Peristiwa Isra Mi'raj dari Tinjauan Sains, Begini Kata Pakar Astronomi

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 27 Feb 2022 19:00 WIB
Isra and miraj greeting islamic illustration vector design. The night journey of Prophet Muhammad brochure or background template. Can be used for greeting cards. Flat cartoon style
Isra Miraj dalam tinjauan sains, begini kata pakar astronomi. Foto: Getty Images/iStockphoto/ngupakarti
Jakarta -

Isra Mi'raj adalah rangkaian dua perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam saja. Setelah menjalani Isra dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha dengan buraq yang kini sejauh 2.113 km, Rasulullah SAW naik ke langit sampai ke Sidratulmuntaha. Bagaimana peristiwa Isra Mi'raj ini dipandang dari kacamata sains?

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa, Organisasi Riset Penerbangan dan Antaraksa (ORPA), BRIN Thomas Djamaluddin mengutarakan perspektifnya akan peristiwa Isra Mi'raj.

"Kalau kita lihat dan kita pikirkan memang luar biasa, perjalanan satu malam tidak menggunakan wahana yang canggih seperti saat ini dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina. Ini yang disebut sebagai Isra', perjalanan pada malam hari," kata Thomas dalam siaran di kanal Alhidayah Badan Geologi, Minggu (27/2/2022).

Ia merunut, salah satu bagian kisah peristiwa Isra Mi'raj yaitu setelah Rasullah SAW didatangkan buraq, makhluk berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata untuk melakukan Isra. Nabi Muhammad SAW lalu melanjutkan perjalanan memasuki 7 langit tempat ia bertemu Nabi Adam AS hingga Nabi Ibrahim AS.

Nabi Muhammad SAW lalu dikisahkan melanjutkan perjalanan ke Sidratulmuntaha dengan puncak menerima perintah salat wajib.

Isra Mi'raj dalam Kacamata Sains

Perjalanan keluar dimensi ruang-waktu

"Sidratulmuntaha ini lambang batas yang tidak seorang manusia atau makhluk lain bisa mengetahui lebih jauh," kata Thomas.

Lebih lanjut Thomas mengatakan, Isra Mi'raj menurut sains adalah perjalanan keluar dimensi ruang-waktu. Dengan demikian, Isra Mi'raj bukan perjalanan biasa, bukan perjalanan dengan wahana antariksa, serta bukan perjalan antariksa di antara planet-planet, bintang-bintang, atau galaksi.

Ia menjelaskan, manusia pada dasarnya hidup di dalam dimensi ruang-waktu. Dimensi manusia ini dibatasi ruang dan dibatas waktu, seperti adanya ruang, jauh-dekat, masa lampau-sekarang-masa depan, serta waktu singkat dan waktu lama.

Karena itu, menurut Thomas, ketika ketika manusia atau sahabat Rasulullah SAW sekalipun kaget mendengar perjalanan kurang dari semalam dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Sebab, perjalanan dengan kuda tercepat pun butuh waktu cukup lama.

"Dan dengan buraq itu (Rasulullah SAW) keluar dimensi waktu ruang. Pertemuan di langit itu menggambarkan Rasul tidak lagi terikat pada waktu," kata Thomas.

"Jita tidak perlu lagi bertanya, dan tidak relevan lagi bertanya di mana itu (pertemuan di langit yang 7) Sudah keluar dari dimensi ruang waktu," imbuhnya.

Dimensi

Thomas mengatakan, manusia pada dasarnya mengenal batas dimensi. Ia mencontohkan, sebuah perjalanan dua dimensi punya rute berbentuk huruf u atau tapal kuda. Namun, perjalanan keluar dari dimensi dapat memiliki rute loncat dari ujung huruf u ke ujung huruf u satunya.

"Malaikat Jibril, jin, itu juga termasuk makhluk di luar dimensi ruang waktu. Karena itu mudah saja bagi malaikat mengajak nabi untuk melakukan perjalanan di luar ruang-waktu. Ini hal yang sama ketika iblis turun ke bumi dan bisa berada di mana pun dan tidak mati," kata Thomas.

"Jadi tidak relevan juga bertanya di mana, karena di luar dimensi ruang-waktu, itu (jadi) meminta dimensi ruang-waktu, yang mana dia di luarnya." tambah Thomas.

7 Langit bertingkat

Thomas mengatakan, perjalanan Rasulullah di 7 lapis langit juga dapat ditinjau secara sains. Langit 7 lapis dalam peristiwa Isra Mi'raj menurutnya bermakna jumlah benda langit tidak berhingga.

Ia menjelaskan, tidak ada lapisan langit dan atmosfer secara nyata di alam semesta. Atmosfer, sambungnya, dibedakan berdasarkan derajat suhu dan lainnya, namun tidak secara khusus berlapis. Sementara itu, langit mencakup wilayah orbit satelit, orbit bulan, dan juga tata surya.

"Struktur besar alam semesta yang tidak hingga itu disebut 7 langit," kata Thomas.

Thomas mengakui, anggapan lapisan langit sebelumnya dapat terbentuk saat ilmu astronomi dan astrologi belum dipisahkan. Dalam konsep sains tafsir lama, 7 langit tempat Nabi Muhammad SAW diasosiasikan dengan bulan dan planet-planet di tata surya.

Ia menjelaskan, saat itu, setiap benda langit tersebut dimaknai bertempat di satu lapisan langit berbeda. Rasulullah SAW lalu ditafsirkan bertemu Nabi Adam di bulan, Nabi Isa dan Yahya di Merkurius, dan seterusnya.

Thomas mengatakan, analogi makna 7 langit sebagai langit yang tidak berhingga juga tampak pada 7 lautan di Al Qur'an surat Luqman ayat ke 27,

وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَامٌ وَّالْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ - ٢٧

Arti: Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Selamat memperingati Isra Mi'raj 2022, semoga kita makin khusyuk menjalankan salat wajib.



Simak Video "Lagi Stres? Bisa Nikmati Kebun Teh dan Samudera Awan di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia