Ada Bahasa Daerah di Indonesia yang Terancam Punah, Apa Sebabnya?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 17 Mar 2022 21:00 WIB
Ilustrasi Orang Berbincang
Foto: Istockphoto/ferlistockphoto/Ada Bahasa Daerah di Indonesia yang Terancam Punah,
Jakarta -

Indonesia merupakan negara dengan bahasa terbanyak ke dua di dunia setelah Papua Nugini. Keragaman bahasa di Indonesia tersebar di seluruh daerah, baik kawasan urban maupun terpencil.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengembangan Bahasa Kemdikbudristek Prof. E. Aminudin Aziz, M.A,. Ph.D. dalam Silaturahmi Merdeka Belajar dengan tema "Revitalisasi Bahasa Daerah".

"Indonesia begitu kaya. Kaya sekali dengan bahasa daerah. Indonesia punya 718 bahasa daerah dan menjadi negara kedua paling multilingual di antara seluruh negara di dunia setelah Papua Nugini," ucapnya via Youtube Kemdikbud RI, Kamis (17/3/2022).

Belum Termasuk Dialek

Berdasarkan data dari Peta Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tahun 2019, 718 bahasa daerah di Indonesia berasal dari 2.560 wilayah yang dipantau.

Jumlah tersebut, diakui Aminudin belum termasuk dialek atau sub-sub dialek yang ada di Indonesia.

"Misalnya bahasa Jawa ada bahasa Jawa Jogja, Solo, Semarang, Malang, Surabaya, dan sebagainya. Itu adalah dialek," terangnya.

Lebih lanjut Kepala Badan Pengembangan Bahasa menerangkan bahwa vitalitas atau daya hidup bahasa-bahasa itu tidak sama.

Ia menjelaskan, ada bahasa yang dalam kondisi aman karena penuturnya banyak. Tetapi, ada bahasa yang penuturnya sedikit dan mulai pudar.

"Dikhawatirkan bahasa yang sedikit ini akan punah kalau tidak direvitalisasi," ungkapnya.

Faktor Punahnya Bahasa Daerah

Aminudin juga menyebut UNESCO pernah menegaskan bahwa setiap 2 minggu, ada satu dari total sekitar 7.000-an bahasa daerah di dunia mengalami kepunahan.

"Faktor kepunahannya adalah sudah tidak banyak dipakai lagi," katanya.

Oleh karena itu, sambungnya, Badan Pengembangan Bahasa sebagai unit yang atau lembaga negara yang diberi amanat perlu terus melestarikan dan melindungi bahasa daerah secara bersama-sama.

"Maka supaya tidak punah, bahasa daerah harus direvitalisasi," imbuhnya.

Revitalisasi diperlukan karena bahasa bukan hanya urusan kombinasi kata dan bunyi saja tetapi ada refleksi kearifan lokal, perasaan, hingga nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa yang menjadi ekspresi masyarakat.

"Jadi itu esensi yang menjadi alasan mengapa kementerian melakukan revitalisasi bahasa daerah," ucapnya.

Upaya untuk Revitalisasi Bahasa Daerah

Aminudin mengatakan sejauh ini, pihaknya sudah membuat peta jalan dengan membuat 5 langkah untuk revitalisasi bahasa daerah, yakni:

1.Melakukan pemetaan

Pemetaan dilakukan terkait wilayah bahasa-bahasa itu dipakai. Sejauh ini, sudah ada 718 bahasa yang terdata.

Menurut Aminudin, pemetaan hingga saat ini belum selesai karena masih banyak bahasa daerah terutama daerah pedalaman yang belum terpetakan.

2. Kajian vitalitas

Baru sekitar 150-an bahasa yang sudah dilakukan kajian dari 718 bahasa yang terdata. Artinya, masih begitu sedikit yang sudah dikaji vitalitasnya.

"Karena melakukan kajian ini sangat mahal. Kita harus bertemu dengan penutur asli bahasa itu di daerah terpencil sekalipun harus didatangi," jelas Aminudin.

3. Melakukan konservasi

Konservasi yang dimaksud adalah pendokumentasian unsur dari bahasa itu. Mulai dari unsur bunyi, morfologisnya, sintaksis, unsur makna, dan pembuatan kamusnya.

"Sejauh ini yang sudah terdokumentasi dengan baik, punya lebih dari 228-an kamus bahasa daerah," terangnya.

Aminudin mengaku hal ini belum cukup karena masih harus terus melakukan pendokumentasian. Menurutnya, ada hampir 500-an bahasa daerah di Indonesia yang belum terdokumentasi dengan baik.

4. Melakukan konsultasi

Konsultasi dilakukan dengan penutur bahasa daerah, pengampu-pengampu kepentingan apakah mau direvitalisasi atau tidak.

"Kata kunci dari revitalisasi adalah kemauan dari penutur bahasa. Kalau ada kemauan maka akan dibuatkan peta jalan," tutur Aminudin.

5. Berkelanjutan

Selama ini tidak berkesinambungan ketika sebuah program dilakukan dianggap sudah selesai kemudian diserahkan pada masyarakat. Kedepan, pihak Badan Pengembangan Bahasa akan melakukan revitalisasi yang berkelanjutan.

"Karena ini melibatkan pemangku kepentingan baik itu warga di masyarakat, sekolah, pemerintah. Jadi perlu dilakukan bersama-sama," jelasnya.

Target Revitalisasi Bahasa di 2022

Sementara itu pada tahun 2021, ada tambahan bahasa yang masuk kategori rentan. Aminuddin mengatakan, bahasa rentan yaitu bahasa yang tidak digunakan sehingga mengalami kemunduran dan bisa punah.

Berdasarkan kajian terakhir, sambungnya, bukan hanya daerah pedalaman yang rentan.Ada 14 bahasa daerah urban yang mengalami kemunduran. Ditambah bahasa yang terancam punah tahun 2021, maka total ada 29 bahasa yang mengalami kerentanan.

Oleh karena itu, Aminudin menjelaskan, paling tidak ditargetkan revitalisasi 28 bahasa daerah di 12 provinsi pada 2022.

"Ini masih banyak yang harus dilakukan. Tahun depan mudah-mudahan (bahasa yang direvitalisasi) bisa bertambah lagi," pungkasnya.



Simak Video "Malaysia-Indonesia Sepakat Perkuat Bahasa Melayu"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/twu)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia