Revolusi Hijau: Awal Mula hingga Dampaknya pada Pertanian di Indonesia

Afifah Rahmah - detikEdu
Kamis, 24 Mar 2022 11:08 WIB
Hamparan sawah menguning siap panen. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Sawah dan pertanian yang terdampak revolusi hijau. Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Revolusi hijau adalah upaya dan cikal bakal kemajuan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pangan. Tujuannya adalah mengubah penggunaan teknologi tradisional pada sektor pertanian dengan menerapkan teknologi modern untuk hasil yang optimal.

Indonesia sebelumnya sudah dikenal sebagai negara yang kaya hasil pertanian dan perkebunan misal padi, jagung, kedelai, ubi, teh dan kopi. Revolusi hijau berpengaruh besar pada produktivitas kedua sektor, untuk mencukupi kebutuhan penduduk Indonesia.

Revolusi hijau dilakukan dengan beberapa cara, misal meneliti dan percobaan bibit unggul. Bagaimana awal mula revolusi hijau dan siapa yang mendorong perubahan besar pada pertanian dunia? Simak ulasannya berikut ini.

A. Sejarah munculnya revolusi hijau

Dikutip dari Jurnal Kebijakan Revolusi Hijau oleh Samahuddin Muharram (2020), gagasan revolusi hijau berawal dari hasil penelitian yang dikerjakan oleh Thomas Robert Malthus.

Lewat tulisannya, Malthus mengatakan kemiskinan dan kemelaratan timbul dari pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan produksi pangan. Masyarakat tumbuh lebih cepat dari peningkatan produksi pertanian (sumber pangan).

Penelitiannya membuat beberapa lembaga seperti Ford Foundation dan Rockefeller Foundation melakukan penelitian lebih mendalam. Proses revolusi hijau pada negara-negara berkembang diawali dengan menanam gandum di Meksiko (1950) dan Filipina (1960) setelah Perang Dunia I usai.

Ada juga sosok yang kini dikenal sebagai Bapak Revolusi Hijau adalah Norman Ernest Borlaug, seorang agronomis yang berhasil meraih anugerah Penghargaan Perdamaian Nobel tahun 1970. Ia berjasa besar dalam berupaya meningkatkan produksi pangan dan menumpas masalah kelaparan penduduk dunia.

B. Revolusi hijau di Indonesia

Sementara di Indonesia, revolusi hijau mulai diupayakan di zaman orde baru pada program pembangunan. Saat itu Kabinet Ampera diberi tugas memperbaiki kehidupan rakyat baik itu pada kebutuhan pangan maupun sandang.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan pasokan pangan dengan revolusi hijau yang membuahkan hasil berupa swasembada beras untuk lima tahun (1984-1989). Meski swasembada ini tidak berlangsung dalam waktu panjang.

Proses revolusi hijau di Indonesia menerapkan 4 hal penting yaitu sistem irigasi untuk penyedia air, penggunaan pupuk secara optimal, penggunaan pestisida berdasarkan tingkat serangan hama, dan penggunaan bahan tanam berkualitas seperti varietas unggul.

Cara pemerintah Indonesia mendorong revolusi hijau sebagai berikut:

1. Intensifikasi Pertanian yaitu cara yang dilakukan dengan memilih bibit unggul, mengolah tanah, irigasi, pemupukan dan memberantas hama. Cara pertama ini disebut juga dengan Panca Usaha Tani.

2. Ekstensifikasi Pertanian yaitu usaha untuk memperluas lahan tani dengan membuka lahan baru

3. Diversifikasi Pertanian yaitu upaya membuat suatu lahan berisi beragam jenis tanaman lewat sistem tumpang sari. Cara ini dapat mencegah gagal panen pokok

4. Rehabilitasi Pertanian yaitu upaya pemulihan produktivitas yang dapat membahayakan kondisi lingkungan

C. Dampak revolusi hijau

Fokus revolusi hijau adalah meningkatkan pemenuhan pangan pokok khususnya serealia untuk kebutuhan karbohidrat. Di masa pemerintahan Soeharto, Indonesia sempat menjadi negara swasembada pangan besar dunia di tahun 1980-an.

Berikut ini dampak positif revolusi hijau:

- Kesejahteraan petani meningkat

- Ekonomi pedesaan menguat

- Ketahanan pangan nasional meningkat

- Kesadaran masyarakat pedesaan terhadap pentingnya adaptasi teknologi terbuka

Selain manfaat dari revolusi hijau, ada dampak negatif yang terjadi yaitu:

- Petani ketergantungan dengan pupuk kimia dan pestisida yang tidak ramah lingkungan

- Kemunculan kapitalisme di sektor pertanian

- Teknologi modern belum merata sehingga ada kesenjangan

Sejak saat itu, masyarakat menyadari keberhasilan di bidang pertanian tak cukup dengan revolusi hijau saja, namun perlu ada pembangunan pada lingkungan pertanian berkelanjutan.



Simak Video "Melihat Sentra Perkebunan Kopi di Jempanang yang Jadi Surga Tersembunyi"
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia