7 Kebiasaan di Sekolah dan Kampus yang Menghambat Kamu Jadi Orang Kaya

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 18 Jan 2022 17:00 WIB
pinjam online
Ilustrasi kebiasaan yang menghambat siswa dan mahasiswa jadi orang kaya. Foto: Fauzan Kamil/Infografis detikcom
Jakarta -

Perilaku sehari-hari bisa dipupuk jadi kebiasaan, termasuk kebiasaan negatif. Nah, kebiasaan negatif di bangku sekolah dan di kampus bisa menghambat kamu untuk mencapai kemakmuran setelah dewasa dan tua.

Untuk jadi sukses dan kaya, kebiasaan tersebut harus diketahui dan dihindari siswa dan mahasiswa sejak dini. Berikut kebiasaan yang menghambat jadi orang kaya.

Kebiasaan yang menghambat jadi orang kaya

1. Tidak menabung

Tidak selamanya orang tua bisa memberikan uang saku seperti di sekolah dan semasa kuliah. Kendati sudah bekerja dan mendapatkan uang, menabung juga perlu untuk mengantisipasi kebutuhan tidak terduga di masa mendatang, dana darurat ketika sakit, terkena kemalangan, atau putus kerja, dan menghindari pinjaman berbunga besar jika sewaktu-waktu butuh dana, seperti dikutip dari Financial Post.

Menabung sejak dini juga punya pengaruh jangka panjang, contohnya untuk mencapai financial freedom dan mencukupi dana pensiun di usia 40 hingga 60-an. Seperti kebiasaan lainnya, kebiasaan menabung butuh waktu untuk melekat pada keseharian seseorang. Karena itu, lebih baik membiasakan diri menabung sejak dini agar dapat terbiasa untuk memenuhi tujuan jangka panjang tersebut.

2. Tidak memantau pengeluaran

Uang buku soal, salinan catatan, alat-alat tambahan kadang dibutuhkan di luar uang kuliah atau sekolah dan uang buku per semester yang sudah direncanakan. Semasa sekolah, bisa jadi siswa dapat meminta uang untuk keperluan ini pada orang tua. Namun, kebutuhan tambahan ini umumnya juga ada di masa kuliah dan kerja.

Contoh, kebutuhan alat gambar tambahan untuk anak jurusan DKV, dan ongkos perjalanan sampai konsumsi untuk tugas-tugas lapangan. Di samping itu, wancana student loan untuk calon mahasiswa juga merupakan dana yang perlu disisihkan ketika sudah menjadi karyawan atau wirausahawan. Nah, agar tidak terjebak dengan utang dan pinjaman untuk menutupi pengeluaran tambahan, biasakan untuk menabung dan mencatat kebutuhan yang sedang dan akan muncul.

3. Menghabiskan uang untuk kesenangan sementara

"Masa sudah capek-capek hari ini, enggak boleh menyenangkan diri sedikit?" Pemikiran seperti ini kadang timbul saat sudah belajar dan mengerjakan tugas seharian. Nah, tidak apa-apa jika ingin menyenangkan diri jika uang saku mencukupi untuk hari ini dan hari-hari ke depan. Tetapi, pastikan untuk tetap dapat menabung dan membiasakan diri dengan alternatifnya yang lebih murah dan tidak kalah menyenangkan, seperti dikutip dari Insider.

Contoh, tidak masalah jika hari ini pulang kemalaman dan sudah cramming seharian lalu ingin menggunakan fasilitas kendaraan online dan pesan antar. Nah, di hari lain, coba untuk gunakan kendaraan umum dan membawa bekal atau makan masakan dari rumah.

4. Menggunakan paylater untuk pengeluaran sehari-hari

Fasilitas kredit paylater dan kartu kredit dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak. Namun, jika digunakan terus-menerus untuk kebutuhan sehari-hari, maka siswa dan mahasiswa bisa terbiasa membeli dan membayar sesuatu dengan uang yang sebenarnya belum kamu punya.

Kendati mungkin di awal bulan atau di awal minggu akan dapat kiriman dari orang tua atau gaji dari kerja sambilan, akan muncul kebiasaan berutang. Di samping itu, akan sulit jika orang tua mendadak tidak dapat lagi mengirimkan uang sesuai yang diharapkan untuk membayar utang, atau jika tiba-tiba kamu diberhentikan dari kerja paruh waktu tersebut.

5. Ikut-ikut pengeluaran teman

Kamu tidak harus ikut-ikut membeli binder dan tablet terbaru jika teman di sekolah dan kampus membelinya. Prinsip ini juga berlaku untuk pemilihan kosan, pakaian, makanan, smartphone, laptop, dan semua hal lain yang digunakan teman-teman di lingkunganmu.

Peer pressure atau tekanan sosial kadang terjadi di tengah lingkungan sekolah dan kuliah sehingga seorang siswa atau mahasiswa mengubah perilaku, nilai, dan sikap agar sesuai dengan orang-orang yang mempengaruhinya. Karena itu, berhati-hatilah dengan teman, idola, atau orang-orang dengan gaya konsumsi yang ingin kamu tiru. Tanyakan kembali, apakah kamu akan membeli sesuatu karena butuh, atau hanya karena ingin.

6. Terlalu bergantung pada bantuan orang tua

Hanya karena orang tua sayang, bukan berarti beliau harus menyokong kebutuhan keuangan kamu selamanya. Setelah lulus, kamu bisa mencari kerja atau mengembangkan usaha. Di fase ini, mungkin orang tuamu masih akan membantu membayarkan uang makan dan kebutuhan lainnya. Nah, setelah kamu mulai menerima pendapatan yang lebih stabil, maka kamu bisa mulai menata keuangan sendiri untuk mandiri dan bebas dari bantuan orang tua.

7. Tidak belajar keuangan

Belajar keuangan bukan cuma untuk siswa dan mahasiswa ekonomi, tetapi pengetahuan dasar semua orang. Sisihkan waktu untuk mempelajari topik-topik keuangan pribadi. Belajar dari konsep-konsep dasar, lalu cek konten-konten yang menyediakan saran dan pengelolaan keuangan sehari-hari.

Selagi masih sekolah dan kuliah, ada waktu untuk mulai membiasakan kebiasaan menabung dan mengelola keuangan secara mandiri. Yuk, biasakan diri untuk menghindari kebiasaan yang menghambat jadi orang kaya, ya!



Simak Video "Yang Beda dari Pelatihan Seniman Indonesia Menuju Broadway 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia