Kenapa Suara Gesekan Bisa Bikin Ngilu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kristina - detikEdu
Jumat, 04 Mar 2022 20:30 WIB
middle aged women feel tinnitus in the airplane
Ilustrasi ngilu saat mendengar suara gesekan. Foto: iStock
Jakarta -

Suara gesekan, seperti kuku di papan tulis, dua pisau, atau bambu, sering kali membuat ngilu dan merinding. Sejumlah ilmuwan diketahui telah menelusuri penyebab munculnya reaksi tersebut.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience pada 2012 lalu mengungkapkan, suara gesekan atau lengkingan memicu peningkatan komunikasi antara wilayah otak yang terlibat dalam pendengaran dan wilayah otak lain yang terlibat dalam emosi.

Para peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) untuk memeriksa bagaimana otak peserta merespons suara. Hasil penelitian menunjukkan, terjadi interaksi antara korteks pendengaran yang memproses suara dan amigdala yang memproses emosi negatif.

Selain itu, akivitas antara dua wilayah tersebut akan semakin besar ketika seseorang semakin menolak suara tidak menyenangkan. Beberapa di antaranya adalah gesekan pisau di botol, garpu di gelas, dan kapur di papan tulis.

Dilansir dari Live Science, suara yang tidak menyenangkan tersebut berada pada frekuensi antara 2.000 dan 5.000 Hertz. Ini merupakan rentang frekuensi paling sensitif di telinga.

Hal serupa juga dikatakan oleh Michael Oehler, seorang profesor manajemen media dan musik di Macromedia University of Applied Sciences di Jerman. Frekuensi paling menyakitkan bukanlah yang tertinggi atau terendah, melainkan antara 2.000 dan 4.000 Hertz.

Jauh sebelum penelitian ini dilakukan, studi serupa pernah mengungkap alasan mengapa suara gesekan akan terasa ngilu saat terdengar oleh telinga. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Perception & Psychophysics tahun 1986.

Para peneliti merekam suara alat berkebun yang menggores papan tulis. Kemudian, mereka mengotak-atik rekaman tersebut, menghilangkan frekuensi tinggi, menengah, dan rendah dari rekaman yang berbeda.

Setelah memainkan suara yang dimodifikasi kepada para peserta, para peneliti menemukan bahwa menghilangkan frekuensi tinggi tidak membuat suara lebih menyenangkan. Sebaliknya, menghilangkan frekuensi rendah dan menengah dari suara tersebut membuatnya lebih enak didengar, menurut Medical Press.

Suara gesekan juga memicu rasa jijik. Dilaporkan oleh News Scientist, Inge Schweiger Gallo dan rekan-rekannya dari Complutense University of Madrid melakukan penelitian terkait rangsangan yang timbul akibat suara gesekan.

Para sukarelawan menilai suara tersebut terdengar kurang menyenangkan, tepatnya lebih pada rasa jijik. Suara ini terjadi pada benda-benda tertentu, seperti gabus, beludru, atau spons.



Simak Video "Semarak Kehidupan Beragama dalam Balutan Seni di Pesparawi XIII"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia