Waktu Tunggu Ibadah Haji Lama, Gimana Solusinya? Ini Kata Pakar Unair

Anatasia Anjani - detikEdu
Minggu, 23 Jan 2022 12:00 WIB
Masjidil Haram di Mekah dibuka dalam kapasitas penuh, dua WNI termasuk di antara ribuan jemaah pertama yang masuk - menangis, merinding
Foto: BBC World
Jakarta -

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima. Oleh karena itu merupakan kewajiban bagi yang mampu. Pelaksanaan haji untuk masyarakat Indonesia sendiri memiliki dua hal kendala yaitu waktu tunggu yang lama serta biaya yang relatif tinggi.

Untuk itu, Ketua Program Studi Doktor Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga, Raditya Sukmana memberikan solusi untuk permasalahan haji di Indonesia. Solusi tersebut ia sampaikan dalam diskusi dan bedah buku bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), hari Rabu (19/01/2022).

Radit menjelaskan jika waktu tunggu ibadah haji tiap negara di dunia berbeda. Misalnya saja di Indonesia dan Amerika.

"Kalau di Indonesia, orang yang berhaji harus menunggu sekitar 30 tahun. Tapi kalau di Amerika, bisa 0 tahun yang artinya tidak perlu menunggu lama," ujar Radit yang dikutip dari laman Unair.

Selain itu ada beberapa faktor yang menjadi penyebab lamanya waktu tunggu keberangkatan haji. Faktor itu yaitu terbatasnya fasilitas dan jumlah calon jamaah yang banyak.

"Karena fasilitasnya di Mekah itu juga terbatas. Tapi antrean daftar tunggunya mencapai 5,5 juta orang sehingga kemudian waktu tunggu keberangkatan haji menjadi meningkat. Lain halnya dengan di Amerika yang mungkin jumlah penduduk muslimnya tidak sebanyak Indonesia," kata Radit.

Menurut Radit ada solusi untuk masalah ini. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi waktu tunggu keberangkatan haji di Indonesia.

"Kita bisa merevisi rumus kuota per negara. Misalnya yang kiranya seimbang dengan jumlah pendaftar haji. Untuk mencapai solusi tersebut ya tentu pemerintah Indonesia harus melobi Arab Saudi sebagai tempat dilaksanakannya haji itu," ujar Radit.

Adapun solusi selanjutnya yaitu memperbaiki fasilitas haji yang ada di Mekah. Hal ini dikarenakan Mekah merupakan lokasi penyelenggaraan ibadah haji.

"Pembangunan Masjidil Haram bisa dibuat setinggi Menara Zam-Zam, pengadaan transportasi publik seperti kereta api untuk internal Mekkah dan antar kota, serta pemanfaatan lahan kosong di Jeddah atau Mekkah guna akomodasi jamaah. Mengenai dana ya bisa bersumber dari negara lain," kata Radit.

Untuk biaya haji di Indonesia sendiri terbagi menjadi dua yaitu reguler dan haji plus. Biaya haji reguler mendapatkan subsidi dari pemerintah sebesar 30 juta yang awalnya 70 juta. Jadi calon jamaah haji hanya membayar 40 juta.

Adapun untuk haji plus dikenakan biaya 70 juta. Hal itu dengan waktu tunggu keberangkatan yang lebih singkat dibandingkan reguler.

"Biaya ibadah haji yang tinggi itu solusinya ada dua. Yakni dinaikkan secara berkala dan kuota haji reguler hanya untuk masyarakat tidak mampu," kata Radit.



Simak Video "Wacana Ibadah Haji Lewat Metaverse, Apakah Sah?"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia