Hujan di Eksoplanet Ini Diduga dari Permata Cair, Begini Kata Pakar

Anatasia Anjani - detikEdu
Rabu, 23 Feb 2022 20:00 WIB
Planet mengerikan di luar angkasa
Ilustrasi exoplanet WASP 121-b Foto: NASA/JPL-Caltech
Jakarta -

Penelitian terbaru menunjukkan, salah satu eksoplanet WASP-121b memiliki awan logam dan hujan yang terbuat dari permata cair. Studi tersebut menjelaskan bagaimana air bersirkulasi di antara dua sisi planet.

Planet WASP-121B pertama kali ditemukan pada tahun 2015. Planet ini serupa planet Jupiter yang memiliki suhu yang sangat panas dan memiliki massa serta diameter yang lebih besar daripada plat terbesar lainnya.

Karena ciri khasnya tersebut, peneliti terus mempelajarinya. Planet ini memiliki atmosfer yang terdiri dari uap air yang bercahaya dan berubah menjadi bola karena tarikan gravitasi yang kuat dari bintang yang mengorbitnya.

Setiap 30 jam WASP-121b berputar satu orbit, mirip seperti yang dilakukan bulan terhadap Bumi. Hal itu mengakibatkan satu sisi planet mengalami siang hari dan menghadap bintang. Sisi lainnya mengalami malam permanen dan menghadap ke angkasa.

"Planet Jupiter memiliki siang hari yang sangat terang namun pada malam harinya sangat berbeda. Sisi malam WASP-121b sekitar 10 kali lebih redup daripada sisi siang hari," kata peneliti di astrofisika di Institut Teknologi Massachusetts, Tansu Daylan yang dikutip dari laman CNN.

Siklus Air yang Luar Biasa

Di Bumi, penguapan air dilakukan sampai ke awan dan kemudian menyebabkan hujan. Sedangkan di WASP-121b, penguapan air terjadi lebih ekstrem.

Atom-atom air hancur karena suhu yang sangat terik di planet WASP-121b pada siang hari. Kemudian atom-atom tersebut dibawa ke sisi malam oleh angin dengan kecepatan 17.703 kilometer per jam.

Di sana molekul air berkumpul untuk membentuk air kembali sebelum didorong ke siang hari lagi. "Angin ini jauh lebih cepat daripada aliran jet kita, dan mungkin dapat memindahkan awan melintasi seluruh planet dalam waktu sekitar 20 jam," ujar Daylan.

Perbedaan suhu yang ekstrem pada planet ini juga menyebabkan membentuk awan logam yang terbuat dari besi dan korundum. Korundum merupakan mineral pada batu rubi dan safir.

Sama seperti uap air yang berputar-putar di WASP-121b, awan logam ini mungkin terdorong ke siang hari di mana logam menguap menjadi gas. Sebelum awan bergerak dari sisi malam, mereka menurunkan hujan dari permata cair.

"Dengan pengamatan ini, kami benar-benar mendapatkan pandangan global tentang meteorologi sebuah eksoplanet," kata peneliti Jerman di Max Planck Institute for Astronomy, Thomas Mikal Evans.

"Walaupun ada banyak eksoplanet, kami hanya dapat mempelajari sebagian kecilnya saja karena penelitiannya sulit dilakukan," tambah Mikal.

Cuaca di WASP-121b

Dalam studi ini juga mengungkapkan perbedaan ekstrem antara suhu siang dan malam hari di planet WASP-121b. Hal ini diteliti melalui siklus air. Pada siang hari suhu di planet ini mencapai 2.227 derajat Celcius. Sedangkan di lapisan atmosfer terdalamnya mencapai 3.227 derajat Celcius.

Sementara pada malam hari keadaan menjadi lebih dingin, dengan suhu terpanasnya 1.527 derajat Celcius menjadi 1.227 derajat Celcius di atmosfer atas.

Para astronom berencana akan mengamati planet WASP-121b akhir tahun 2022 dengan teleskop luar angkasa James Webb.

"Sangat menarik untuk mempelajari planet seperti WASP-121b yang sangat berbeda dari planet lainnya di sistem tata surya kita, karena planet ini menunjukkan bagaimana atmosfer berperilaku dalam kondisi ekstrem," ujar peneliti dari Universitas Terbuka di Inggris, Joanna Barstow.



Simak Video "NASA Temukan Planet Mirip 'Neraka'"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia