Los Angeles bisa mencair dalam beberapa hari jika ada penghangatan ekstrem di kawasan itu.

Meski peneliti dari British Antarctic Survey, John King mengatakan efek kenaikan suhu di Antartika seperti tanggal 18 Maret itu kecil, dampaknya akan signifikan jika semakin sering terjadi di masa yang akan datang.

Itu dia ramalan yang pernah disampaikan Stephen Hawking dan fenomena kenaikan suhu ekstrem yang baru terjadi di Antartika. Bagaimana menurut detikers?



Simak Video "Masalah Perubahan Iklim yang Makin Bikin Ketar-ketir"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia