Kenapa Tahun Baru Imlek Selalu Jatuh pada Bulan Januari-Februari?

Kristina - detikEdu
Sabtu, 05 Feb 2022 14:00 WIB
Kalender Imlek . dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Ilustrasi kalender Tahun Baru Imlek yang jatuh setiap bulan Januari-Februari. Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Orang awam mengira Tahun Baru Imlek ditentukan berdasarkan kalender Bulan, selaras dengan sebutannya--Lunar New Year. Faktanya, masyarakat Tionghoa kuno menggunakan dua sistem kalender dalam menentukan permulaan tahun.

Berbeda dengan penanggalan Hari Raya Idul Fitri yang selalu berubah setiap tahun, baik tanggal maupun bulannya, penanggalan Tahun Baru Imlek selalu jatuh di bulan Januari atau Februari setiap tahunnya. Ternyata, keduanya memang menggunakan sistem penanggalan yang berbeda.

Dijelaskan oleh Bosscha Observatory Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam media sosialnya, Sabtu (5/2/2022), kalender yang digunakan orang Tionghoa merupakan gabungan antara kalender Bulan dan kalender Matahari. Kalender ini dinamakan lunisolar atau suryacandra.

Kalender Bulan mengacu pada siklus fase Bulan yang dimulai ketika Bulan baru dan akan berakhir pada Bulan baru selanjutnya. Satu bulan terdiri dari 29-30 hari dan satu tahun terdiri dari 353-355 hari.

Kalender Tionghoa juga mengikuti siklus fase Bulan tersebut pada umumnya. Hanya saja, masyarakat Tionghoa kuno menyadari bahwa revolusi Bumi berlangsung selama 365,24 hari. Artinya, dalam satu tahun dalam kalender Bulan berkurang sekitar 11 hari dari satu tahun Matahari.

Mereka juga membagi satu tahun Matahari menjadi 24 termin merujuk pada waktu yang dibutuhkan Matahari untuk bergerak 15° di bidang ekliptik supaya penanggalan mereka sinkron dengan musim. Maka, muncullah bulan ke-13 di kalender lunisolar ini.

Jadi, dalam kalender yang digunakan orang Tionghoa kuno terdapat 12 atau 13 bulan dalam satu tahun. Sehingga, setiap tahun bisa terdiri dari 353-355 hari atau 383-385 hari.

Konsep bulan ke-13 pada kalender ini mirip seperti kalender Gregorian yang memunculkan tahun kabisat setiap 4 tahun sekali. Sementara, tahun kabisat di kalender Tionghoa terjadi setiap 2-3 tahun sekali dan akan terdapat 7 tahun kabisat setiap 19 tahun.

Bulan kabisat di kalender Tionghoa ini akan mengikuti jumlah hari dan nama bulan sebelumnya dan bisa terletak di awal, tengah, maupun akhir tahun. Hal inilah yang membuat perayaan Tahun Baru Imlek selalu jatuh di antara 21 Januari dan 21 Februari. Umumnya merupakan Bulan baru paling dekat dengan musim semi di Bumi belahan utara.

Siklus kalender ini akan berlangsung selama 60 tahun dan setiap satu tahun di kalender Imlek terdiri atas 2 suku, suku langit dan shio. Terdapat 10 suku langit yang merujuk pada 5 elemen dan 12 shio atau zodiak. Antara suku langit dan shio ini akan berjalan selaras, suku langit pertama dengan shio pertama, begitupun seterusnya hingga pasangan ke-60.

Melansir studycli.org, kalender lunisolar masyarakat Tionghoa kuno ini biasanya disebut sebagai nóng lì, yang secara langsung diterjemahkan menjadi "kalender pertanian." Bulan pertama tahun ini disebut zhēng yuè yang menandai dimulainya siklus tahun baru dan dirayakannya Tahun Baru Imlek.

Tahun penanggalan kalender Tionghoa berakhir dengan bulan musim dingin terakhir yang disebut là yuè. Bagaimana, detikers, sudah paham ya sekarang?



Simak Video "Meriahnya Perayaan Tahun baru Imlek di Kota Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia