Mengenal Perjanjian Ekstradisi yang Baru Disetujui RI dan Singapura

Anatasia Anjani - detikEdu
Rabu, 26 Jan 2022 20:20 WIB
RI dan Singapura meneken perjanjian ekstradisi, 25 Januari 2022. (Dok Sekretariat Presiden RI)
Foto: RI dan Singapura meneken perjanjian ekstradisi, 25 Januari 2022. (Dok Sekretariat Presiden RI)
Jakarta -

Baru-baru ini pemerintahan Indonesia dan Singapura telah menyetujui perjanjian ekstradisi pada Selasa (25/1/2022). Perjanjian tersebut dimulai sejak tahun 1972.

Peresmian perjanjian ekstradisi itu disaksikan langsung oleh kepala pemerintahan kedua negara yaitu Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong di Bintan, Kepulauan Riau.

"Untuk perjanjian ekstradisi dengan perjanjian yang baru ini, masa retroaktif diperpanjang dari semula 15 tahun menjadi 18 tahun sesuai dengan Pasal 78 KUHP," kata Jokowi yang dikutip dari CNN Indonesia.

Dengan adanya perjanjian ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pemerintahan Indonesia untuk memulangkan para buronan kriminal hingga koruptor yang kabur ke Singapura, dan sebaliknya.

Sebelumnya, Indonesia juga telah memiliki perjanjian ekstradisi dengan enam negara Asia yaitu Malaysia, Filipina, Thailand, Australia, Hong Kong, dan Korea Selatan.

Apa Itu Perjanjian Ekstradisi?

Perjanjian ekstradisi ada dalam hukum internasional. Ekstradisi adalah proses di mana satu negara dapat meminta orang yang menurut hukumnya dinilai melakukan kejahatan walaupun pihak yang terlibat sedang berada di luar negeri.

Perjanjian ekstradisi umumnya menjadi fondasi suatu negara untuk meminta pemulangan seorang tersangka yang berada atau ditahan di negara lain.

Individu yang diekstradisi memiliki dakwaan atas kejahatan namun belum diadili. Sedangkan orang yang telah diadili namun berhasil kabur dari penahanan akan dihukum secara in absentia dan masuk ke dalam kategori ektradisi.

Adapun, ekstradisi dapat dipandang sebagai sebuah proses saat satu negara menangkap dan mengirim seseorang ke negara lain. Hal ini dilakukan untuk penuntutan pidana atau menjalani hukuman penjara.

Permulaan Perjanjian Ekstradisi Indonesia dan Singapura

Perjanjian ekstradisi Indonesia dan Singapura diawali karena banyaknya buronan koruptor Indonesia yang lari ke Singapura.

Buronan-buronan Indonesia yang kabur ke Singapura antara lain Sjamsul Nursalim, yang kini sudah bukan berstatus tersangka kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) lagi. Samadikun Hartono, tersangka korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Bank Modern yang telah ditangkap; Sudjiono Timan tersangka korupsi BPUI yang kini sudah dibebaskan dari tuduhan dugaan korupsi; dan tersangka korupsi Cassie Bank Bali, Djoko S Tjandra yang kini sudah ditangkap.

Alasan para koruptor tersebut kabur ke Singapura karena belum adanya perjanjian ekstradisi antara kedua negara tersebut.

Nyatanya Indonesia dan Singapura telah merintis perjanjian ekstradisi sejak 1972 namun pembahasannya baru dimulai sejak 2004 lalu. Pembahasan rancangan perjanjian ekstradisi antara keduanya tidak berjalan mulus.

Hal ini menyebabkan kedua negara tersebut baru menandatanganinya pada 27 April 2007 di Bali. Walupun telah ditandatangani perjanjian tersebut belum dapat berjalan efektif karena menunggu ratifikasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI).

Selain itu menurut Kementerian Luar Negeri RI menjelaskan perjanjian ekstradisi juga memicu perdebatan panas di DPR. Sebabnya perjanjian itu harus disepakati dengan perjanjian kerja sama pertahanan (DCA).

Adapun permintaan Singapura dalam DCA adalah meminta sebagian wilayah perairan dan udara di sekitar Sumatera dan Kepulauan Riau dapat digunakan untuk latihan militer. Perdebatan tersebut menyababkan proses ratifikasi perjanjian ekstradisi dan DCA antara RI dan Singapura tidak kunjung disetujui DPR saat itu.

Selama ini, Singapura menyatakan jika keputusan akhir perjanjian ekstradisi keduanya ada di tangan Indonesia.



Simak Video "Kesepakatan-kesepakatan RI-Singapura: FIR Sampai Ekstradisi"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia