Ibnu Bajjah, Ilmuwan Muslim dan Musisi Gambus yang Mati Diracun

Rosmha Widiyani - detikEdu
Kamis, 17 Feb 2022 13:30 WIB
Arab woman with veil against orange yellow sky
Ilustrasi muslim/Ibnu Bajjah, ilmuwan muslim yang meninggal diracun. Foto: Getty Images/iStockphoto/vanbeets
Jakarta -

Ilmuwan muslim terkenal dengan karyanya yang berdampak pada peradaban manusia. Tak terkecuali Ibnu Bajjah yang namanya berarti anak emas. Dunia barat menyebut ilmuwan asal Zaragosa, Spanyol, ini dengan Avempace.

Dikutip dari tulisan berjudul Telaah Pemikiran Ibn Bajjah, sang ilmuwan lahir dengan nama Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh pada abad ke-11 Masehi (M). Dia mengembangkan keilmuannya selama kekuasaan Dinasti Murabbitun.

Sejarah mencatat Ibnu Bajjah menjalani kehidupan di Seville, Granada, dan Fez. Belajar tampaknya menjadi nafas Ibnu Bajjah sejak muda hingga ia berhasil hapal Al Quran, menjadi filsuf, sekaligus ilmuwan berbagai bidang.

"Ibnu Bajjah menguasai beberapa disiplin ilmu pengetahuan, seperti kedokteran, astronomi, musik, dan matematika," tulis jurnal karya Ahmad Zaini dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus yang terbit dalam FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan.

Dikutip dari situs Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPP AIK) Universitas Muhammadiyah Prof DR Hamka, ilmuwan di era kejayaan Islam di Andalusia ini juga seorang seniman. Dia piawai dalam sastra dan bermain musik.

"Menurut penulis kontemporer bernama Ibnu Khaqan, selain dikenal sebagai seorang penyair, Ibnu Bajjah juga dikenal sebagai musisi. Ia piawai bermain musik terutama gambus. Dia juga dikenal sebagai politikus ulung," tulis situs tersebut.

Kepiawaian tersebut mengantar ilmuwan muslim Ibnu Bajjah menjadi menteri di masa pemerintahan Gubernur Zaragosa Daulat al-Murabith, Abu Bakar ibn Ibrahim Al Sahrawi. Dia keluar Zaragosa saat wilayah tersebut jatuh dalam kekuasaan Alfonso I, Raja Aragon, pada 1118 M.

Ibnu Bajjah pergi ke Seville melalui Valencia dan menjadi dokter. Kemudian dia pindah ke Granada saat Seville juga dikuasai Alfonso I. Ketika transit di area bernama Syatibah, dia dipenjara pimpinan setempat karena tuduhan membuat bid'ah.

Dia segera dibebaskan dari penjara dan tuduhan tersebut lalu meneruskan perjalanan ke Fez (Maroko). Ibnu Bajjah kemudian memasuki istana Gubernur Abu Bakar Yahya bin Yusuf bin Tasyfin (Ibn Tasyfin) dan menjadi pejabat.

Amanah yang diperoleh karena kemampuan dan pengetahuan tersebut ternyata mengudang rasa tidak suka. Selama 20 tahun menjadi pejabat, Ibnu Bajjah dituduh mereka yang tidak suka sebagai ahli bid'ah. Beberapa usaha pembunuhan juga dilancarkan atas ilmuwan muslim ini.

"Semua usaha itu gagal dan baru berhasil dilakukan dokter termasyhur bernama Abul Ala bin Zuhr dengan racun. Ibnu Bajjah meninggal dunia di Fez pada tahun 1138 M ketika usianya belum lagi tua," tulis jurnal tersebut.

Selama hidup, Ibnu Bajjah sangat produktif dan banyak menghasilkan banyak karya. Tulisan Ibnu Bajjah dalam bahasa Arab diterjemahkan dalam latin, hingga berdampak luas pada peradaban barat.

Manuskrip asli dan terjemahan karya Ibnu Bajjah tersimpan di Perpustakaan Bodlein, Perpustakaan Berlin, dan Perpustakaan Escurial (Spanyol). Perpustakan Berlin menyimpan 24 risalah manuskrip karangan ilmuwan muslim ini yaitu Tardiyyah (syair-syair) Risalah al-Akhlaq , Kitab al-Nabat, dan Risalah al-Ghayah al-Insaniyyah.



Simak Video "Penemu Thermal Spray Coating Dari Silikon Karbida Bidik Pasar Eropa-Amerika"
[Gambas:Video 20detik]
(row/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia